Kenaikan Pertamax Berpotensi Ubah Pola Konsumsi Warga Batang, Disperindagkop Pantau Dampak ke Pasar dan Distribusi

- Jurnalis

Rabu, 10 Juni 2026 - 13:36 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ilistrasi antrean kendaran di SPBU

Ilistrasi antrean kendaran di SPBU

BATANG, KANALPLUS.ID – Lonjakan harga BBM non subsidi jenis Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter mulai menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Batang. Selain diperkirakan mengubah pola konsumsi masyarakat, kenaikan harga tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya distribusi barang hingga operasional pelaku usaha.

Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop & UKM) Kabupaten Batang mulai melakukan pemetaan dampak ekonomi yang muncul setelah penyesuaian harga BBM yang terpantau pada 10 Juni 2026.

Kepala Disperindagkop dan UKM Batang, Wahyu Budi Santoso, mengatakan pihaknya akan memantau secara langsung kondisi di lapangan selama beberapa hari ke depan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh kenaikan harga terhadap aktivitas perdagangan dan industri.

“Yang kami lakukan sekarang adalah memastikan stok BBM di SPBU tetap aman sekaligus memetakan dampaknya terhadap masyarakat dan dunia usaha,” ujarnya kepada wartawan, ok Rabu (10/6/2026).

Baca Juga :  Tragis Perempuan Penyeberang Jalan di Batang Tewas Terlindas Truk Tronton

Menurutnya, perubahan harga tersebut berpotensi memicu pergeseran pilihan bahan bakar. Pengguna Pertamax diperkirakan akan beralih ke Pertalite atau jenis BBM lain yang memiliki harga lebih terjangkau sehingga kebutuhan stok harus terus dipantau.

“Pasti akan ada penyesuaian di awal. Kemungkinan sebagian masyarakat memilih BBM dengan harga lebih rendah, sehingga kami terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk memastikan ketersediaan pasokan,” katanya.

Disperindagkop menilai dampak kenaikan harga tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga sektor transportasi, distribusi barang, perdagangan hingga industri yang selama ini mengandalkan BBM non subsidi untuk operasional sehari-hari.

Kondisi tersebut juga akan berimbas pada penggunaan kendaraan dinas pemerintah daerah. Dengan anggaran yang telah disusun menggunakan asumsi harga lama, instansi pemerintah diminta melakukan efisiensi penggunaan BBM tanpa mengurangi pelayanan prioritas kepada masyarakat.

Baca Juga :  Industri di Batang Tak Boleh Ganggu Air Petani, Pemkab Klaim Sudah Hitung Kebutuhannya

“Karena anggaran tidak bertambah, maka langkah yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan penggunaan BBM agar lebih efisien,” jelas Wahyu.

Untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat, Disperindagkop akan melakukan survei di sejumlah sektor strategis selama satu pekan ke depan. Pemantauan meliputi kondisi pasar, aktivitas perdagangan, distribusi barang, hingga operasional industri.

Hasil pemetaan tersebut akan menjadi dasar pemerintah daerah dalam mengantisipasi kemungkinan munculnya gejolak harga kebutuhan pokok maupun gangguan distribusi barang akibat meningkatnya biaya transportasi.

“Kami ingin mengetahui dampak riil di lapangan sehingga jika muncul persoalan pada sektor perdagangan atau industri, langkah mitigasi bisa segera disiapkan,” pungkasnya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bus Tunas Muda Terbakar di Tol Batang, 15 Penumpang Selamat
KEK Industropolis Batang Disiapkan Jadi Arena Sprint Rally, Pemkab Bidik Efek Ekonomi dan Sport Tourism
Terindikasi Judol 7.586 Penerima Bansos di Batang Ditangguhkan, 5.322 Kasus Baru 2026
23 Karhutla Terjadi di Batang Saat Kemarau, Mayoritas Dipicu Bakar Sampah
RAPBD Batang 2027 Disusun Saat Dana Transfer Belum Pasti, Belanja Modal Malah Turun
1.685 Warga Batang Sudah Masuk Kerja, Pemkab Masih Kejar 1.315 Penempatan
Gringsing Disiapkan Jadi Kota Baru Penyangga Industri Batang, Ditarget Rampung 2029
Data Desil Tak Sesuai Kondisi Ekonomi? Warga Batang Bisa Ajukan Perubahan

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 07:50 WIB

Bus Tunas Muda Terbakar di Tol Batang, 15 Penumpang Selamat

Jumat, 11 September 2026 - 12:34 WIB

KEK Industropolis Batang Disiapkan Jadi Arena Sprint Rally, Pemkab Bidik Efek Ekonomi dan Sport Tourism

Kamis, 10 September 2026 - 10:02 WIB

Terindikasi Judol 7.586 Penerima Bansos di Batang Ditangguhkan, 5.322 Kasus Baru 2026

Rabu, 9 September 2026 - 15:33 WIB

23 Karhutla Terjadi di Batang Saat Kemarau, Mayoritas Dipicu Bakar Sampah

Rabu, 9 September 2026 - 12:10 WIB

RAPBD Batang 2027 Disusun Saat Dana Transfer Belum Pasti, Belanja Modal Malah Turun

Berita Terbaru

Polisi menunjukkan bagian belakang Po Bus Tunas Muda yang terbakar di KM 350 Tol Semarang - Batang, Minggu (13/9/26) pagi. Foto: Istimewa & Ilustrasi AI

Batang

Bus Tunas Muda Terbakar di Tol Batang, 15 Penumpang Selamat

Minggu, 13 Sep 2026 - 07:50 WIB

Lansia yang bekerja sebagai petani di Batang dilaporkan tewas tertemper kereta api saat berjalan di rel Desa Ponowareng, Sabtu (12/9/26). Foto: Istimewa & AI

Peristiwa

Berjalan di Rel, Lansia di Batang Tewas Tertemper KA Kaligung

Minggu, 13 Sep 2026 - 06:49 WIB