TEGAL, KANALPLUS.ID – Mulai tahun ajaran 2026/2027, siswa SD dan SMP di wilayah eks Karesidenan Pekalongan tidak hanya belajar mata pelajaran umum di kelas. Mereka juga akan mulai dikenalkan pada isu-isu yang selama ini identik dengan dunia orang dewasa, seperti inflasi, perlindungan konsumen, keamanan transaksi digital, hingga pentingnya menjaga dan mencintai Rupiah.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi ekonomi dan keuangan sejak usia sekolah. Sebagai persiapan, Bank Indonesia Tegal melatih 400 guru SD dan SMP dari Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Pemalang agar mampu mengintegrasikan materi tersebut ke dalam kegiatan pembelajaran.
Program ini merupakan tindak lanjut kerja sama Bank Indonesia Tegal dengan pemerintah daerah di tujuh kabupaten dan kota se-eks Karesidenan Pekalongan yang telah dibangun sejak 2025.
Melalui skema tersebut, materi Peduli Inflasi, Perlindungan Konsumen, serta Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah akan diperkenalkan kepada peserta didik melalui pendekatan yang disesuaikan dengan usia dan jenjang pendidikan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Bimala, menilai sekolah menjadi tempat yang strategis untuk menanamkan pemahaman ekonomi sejak dini. Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti berbelanja secara bijak, memahami keamanan transaksi, hingga menjaga kerahasiaan data pribadi perlu dikenalkan sejak usia sekolah.
“Guru bukan hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan dan karakter peserta didik dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Masuknya materi ekonomi ke ruang kelas dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital dalam aktivitas masyarakat. Anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan transaksi non-tunai, belanja daring, hingga penggunaan berbagai aplikasi digital.
Karena itu, pemahaman mengenai hak konsumen, keamanan transaksi, serta cara mengelola perilaku konsumsi menjadi bekal yang dianggap penting untuk dimiliki sejak dini.
Selain itu, program tersebut juga diarahkan untuk menumbuhkan pemahaman mengenai fungsi dan peran Rupiah, termasuk pentingnya menjaga uang sebagai simbol kedaulatan negara.
Bank Indonesia berharap pendekatan melalui sekolah dapat memperluas jangkauan edukasi keuangan hingga ke lingkungan keluarga. Dengan demikian, pengetahuan yang diterima siswa di kelas dapat ikut memengaruhi kebiasaan masyarakat dalam bertransaksi, berbelanja, dan menggunakan layanan keuangan secara lebih bijak.
Ke depan, para guru yang telah mengikuti pelatihan diharapkan menjadi penggerak utama dalam mengenalkan literasi ekonomi kepada generasi muda, sehingga pemahaman tentang inflasi, perlindungan konsumen, dan penggunaan uang secara bertanggung jawab tidak lagi menjadi isu yang asing bagi pelajar.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









