Cerita Pilu Lansia Sebatang Kara di Kota Pekalongan, Andalkan Dapur MBG dan Food Bank untuk Bertahan Hidup

- Jurnalis

Jumat, 10 Juli 2026 - 14:27 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Muhammad Nur (87) lansia sebatang kara yang menggantungkan hidup dari MBG dan Food Bank di rumahnya, Jumat (10/7/26).

Muhammad Nur (87) lansia sebatang kara yang menggantungkan hidup dari MBG dan Food Bank di rumahnya, Jumat (10/7/26).

KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Ada rutinitas yang tiap pagi selalu dilakukan Muhammad Nur, seoarang lansia sebatang kara yang tinggal di Kelurahan Bendan Kergon, Kota Pekalongan. Di usia 87 tahun, ia tidak sedang berangkat bekerja atau membuka warung seperti puluhan tahun lalu. Ia berjalan menuju Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang lokasinya tak jauh dari rumahnya dan berharap bisa membawa pulang sebungkus makanan untuk sarapan.

Rumah yang ditempati Nur merupakan bangunan bekas warung kelontong. Dulu, warung itu menjadi tempat ia dan istrinya mencari nafkah. Kini, sebagian ruang di dalamnya dipenuhi barang-barang lama, pakaian, perabot, serta pecah belah yang tidak lagi banyak diminati pembeli.

“Jadi kalau dapur MBG sudah buka, setiap pagi saya datangi. Jam tujuh sudah ke sana untuk mendapatkan makanan yang selalu saya bawa pulang,” kata Nur mengawali cerita, Jumat (10/7/2026).

Setelah sarapan dari bantuan MBG, ia menunggu siang. Sekitar pukul 11.00 WIB, ia datang ke kantor Kelurahan Bendan Kergon untuk mengambil makanan dari food bank. Dua bantuan makanan itu menjadi penyangga utama hidupnya.

“Kalau pagi dari MBG, kalau siang dari food bank di kelurahan dan kalau malam, makan seadanya bila ada yang dimakan,” ujarnya.

Bagi sebagian orang, satu bungkus nasi mungkin hanya menu makan biasa. Namun bagi Nur yang tidak mempunyai penghasilan, bantuan itu membuatnya tidak perlu memikirkan uang untuk membeli sarapan dan makan siang pada hari yang sama.

Ketika Dapur MBG tutup, keadaan berubah. Ia harus mengeluarkan uang untuk membeli makanan pagi. Dalam kondisi tidak memiliki penghasilan tetap, pengeluaran beberapa ribu rupiah pun menjadi beban yang harus dihitung.

“Kalau MBG libur, terasa sekali. Untuk sarapan harus beli sendiri. Kadang keluar Rp4.000,” katanya pelan.

Nur sudah lama tinggal di kawasan Bendan Kergon. Ia pindah ke rumah warisan orang tuanya sejak beberapa tahun lampau, Sebelumnya, ia tinggal di wilayah Jalan Jawa dan pernah menjalani hidup berpindah dengan bekerja di berbagai tempat.

Ia pernah merantau, menjadi kuli batu, bekerja di bidang administrasi, hingga menjadi tukang sablon. Pekerjaan menyablon menjadi salah satu pekerjaan yang cukup lama digelutinya, sebelum usia dan tenaga membuatnya tidak lagi mampu bekerja seperti dulu.

“Kerja sablon itu berat. Butuh tenaga. Kadang ada pekerjaan, kadang dua bulan tidak ada,” tuturnya.

Pada 1987, Nur bersama istrinya membuka warung kelontong. Warung itu pernah menjadi tumpuan hidup keluarga. Namun, setelah istrinya meninggal sekitar 2018, ia tidak lagi sanggup mengurus usaha tersebut seorang diri.

Baca Juga :  Dilema Perpustakaan Kota Pekalongan di Tengah Efisiensi Anggaran

Barang dagangan yang tersisa perlahan habis. Sebagian dijual untuk membeli makan. Barang pecah belah peninggalan orang tua seperti pakaian, hingga perabot rumah tangga pernah ia tawarkan kepada orang yang datang.

“Kadang jual barang kecil-kecilan. Kalau tidak ada uang, ya bingung untuk makan. Yang bisa dijual sekarang sudah sedikit sekali,” katanya.

Nur mengaku tidak memiliki anak kandung. Ia dulu pernah ikut membesarkan lima anak dari kerabat. Namun, kini tidak ada yang datang secara rutin untuk merawat atau memenuhi kebutuhannya.

“Saya sebatang kara. Saudara memang masih ada jauh di luar kota tetapi sudah tua semua. Kadang-kadang masih ada kabar yang ia terima, namun sekarang sudah tidak ada lagi kabar,” keluhnya.

Di rumah, Nur masih berusaha mengurus dirinya sendiri. Ia memiliki kompor gas kecil untuk memanaskan air. Pagi dan sore, air panas itu ia gunakan untuk membuat teh atau kopi.

Untuk memasak makanan, ia mengaku tidak lagi sering melakukannya. Selain karena tidak selalu memiliki bahan makanan, kemampuan fisiknya juga tidak seperti dahulu. Pakaian kotor kadang menumpuk karena ia tidak kuat mencuci dalam jumlah banyak.

“Kalau membuat air untuk kopi atau teh masih bisa. Kalau mencuci sudah tidak kuat seperti dulu,” terangnya.

Nur mengaku masih berusaha makan tiga kali sehari dengan makanan seadanya. Saat tidak mendapat bantuan, ia membeli nasi, lontong atau makanan murah dari sekitar rumah. Uang untuk itu diperoleh dari menjual barang sisa atau pemberian orang.

Ia juga pernah menerima beras dari kelurahan. Namun, bantuan itu tidak selalu bisa diandalkan untuk seluruh kebutuhan harian, terutama karena ia tinggal sendiri dan tidak selalu memasak.

“Kadang diberi beras. Kalau tidak bisa masak, ya dijual untuk beli makan,” ucapnya.

Di tengah kebutuhan makan yang terus berjalan, Nur sempat memikirkan menjual rumah yang kini ditempatinya. Bukan karena ingin pindah ke tempat yang lebih baik, melainkan untuk memperoleh uang.

“Kalau rumah dijual, ya untuk makan. Tapi nanti tinggal di mana, itu yang saya pikirkan,” tuturnya.

Nur mengaku memiliki seorang adik yang tinggal di Purwokerto. Namun, rencana untuk tinggal bersama keluarga itu belum pernah benar-benar diputuskan. Usia, kondisi kesehatan, serta keterbatasan komunikasi membuatnya ragu untuk pergi jauh.

Hari-hari Nur kemudian kembali pada rutinitas yang sama. Pagi menunggu Dapur MBG buka. Siang berharap ada makanan dari food bank. Jika dua bantuan itu tidak tersedia, ia mencari cara lain agar tetap bisa makan seperti datang ke antor kelurahan di mana Lurah Bendan Kergon kerap memberinya uang untuk makan.

Baca Juga :  Paguyuban Mitra MBG Kota Pekalongan Bantah Ajakan Long March 8 Juli, Klaim 8.000 Peserta Disebut Hoaks

Pada usia ketika banyak orang menikmati hari tua bersama keluarga, Muhammad Nur menjalani hidup seorang diri di rumah bekas warung kelontong. Ia tidak meminta banyak. Ia hanya ingin tetap bisa makan dan menjalani hari tanpa harus menjual satu per satu barang terakhir yang tersisa di rumahnya.

Kondisi memprihatinkan yang dialami Muhammad Nur dibenarkan Lurah Bendan Kergon, Achmad Machmudin yang menyatakan kelurahan telah mengetahui keadaan warganya tersebut dan berupaya mencarikan jalur bantuan. Selama ini, bantuan yang paling rutin diterima Nur adalah makanan dari MBG dan food bank.

“Jadi memang sementara ini beliau mengandalkan bantuan dari dapur MBG dan food bank. Selain itu tidak ada penghasilan tetap,” terang Achmad.

Menurut Achmad, kondisi Nur menjadi perhatian karena ia hidup sendiri, tidak bekerja dan sudah berusia lanjut. Namun, status data kesejahteraannya masih menjadi kendala untuk masuk dalam penerima bantuan sosial reguler.

Berdasarkan pengecekan kelurahan, Nur tercatat pada desil 6. Posisi tersebut membuatnya belum masuk kelompok prioritas bantuan yang umumnya menyasar warga pada kelompok ekonomi terbawah.

“Kondisi beliau sebenarnya memprihatinkan, tetapi dalam data desilnya masih tinggi. Kami sedang mengupayakan pembaruan data bersama Dinas Sosial,” beber Achmad.

Ia menjelaskan, sistem pendataan kesejahteraan menggunakan sejumlah indikator. Bukan hanya pendapatan dan kondisi warga saat ini, tetapi juga kondisi fisik rumah, kepemilikan aset serta data administrasi yang terhubung dengan identitas kependudukan.

Dalam kasus Nur, kelurahan menemukan adanya lebih dari satu rekening listrik yang terdeteksi dalam data. Rumah yang ditempati Nur merupakan rumah warisan yang sebelumnya terbagi dalam beberapa bagian. Selain itu, bangunan rumah masih terlihat permanen dan berlantai keramik.

“Dari luar rumahnya memang tidak tampak seperti rumah tidak layak huni. Tetapi kalau melihat kondisi beliau di dalam, beliau sangat membutuhkan. Dulu mungkin pernah mampu, sekarang sudah berbeda,” jelasnya.

Kelurahan telah mengupayakan pembaruan data agar kondisi Nur saat ini dapat tercatat secara lebih sesuai. Selain itu, pengajuan bantuan melalui Baznas dan jalur lain juga terus diupayakan.

“Jadi adanya MBG dan relawan dari Food Bank ini sangat membantu kebutuhan dasar ketika upaya lain masih dilakukan,” tutupnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Duta Besar Belanda Sanjung Green Batik Pekalongan sebagai Inovasi Berbasis Tradisi
Green Batik Pekalongan Diperkenalkan Lewat Pameran di Museum Batik, Duta Besar Belanda Hadir Langsung
Jabatan Strategis Asisten Administrasi Umum Lowong, Pemkot Pekalongan Terapkan Manajemen Talenta
Purna Tugas, 22 ASN Pemkot Pekalongan Diminta Tetap Aktif di Masyarakat
Percepat Penurunan Prevalensi Bayi Stunting, Pemkot Pekalongan Salurkan Bantuan Beras Premium
Investasi ke Guru PAUD, Pemkot Pekalongan Beri Beasiswa S-1
Perkuat Pendidikan Sejak Usia Dini, Kota Pekalongan Wajibkan Belajar 13 Tahun
Heritage Fun Bike PWI Pekalongan Padukan Olahraga, Wisata dan Pelajaran Sejarah

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:51 WIB

Duta Besar Belanda Sanjung Green Batik Pekalongan sebagai Inovasi Berbasis Tradisi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 22:26 WIB

Green Batik Pekalongan Diperkenalkan Lewat Pameran di Museum Batik, Duta Besar Belanda Hadir Langsung

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:46 WIB

Jabatan Strategis Asisten Administrasi Umum Lowong, Pemkot Pekalongan Terapkan Manajemen Talenta

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:01 WIB

Purna Tugas, 22 ASN Pemkot Pekalongan Diminta Tetap Aktif di Masyarakat

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:38 WIB

Percepat Penurunan Prevalensi Bayi Stunting, Pemkot Pekalongan Salurkan Bantuan Beras Premium

Berita Terbaru