KANAL KOTA – Universitas Pekalongan (Unikal) mulai membangun konsep green campus sebagai bagian dari strategi jangka panjang kampus dalam menjalankan prinsip keberlanjutan. Konsep tersebut tidak hanya diarahkan pada penambahan ruang terbuka hijau, tetapi juga perubahan kebijakan, efisiensi sumber daya hingga pola pikir seluruh civitas akademika.
Langkah tersebut dibahas dalam kegiatan Capacity Building Green Campus dalam rangka Dies Natalis ke-45 Unikal di Aula Gedung C Universitas Pekalongan, Kamis (10/9/2026).
Rektor Unikal Andi Kushermanto mengatakan, kampus saat ini berada pada tahap awal untuk menjadikan isu keberlanjutan sebagai bagian dari tanggung jawab institusi.
Untuk itu, Unikal menggandeng UI GreenMetric dari Universitas Indonesia sebagai pendamping. Menurutnya, UI GreenMetric tidak hanya berkaitan dengan pemeringkatan kampus hijau, tetapi juga membantu kampus mulai dari perencanaan, penyusunan aksi, pengukuran hingga memastikan program memberikan dampak dan berkelanjutan.
“Kita mulai dari membangun kesadaran di kampus. Tema Dies kami pun sangat berkaitan dengan isu keberlanjutan, yaitu dari mulai kita unggul, kemudian berdampak, dan berkelanjutan,” kata Andi.
Ia menjelaskan, isu lingkungan tidak berdiri sendiri. Persoalan lingkungan dapat berdampak terhadap kondisi sosial, kesehatan, ekonomi hingga pada akhirnya berpengaruh terhadap kebutuhan anggaran pemerintah.
Karena itu, Unikal ingin memasukkan prinsip keberlanjutan ke dalam rencana strategis kampus.
Andi mengatakan, tahap awal dilakukan dengan menyusun dokumen kebijakan kampus berkelanjutan. Kebijakan tersebut nantinya menjadi dasar untuk mengatur pemanfaatan air, energi dan sumber daya lainnya secara lebih efisien.
Kebijakan itu juga tidak berhenti di tingkat rektorat. Unikal berencana menerjemahkannya hingga ke tingkat fakultas dan lembaga di lingkungan kampus.
Termasuk bagaimana prinsip keberlanjutan masuk ke dalam kurikulum serta aktivitas masing-masing unit.
“Kami tidak ingin adanya greenwashing, yang sering menjadi persoalan, yaitu seolah-olah kampus sudah hijau, tetapi realita kebijakan teknis itu belum tersusun dengan baik,” ujarnya.
Unikal juga akan mulai menghitung baseline atau kondisi awal sebagai dasar untuk mengukur perubahan dan capaian program green campus.
Keterbatasan lahan kampus juga dinilai bukan menjadi penghalang untuk menerapkan konsep green campus.
Andi menegaskan, kampus hijau tidak semata-mata ditentukan oleh luas ruang terbuka hijau.
“Green campus bukan hanya pada persoalan tata ruang, tetapi kemampuan kampus di dalam melakukan pemanfaatan sumber daya secara efisien,” terangnya.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah mengganti sejumlah keran wastafel dengan keran otomatis untuk menghemat penggunaan air.
Pengelolaan sampah juga menjadi bagian dari program. Unikal telah melakukan pemilahan sampah dan ke depan mendorong agar sampah tidak hanya dibuang, tetapi dapat diolah kembali.
Selain infrastruktur, perubahan perilaku mahasiswa menjadi perhatian utama.
Kampus, kata Andi, akan mendorong kebiasaan yang lebih ramah lingkungan, seperti penggunaan kendaraan listrik dan mengurangi penggunaan kendaraan secara individual.
“Jadi kampus hijau itu lebih bicara tentang mindset, bagaimana penggunaan sumber daya secara efisien, bagaimana risiko, dan yang lebih penting adalah intergeneration responsibility-nya,” urainya.
Dalam kegiatan tersebut, Unikal juga menyerahkan policy brief hasil kajian mahasiswa kepada Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab.
Andi mengatakan, kajian tersebut menunjukkan kepedulian mahasiswa terhadap persoalan sosial dan lingkungan di Kota Pekalongan.
Hasil kajian itu diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menyusun prioritas kebijakan maupun anggaran, termasuk untuk wilayah yang rentan terhadap bencana.
Balgis Diab menyambut baik langkah Unikal tersebut. Menurutnya, selama ini pemerintah kota banyak berkolaborasi dengan masyarakat dalam persoalan lingkungan. Kini kampus juga didorong menjadi bagian dari gerakan tersebut.
“Kampus ikut bersama-sama dengan pemerintah kota untuk bagaimana menciptakan lingkungan yang bersih, nyaman, dan berkelanjutan,” kata Balgis.
Ia berharap konsep yang dikembangkan Unikal nantinya dapat menjadi model bagi kampus lain di Kota Pekalongan.
Balgis menegaskan, program tersebut tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Kami ingin nanti ini terus berkelanjutan menjadi sinergi dan kolaborasi. Program dan konsep yang sudah dibuat oleh kampus ini juga nanti bisa diterapkan di dalam program pemerintah,” pintanya.
Pemkot Pekalongan juga membuka peluang kolaborasi lebih lanjut dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan sektor pendidikan.
Salah satu gagasan yang muncul dari policy brief mahasiswa adalah setiap sekolah dan kampus memiliki tata kelola lingkungan sendiri sesuai karakteristik masing-masing.
“Tujuannya antara lain mengurangi sampah yang keluar dari lingkungan pendidikan,” tuturnya.
Namun, program tersebut tidak hanya menyasar persoalan sampah. Balgis menyebut sanitasi, pengelolaan air dan penghijauan juga menjadi bagian dari tata kelola lingkungan di institusi pendidikan.
Untuk tahap awal, kolaborasi akan difokuskan bersama perguruan tinggi. Setelah itu konsep serupa akan diperluas ke SMA/SMK dan jenjang pendidikan yang lebih rendah.
“Harapannya semua pendidikan itu bisa mempunyai tata kelola lingkungan versi pendidikan yang lebih kecil tetapi memenuhi kebutuhan lingkungan pendidikan,” katanya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













