PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Jembatan Gantung Garuda Merah Putih yang baru diresmikan di Desa Galangpengampon, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan berpotensi memunculkan satu persoalan baru. Di balik antusiasme warga menyambut akses penghubung baru tersebut, mencuat wacana penempatan kotak amal untuk biaya pemeliharaan jembatan.
Warga Desa Galangpengampon, Taufik (55), mengatakan masyarakat pada dasarnya menyambut baik apabila ada kotak amal yang digunakan untuk membantu perawatan jembatan. Namun, pengelolaannya harus dilakukan secara terbuka dan dikoordinasikan oleh pemerintah desa.
“Setuju, tapi dengan catatan harus dikoordinasikan dengan baik, jangan sampai disalahgunakan. Mudah-mudahan uang itu benar-benar bermanfaat untuk pemeliharaan jembatan,” ujar Taufik kepada kanalplus.id, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, hasil rembuk warga mengarah pada penempatan satu kotak amal di sisi Dukuh Sibetok. Warga yang melintas dari kedua arah nantinya dapat memberikan sumbangan secara sukarela di titik tersebut.
“Satu kotak saja, letaknya di Sibetok. Sifatnya sukarela, mau memberi berapa terserah,” katanya.
Taufik meyakini keberadaan satu titik kotak amal dapat menghindari potensi rebutan pengelolaan antara warga di kedua sisi jembatan.
“Insyaallah tidak ada persoalan. Dengan kesadaran masyarakat bersama-sama, mudah-mudahan jembatan ini bisa terpelihara,” harapnya.
Sementara itu Ketua DPR Kabupaten Pekalongan, Abdul Munir mengingatkan agar langkah penyediaan kotak amal tersebut tidak berubah menjadi pungutan liar (pungli) yang membebani masyarakat.
Menurutnya, hingga kini mekanisme pendanaan untuk pemeliharaan jembatan masih dibahas bersama pemerintah desa dan masyarakat.
“Tarikan itu sedang kami koordinasikan agar masyarakat tidak terbebani oleh iuran yang bisa memberatkan,” terangnya.
Ia menegaskan, persoalan utama yang harus dipikirkan bukan sekadar menarik sumbangan, melainkan memastikan sumber biaya pemeliharaan jembatan dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Nanti harus dipikirkan apakah biaya perawatan berasal dari anggaran desa, dari iuran masyarakat atau dari pengguna yang melintas, tetapi dengan catatan tadi, tidak memberatkan masyarakat,” sebutnya.
Jembatan Garuda Merah Putih yang membentang di atas Sungai Sengkarang itu baru saja diresmikan sebagai akses penghubung Dukuh Galang Wolu dan Dukuh Sibetok setelah jembatan lama putus akibat banjir. Kini, setelah persoalan keterisolasian teratasi, tantangan berikutnya adalah memastikan jembatan tetap terawat tanpa menimbulkan polemik baru terkait pengelolaan biaya pemeliharaan.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












