Soto Apang, Warisan Kuliner Sejak 1970-an yang Tetap Bertahan Berkat Soto Tahu Tempe Rp8.000

- Jurnalis

Minggu, 19 Juli 2026 - 17:01 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Soto tahu dan tempe jadi andalan menu kuliner di warung Soto Apang sejak era 70 an yang berlokasi di Taman Sorogenen, Minggu (19/7/26).

Soto tahu dan tempe jadi andalan menu kuliner di warung Soto Apang sejak era 70 an yang berlokasi di Taman Sorogenen, Minggu (19/7/26).

KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Di tengah menjamurnya tempat makan modern, Soto Apang di kawasan Taman Sorogenen, Kota Pekalongan, tetap menjadi tujuan para pencinta kuliner. Warung yang berdiri sejak era 1970-an itu masih mempertahankan resep keluarga dan dikenal lewat menu soto tahu tempe yang menjadi ciri khasnya.

Usaha tersebut kini diteruskan oleh generasi kedua, Fahturozi (51), bersama sang istri, Sunarti (48). Nama ‘Soto Apang’ sendiri diambil dari nama panggilan sang pendiri, Sofar, yang akrab disapa Apang.

“Nama Soto Apang berasal dari nama panggilan orang tua saya. Beliau mulai berjualan sejak tahun 1970-an, lalu saya meneruskan usaha ini pada 2001,” kata Fahturozi kepada kanalplus.id, Minggu (19/7/2026).

Berbeda dengan soto pada umumnya, Soto Apang menawarkan menu soto tahu tempe sebagai andalan. Selain itu tersedia pula soto daging, soto campur, hingga soto jeroan.

Menurut Fahturozi, justru menu sederhana berupa soto tahu tempe yang paling banyak diburu pelanggan.

Baca Juga :  Peyek Udang Jumbo Seukuran Piring Makan di Kota Pekalongan Jadi Buruan, Dijual Rp10 Ribu per Lembar

“Yang paling laris tetap soto tahu tempe, kemudian soto daging. Itu yang paling banyak dicari pembeli,” ujarnya.

Ia mengaku tetap mempertahankan resep turun-temurun yang diwariskan orang tuanya. Seluruh bumbu, mulai dari kuah hingga pelengkapnya, masih diracik sendiri agar cita rasanya tidak berubah.

“Kami mempertahankan resep keluarga. Semua bumbu dibuat sendiri supaya rasanya tetap sama seperti dulu,” katanya.

Setiap hari, warung tersebut mampu menjual lebih dari 100 porsi soto. Pembeli datang tidak hanya dari Pekalongan, tetapi juga dari berbagai daerah di luar kota.

“Banyak pelanggan dari luar daerah, seperti Semarang sampai Pemalang. Ada juga yang sudah menjadi pelanggan lama,” ungkapnya.

Warung Soto Apang buka mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB. Hari libur tidak memiliki jadwal tetap dan umumnya hanya tutup jika ada keperluan keluarga.

Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau. Soto tahu tempe dibanderol Rp8.000 per porsi, sedangkan menu paling lengkap berbahan daging dijual Rp22.000.

Baca Juga :  Sop Iga Pondok Makan Mas Pri, Andalan Kuliner Pagi hingga Siang di Jalan Veteran Pekalongan

“Harganya kami buat terjangkau supaya semua kalangan bisa makan di sini. Yang ingin soto tahu tempe ada, yang ingin daging juga tersedia,” tutur Fahturozi.

Dalam mengelola usaha keluarga tersebut, Fahturozi dibantu sang istri dan lima orang karyawan. Meski telah berjalan puluhan tahun, ia mengaku tidak memiliki target muluk selain menjaga cita rasa agar pelanggan tetap datang.

“Yang penting rasanya tetap terjaga. Itu yang membuat pelanggan terus kembali,” katanya.

Ramainya pembeli juga membuat Soto Apang beberapa kali dikunjungi sejumlah pejabat daerah. Namun, bagi Fahturozi, kepuasan pelanggan tetap menjadi prioritas utama dibandingkan hal lainnya.

Dengan usia usaha yang telah melampaui setengah abad, Soto Apang menjadi salah satu bukti bahwa resep turun-temurun, harga yang bersahabat, dan konsistensi menjaga rasa masih menjadi daya tarik tersendiri di tengah perkembangan kuliner Kota Pekalongan.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Orang Indonesia Bukan Kebal Pedas, Otaknya yang Belajar Beradaptasi
Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang
10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia
Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu
Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering
Mengenal Pecel Bu Murni di Alun-alun Kota Pekalongan, Bertahan Hampir Setengah Abad dengan Pelanggan Setianya
Sempat Dikira Tutup, Lontong Tahu ‘Dunia Lain’ Pekalongan Ternyata Pindah ke Gang Sempit, Pelanggan Lama Banyak yang Kecele
Bertahan 40 Tahun, Leker Bara Api di Pekalongan Masih Laris Meski Terancam Tak Punya Penerus

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 05:40 WIB

Orang Indonesia Bukan Kebal Pedas, Otaknya yang Belajar Beradaptasi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:18 WIB

Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang

Selasa, 18 Agustus 2026 - 07:40 WIB

10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering

Berita Terbaru

Konsep Green Campus mulai diterapkan di Unikal yang diawali dengan kegiatan peningkatan kapasitas, Kamis (10/9/26). Foto: Istimewa

Kota Pekalongan

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:42 WIB