Dari Gambar di Buku Menjadi Objek 3D, Guru SD di Kudus Ubah Cara Anak Belajar Matematika

- Jurnalis

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:49 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Guru di Kudus mengubah cara belajar matematika anak melalui teknologi Augmented Reality (AR) di mana bentuk-bentuk geometri dapat muncul sebagai objek tiga dimensi yang bisa diamati siswa menggunakan perangkat digital, Sabtu (1/8/26). Foto : Istimewa

Guru di Kudus mengubah cara belajar matematika anak melalui teknologi Augmented Reality (AR) di mana bentuk-bentuk geometri dapat muncul sebagai objek tiga dimensi yang bisa diamati siswa menggunakan perangkat digital, Sabtu (1/8/26). Foto : Istimewa

KUDUS, KANALPLUS.ID – Bangun ruang selama ini identik dengan gambar kubus, balok atau tabung di halaman buku pelajaran. Di SD Aisyiyah Multilingual Darussalam Kudus, cara belajar itu mulai diubah. Melalui teknologi Augmented Reality (AR), bentuk-bentuk geometri dapat muncul sebagai objek tiga dimensi yang bisa diamati siswa menggunakan perangkat digital.

Inovasi tersebut sedang disiapkan melalui pengembangan Ethno-BIAR atau Buku Interaktif Berbasis Augmented Reality yang memadukan teknologi dengan budaya lokal agar pelajaran matematika terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU), Fida Maisa Hana, mengatakan selama ini konsep bangun ruang sering kali masih bersifat abstrak bagi siswa sekolah dasar. Karena itu, media pembelajaran perlu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih nyata.

“Melalui media Ethno-BIAR, materi bangun ruang tidak hanya disajikan dalam bentuk teks dan gambar, tetapi juga diperkaya objek tiga dimensi berbasis Augmented Reality yang dapat diamati melalui perangkat digital,” ujarnya saat pelatihan guru, Sabtu (1/8/2026).

Baca Juga :  Ketum 'Aisyiyah Sebut Dakwah Tak Cukup Ceramah, Harus Hadir Menyelesaikan Masalah Keluarga

Yang menarik, teknologi tersebut tidak hanya menampilkan objek tiga dimensi. Materi matematika juga dikaitkan dengan budaya lokal melalui pendekatan etnomatematika. Guru didorong memilih benda-benda budaya yang akrab dengan kehidupan siswa sebagai media untuk memahami konsep geometri.

Dengan pendekatan itu, matematika diharapkan tidak lagi dipandang sebagai kumpulan rumus, melainkan ilmu yang dapat ditemukan dalam lingkungan sekitar.

Untuk mewujudkannya, para guru terlebih dahulu dibekali kemampuan membuat media pembelajaran digital. Mereka belajar menyusun konten, membuat objek tiga dimensi, hingga mengintegrasikan teknologi AR ke dalam buku interaktif.

Namun, proses transformasi tersebut tidak sepenuhnya mudah. Perbedaan kemampuan digital antar-guru masih menjadi tantangan utama.

“Kendala terbesar adalah kemampuan guru yang belum sama dalam mengembangkan objek tiga dimensi maupun mengoperasikan teknologi Augmented Reality,” kata Fida.

Selain kesiapan sumber daya manusia, sekolah juga masih menghadapi keterbatasan perangkat pendukung.

Kepala SD Aisyiyah Multilingual Darussalam Kudus, Rosiana, menilai teknologi AR mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik dibanding metode konvensional.

Baca Juga :  Imigrasi Semarang Deportasi 14 WNA dalam Enam Bulan, Mayoritas Asal China

“Pelatihan ini memberi pengalaman baru bagi guru untuk mengembangkan media pembelajaran yang lebih interaktif. Kami optimistis teknologi ini dapat membantu siswa memahami materi bangun ruang dengan lebih mudah,” ujarnya.

Meski demikian, penerapan media tersebut akan dilakukan secara bertahap sambil menyesuaikan kesiapan perangkat yang dimiliki sekolah maupun siswa.

Program pengembangan Ethno-BIAR merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kudus yang didukung Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.

Pendampingan kepada guru masih akan berlanjut pada 8 dan 15 Agustus mendatang. Tahapan berikutnya meliputi penyusunan konten, pembuatan objek AR, penyempurnaan buku interaktif, hingga uji coba di kelas.

Bila pengembangan berjalan sesuai rencana, siswa nantinya tidak lagi sekadar membayangkan bentuk kubus atau limas dari gambar di buku. Mereka dapat melihatnya hadir dalam bentuk tiga dimensi, sekaligus memahami bahwa konsep matematika juga hidup di tengah budaya dan lingkungan yang mereka kenal setiap hari.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Belasan Peserta Titip Ternak Klaim Rugi Rp1,7 Miliar, Kasus PT SPI Dilaporkan ke Polisi
Wali Kota Pekalongan di Mayors Talk Bogor: Kota Tangguh Bermula dari Integritas Moral Pemimpin
Akselerasi Kualitas Pendidikan, TMU Tegal Mantap Menuju Kampus Unggul di Tegal
SPTI Tolak Demo di KEK Kendal: Jangan Ganggu Investasi dan Rezeki Warga
Sewa Kios Pasar Mukti Makmur Cilacap Dipersoalkan, Pedagang Soroti Tarif hingga Dasar Penetapan
Pemuda Depresi Naik Menara BTS di Cilacap, Tim SAR Bujuk Pakai Rokok dan Makanan
Sehari Usai Disidak, Pabrik Bata Ringan di Banyumas Kembali Produksi
Rafas, Atlet Cilik Banjarnegara Bidik Timnas Usai Sabet Emas Tenis POPDA Jateng

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 17:07 WIB

Belasan Peserta Titip Ternak Klaim Rugi Rp1,7 Miliar, Kasus PT SPI Dilaporkan ke Polisi

Senin, 28 September 2026 - 17:20 WIB

Wali Kota Pekalongan di Mayors Talk Bogor: Kota Tangguh Bermula dari Integritas Moral Pemimpin

Sabtu, 26 September 2026 - 18:39 WIB

Akselerasi Kualitas Pendidikan, TMU Tegal Mantap Menuju Kampus Unggul di Tegal

Jumat, 18 September 2026 - 07:34 WIB

SPTI Tolak Demo di KEK Kendal: Jangan Ganggu Investasi dan Rezeki Warga

Selasa, 15 September 2026 - 06:10 WIB

Sewa Kios Pasar Mukti Makmur Cilacap Dipersoalkan, Pedagang Soroti Tarif hingga Dasar Penetapan

Berita Terbaru