Ahli Hukum di Sidang Gacon Tegaskan Perampasan Kemerdekaan Tak Harus Berjam-jam, Hitungan Menit Bisa Penuhi Unsur Pidana

- Jurnalis

Rabu, 24 Juni 2026 - 19:01 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sidang lanjutan kasus Gacon alias Purwandi di PN Pekalongan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli berlangsung, Rabu (24/6/2026).

Sidang lanjutan kasus Gacon alias Purwandi di PN Pekalongan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli berlangsung, Rabu (24/6/2026).

PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Sidang perkara dugaan perampasan kemerdekaan terhadap Purwandi alias Gacon di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan menghadirkan pandangan menarik dari saksi ahli hukum pidana yang menegaskan bahwa seseorang dapat menjadi korban perampasan kemerdekaan meski hanya dalam waktu singkat.

Penjelasan itu disampaikan pakar hukum Dr. Unggul Basoeky saat memberikan keterangan sebagai saksi ahli melalui sambungan Zoom dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Ardhianti Prihastuti bersama hakim anggota Veni Wahyu Mustika Rini dan Rino Ardian Wigunadi.

Dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) meminta penjelasan mengenai unsur-unsur tindak pidana perampasan kemerdekaan sebagaimana diatur dalam KUHP Nasional.

Menjawab pertanyaan tersebut, saksi ahli menjelaskan bahwa Pasal 446 KUHP tidak mengatur batas waktu tertentu seseorang harus ditahan atau dibatasi kebebasannya agar dapat dikategorikan sebagai korban perampasan kemerdekaan.

“Delik tentang kebebasan atau kemerdekaan seseorang itu tidak dibatasi oleh jangka waktu. Sejak seseorang kehilangan kebebasannya dalam menentukan tindakan atau bergerak, maka unsur perampasan kemerdekaan dapat dianggap telah terpenuhi,” ujar Unggul, Rabu (24/6/2026).

Baca Juga :  Gara-gara Sebut Tetangga Kumpul Kebo, Ibu Rumah Tangga di Wiradesa Divonis Penjara

Menurutnya, tindak pidana tersebut merupakan delik formil sehingga fokus utama bukan pada lamanya waktu korban dibatasi, melainkan pada adanya tindakan yang menghilangkan atau menghalangi kebebasan seseorang secara melawan hukum.

Ahli menerangkan, bentuk perampasan kemerdekaan dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti menahan, menyekap, mengurung, menekan, maupun tindakan lain yang membuat seseorang tidak lagi bebas menentukan gerak dan tindakannya.

“Undang-undang tidak menyebut harus satu jam, dua jam atau sehari. Sepanjang kebebasan seseorang sudah hilang atau terhalangi secara melawan hukum, unsur tersebut dapat terpenuhi,” katanya.

Dalam keterangannya, saksi ahli juga menjelaskan perbedaan antara tindak pidana perampasan kemerdekaan dan penculikan. Menurutnya, perampasan kemerdekaan merupakan delik umum yang diatur dalam Pasal 446 KUHP, sedangkan penculikan merupakan bentuk khusus atau lex specialis yang mensyaratkan adanya unsur membawa seseorang dari satu tempat ke tempat lain untuk menempatkannya dalam kekuasaan pelaku secara melawan hukum.

Baca Juga :  Wisuda Kedua TMU, Rektor Paparkan Strategi Menuju Kampus Berdaya Saing Global

Keterangan ahli tersebut menjadi salah satu materi penting dalam sidang perkara yang menjerat terdakwa Dwi Hendratno alias Duel terkait dugaan perampasan kemerdekaan terhadap Purwandi alias Gacon yang terjadi pada November 2024 lalu.

Dalam persidangan, tim penasihat hukum terdakwa sempat mempertanyakan tidak adanya batas waktu dalam ketentuan tersebut. Namun ahli tetap berpendapat bahwa pembentuk undang-undang sengaja tidak mencantumkan batas waktu karena hak atas kebebasan merupakan hak konstitusional yang harus dilindungi negara.

“Perintah konstitusi jelas, setiap orang berhak atas rasa aman dan kebebasan. Karena itu undang-undang tidak memberikan toleransi terhadap tindakan yang menghilangkan kebebasan orang lain secara melawan hukum, berapa pun lamanya,” tegasnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perumdam Tirta Kajen Wacanakan Sistem Genap Ganjil untuk Atasi Krisis Debit Air
PDAM Pekalongan Atasi Gangguan Air Valve di Lima Titik, Debit Air ke Pelanggan Meningkat
Dindik Pekalongan Sebut Lima Anak Terlibat Dugaan Perundungan SDN Langkap 2 Diminta Tanggung Biaya Pengobatan Korban
Siswa SD di Pekalongan Diduga Alami Perundungan, Keluarga Ungkap Kondisi Anak Memburuk
Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih
Bantuan Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan di Kabupaten Pekalongan Tembus Jutaan Liter
Tiap Tahun Kekeringan, Warga Kesesi Lega Dibantu 18 Ribu Liter Air Bersih
Donasi Gempa NTT dari Pekalongan Tembus Rp127 Juta, Rp60 Juta Sudah Disalurkan

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Perumdam Tirta Kajen Wacanakan Sistem Genap Ganjil untuk Atasi Krisis Debit Air

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:03 WIB

PDAM Pekalongan Atasi Gangguan Air Valve di Lima Titik, Debit Air ke Pelanggan Meningkat

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:12 WIB

Dindik Pekalongan Sebut Lima Anak Terlibat Dugaan Perundungan SDN Langkap 2 Diminta Tanggung Biaya Pengobatan Korban

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:08 WIB

Siswa SD di Pekalongan Diduga Alami Perundungan, Keluarga Ungkap Kondisi Anak Memburuk

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:55 WIB

Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih

Berita Terbaru