Tangis Bahagia Pecah di Batang, TKW yang Hilang 31 Tahun di Malaysia Akhirnya Pulang dan Bertemu Keluarga

- Jurnalis

Kamis, 14 Mei 2026 - 19:22 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kedatangan Gim Suyati (kerudung merah) disambut tangis bahagia oleh keluarga, kerabat dan ratusan warga Desa Adinuso yang memenuhi halaman kediaman rumah, dibelakangnya anggota Komisi VII DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo yang mengawal langsung kepulangan Gim Suyati terlihat menatap penuh haru, Kamis (14/5/6).

Kedatangan Gim Suyati (kerudung merah) disambut tangis bahagia oleh keluarga, kerabat dan ratusan warga Desa Adinuso yang memenuhi halaman kediaman rumah, dibelakangnya anggota Komisi VII DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo yang mengawal langsung kepulangan Gim Suyati terlihat menatap penuh haru, Kamis (14/5/6).

BATANG, KANALPLUS.ID – Tangis bahagia pecah di sebuah rumah sederhana di Desa Adinuso, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Setelah hilang tanpa kabar selama 31 tahun di Malaysia, seorang ibu bernama Gim Suyati (73) akhirnya kembali pulang dan bertemu keluarganya untuk pertama kali.

Suasana haru menyelimuti detik-detik kedatangan perempuan lanjut usia itu saat turun dari mobil travel yang membawanya pulang ke kampung halaman. Anak-anak, kerabat, tetangga hingga warga sekitar langsung menyambutnya dengan pelukan dan air mata.

Selama lebih dari tiga dekade, keluarga mengira Gim Suyati telah tiada. Namun di balik kepasrahan itu, mereka diam-diam masih menyimpan harapan bahwa perempuan yang pergi merantau ke Malaysia pada 1995 tersebut suatu hari akan kembali pulang.

Anto (52), anak kedua Gim Suyati, mengaku tak pernah menyangka penantian panjang keluarganya benar-benar berakhir.

“Rasanya seperti mimpi. Sudah 31 tahun kami tidak tahu keberadaan ibu di mana,” ujarnya saat ditemui, Kamis (14/5/2026).

Bagi Anto, kepulangan sang ibu menjadi jawaban atas doa panjang yang selama ini tak pernah putus dipanjatkannya.

“Saya cuma bersyukur ibu akhirnya bisa pulang dan berkumpul lagi dengan keluarga,” katanya sambil menahan tangis.

Ia mengaku tanpa bantuan anggota DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo, ibunya belum tentu bisa dipulangkan ke tanah air lantaran selain statusnya tidak diakui sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), juga rumitnya birokrasi dalam mengurus administrasinya.

Baca Juga :  Bukan Cuma Lari, BI Tegal Bawa Pesan WANI di Industropolis Run 2026

“Berkat bantuan Pak Yoyok yang telpon ke KBRI dalam tiga hari sudah jadi seluruh dokumen WNI ibu saya, padahal ibu sudah puluhan kali bolak balik ke KBRI tapi cuman dibilangi ‘boleh saja mengaku WNI, tapi buktinya mana’. Itu yang membuat ibu tertahan di Malaysia,” ungkapnya.

Sementara itu Gim Suyati yang kini lebih fasih berbahasa Melayu tampak masih kesulitan berbicara dalam Bahasa Indonesia. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengaku sangat bahagia akhirnya bisa kembali ke kampung halaman.

“Perasaannya senang sekali lah, gembira sekali. Ini tak tahu macam mana nak cakap,” ujarnya lirih.

Meski sudah lebih dari tiga dekade tinggal di Malaysia, perempuan renta itu mengaku kampung halamannya tetap menjadi tempat yang paling dirindukan.

“Pasti kat kampung halaman,” katanya pelan.

Gim Suyati juga menceritakan dirinya sebenarnya sudah berkali-kali berusaha pulang. Ia mendatangi kedutaan dan mencoba mengurus identitas, namun proses yang rumit membuatnya terus tertahan di Malaysia.

“Sudah usaha pergi kedutaan banyak kali,” ucapnya.

Di tengah rumitnya birokrasi tersebut, bantuan datang dari anggota Komisi VII DPR RI, Yoyok Riyo Sudibyo yang ikut mengawal proses pemulangan Gim Suyati.

Baca Juga :  Di Tengah Gempuran Kuliner Modern, Serabi Legendaris Tambakboyo Batang Kembali Menyala dari Tungku Tradisional

Mantan Bupati Batang itu mengaku tergerak membantu karena prihatin melihat nasib Gim Suyati yang terlunta-lunta tanpa kejelasan status kewarganegaraan.

“Yang jelas ini kemanusiaan saja, empati,” ucap Yoyok.

Menurutnya, persoalan pekerja migran Indonesia di Malaysia memang sangat kompleks. Banyak warga negara Indonesia yang berangkat secara tidak resmi hingga akhirnya mengalami masalah dokumen dan kesulitan pulang.

“Yang diurus kedutaan juga banyak sekali. Mungkin sudah sangat banyak kasus yang harus ditangani,” ujarnya.

Yoyok bahkan menyebut kasus seperti Gim Suyati hanyalah fenomena gunung es. Ia mengaku masih sering menerima laporan tentang pekerja migran Indonesia yang hilang kontak selama puluhan tahun di Malaysia.

“Hari ini saja saya dapat kabar masih ada satu TKI bernama Darno, sudah 32 tahun hilang, juga warga Desa Adinuso,” bebernya.

Menurut Yoyok, dirinya sering dihubungi para TKI di Malaysia yang meminta bantuan karena mengalami persoalan serupa.

“Saya sering dikirimi foto dan video kondisi warga Indonesia di sana yang mengalami masalah,” katanya.

Ia pun berjanji akan terus membantu warga Indonesia yang mengalami persoalan serupa selama dirinya masih memiliki akses dan jabatan.

“Mumpung saya masih ada jabatan, saya akan bantu semampunya. Karena di sana itu ternyata banyak sekali,” tutur Yoyok.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Terindikasi Judol 7.586 Penerima Bansos di Batang Ditangguhkan, 5.322 Kasus Baru 2026
23 Karhutla Terjadi di Batang Saat Kemarau, Mayoritas Dipicu Bakar Sampah
RAPBD Batang 2027 Disusun Saat Dana Transfer Belum Pasti, Belanja Modal Malah Turun
1.685 Warga Batang Sudah Masuk Kerja, Pemkab Masih Kejar 1.315 Penempatan
Gringsing Disiapkan Jadi Kota Baru Penyangga Industri Batang, Ditarget Rampung 2029
Data Desil Tak Sesuai Kondisi Ekonomi? Warga Batang Bisa Ajukan Perubahan
74 SPPG di Batang Bentuk Paguyuban, Seragamkan Standar Menu MBG
Jembatan Sempit Jadi Biang Macet Jalur Alternatif Menuju KITB, Pelebaran Diusulkan 2027

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 10:02 WIB

Terindikasi Judol 7.586 Penerima Bansos di Batang Ditangguhkan, 5.322 Kasus Baru 2026

Rabu, 9 September 2026 - 15:33 WIB

23 Karhutla Terjadi di Batang Saat Kemarau, Mayoritas Dipicu Bakar Sampah

Rabu, 9 September 2026 - 12:10 WIB

RAPBD Batang 2027 Disusun Saat Dana Transfer Belum Pasti, Belanja Modal Malah Turun

Selasa, 8 September 2026 - 10:57 WIB

1.685 Warga Batang Sudah Masuk Kerja, Pemkab Masih Kejar 1.315 Penempatan

Selasa, 8 September 2026 - 06:35 WIB

Gringsing Disiapkan Jadi Kota Baru Penyangga Industri Batang, Ditarget Rampung 2029

Berita Terbaru