PEMALANG, KANALPLUS.ID – Krisis air bersih yang melanda Kabupaten Pemalang terus meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang mencatat sekitar 93 ribu kepala keluarga (KK) di tujuh kecamatan terdampak kekeringan dan berpotensi mengalami kesulitan memperoleh air bersih hingga Oktober mendatang.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pemalang Agus Ikmaludin mengatakan pemerintah daerah telah menetapkan status darurat kekeringan setelah hujan tidak lagi turun dalam sepekan terakhir.
Bersama PMI, Perumda Air Minum Tirta Mulia dan berbagai komunitas relawan, BPBD kini melakukan dropping air secara masif ke wilayah-wilayah terdampak.
“Setiap hari BPBD, kemudian PMI, PDAM, juga para relawan sudah masif memberikan dropping air kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Agus kepada wartawan, Minggu (12/7/2026).
Menurutnya, berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau tahun ini berlangsung sejak Juli hingga Oktober. Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September.
Ia menyebut kondisi tahun 2026 lebih berat dibandingkan musim kemarau pada 2024 maupun 2025.
“Tahun 2026 ini musim keringnya lebih panjang dan lebih kering daripada tahun 2024 dan 2025,” ujarnya.
Adapun tujuh kecamatan yang menjadi daerah langganan kekeringan meliputi Pulosari, Belik, Watukumpul, Bodeh, Bantarbolang, Randudongkal dan sebagian wilayah Kecamatan Moga. Sebagian besar kawasan tersebut berada di daerah perbukitan yang hingga kini masih mengandalkan tampungan air hujan.
Saat musim kemarau berkepanjangan, lanjut dia, cadangan air di tandon warga habis sehingga kebutuhan sehari-hari hanya dapat dipenuhi melalui distribusi air bersih.
“Yang sangat dibutuhkan saat ini air. Tandon warga sudah tidak bisa diisi karena kekeringan sehingga harus kita fasilitasi dengan dropping air,” jelas Agus.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD menyalurkan sekitar 60 ribu liter air bersih setiap hari. Distribusi tersebut diperkuat PMI sekitar 20 ribu liter dan Perumda Air Minum sekitar 20 ribu liter, sehingga total pasokan yang dikirim ke daerah terdampak mendekati 100 ribu liter per hari.
Meski tujuh kecamatan masuk kategori rawan kekeringan, saat ini distribusi air masih diprioritaskan ke Kecamatan Pulosari dan Belik karena kebutuhan masyarakat di dua wilayah tersebut dinilai paling mendesak.
Agus menjelaskan, wilayah Pulosari hingga kini belum dapat terlayani jaringan air perpipaan karena kondisi topografi yang berada di kawasan pegunungan. Selain itu, dampak banjir bandang beberapa waktu lalu juga mengubah kondisi lahan sehingga semakin menyulitkan penyediaan sumber air.
Sementara itu, di lapangan warga masih bergantung pada bantuan air maupun membeli air tangki secara mandiri. Seperti yang dialami warga Desa Pulosari yang telah merasakan krisis air selama sekitar dua bulan terakhir.
Sebagian warga harus membeli satu tangki air seharga sekitar Rp250 ribu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga ketika bantuan belum datang.
Selain BPBD, berbagai organisasi kemanusiaan juga ikut membantu penanganan kekeringan. Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PDM Pemalang kembali menggelar program dropping air bersih yang telah rutin dilakukan selama lima tahun terakhir.
Pada musim kemarau tahun lalu, organisasi tersebut berhasil menyalurkan sekitar 1 juta liter air bersih kepada masyarakat terdampak dan menargetkan jumlah serupa pada tahun ini.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












