BATANG, KANALPLUS.ID – Pemerintah Kabupaten Batang masih menghadapi tantangan besar dalam memperbaiki jaringan irigasi yang menopang sektor pertanian. Setiap tahun, kebutuhan rehabilitasi mencapai sekitar 1.000 hektare jaringan irigasi, namun kemampuan anggaran daerah baru mampu menangani sekitar 500 hektare.
Kepala Bidang Pengairan DPUPR Kabupaten Batang Muhammad Luthfi mengatakan keterbatasan anggaran membuat perbaikan jaringan irigasi harus dilakukan secara bertahap.
“Kalau idealnya sekitar 1.000 hektare per tahun yang diperbaiki. Namun dengan kemampuan anggaran yang ada, rata-rata baru sekitar 500 hektare,” kata Luthfi di kantornya, Selasa (28/7/2026).
Untuk mempercepat rehabilitasi, Pemkab Batang mengajukan dukungan pendanaan kepada pemerintah pusat melalui skema Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025. Nilai usulan yang diajukan mencapai sekitar Rp55 miliar hingga Rp60 miliar untuk penanganan jaringan irigasi primer, sekunder, dan tersier.
Menurut Luthfi, hingga kini pihaknya masih menunggu tindak lanjut dari pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.
Saat ini, Kabupaten Batang mengelola 599 daerah irigasi yang mengairi sekitar 20.329 hektare lahan pertanian. Hingga Juni 2026, sebanyak 14.295 hektare atau 70,31 persen areal irigasi telah berada dalam kondisi baik.
Tahun ini, DPUPR Batang juga mengerjakan rehabilitasi dan peningkatan jaringan di 20 lokasi yang ditargetkan memperbaiki layanan irigasi untuk sekitar 460 hektare lahan pertanian. Dengan pekerjaan tersebut, kondisi jaringan irigasi yang baik ditargetkan meningkat menjadi 72 persen pada akhir 2026.
Luthfi menjelaskan sebagian besar jaringan yang belum masuk kategori baik mengalami kerusakan sedang. Meski masih dapat mengalirkan air ke sawah, kondisi tersebut menyebabkan banyak kebocoran sehingga efisiensi distribusi air menurun.
“Rusak sedang berarti masih bisa mengalirkan air, tetapi memang kebocorannya masih cukup banyak,” ujarnya.
Selain melakukan rehabilitasi rutin, DPUPR juga menangani kerusakan akibat bencana. Dari 52 titik jaringan irigasi yang terdampak banjir, sekitar 30 bendung mengalami kerusakan dan sebagian besar telah mendapatkan penanganan darurat agar pasokan air ke lahan pertanian tetap terjaga.
Luthfi menilai Kabupaten Batang memiliki keuntungan karena didukung banyak sumber air. Kondisi tersebut membuat distribusi air masih dapat dialihkan ke jalur lain ketika salah satu jaringan mengalami gangguan.
“Untungnya di Batang sumber airnya banyak, sehingga ketika ada jaringan yang bocor, suplai air masih bisa dialihkan dari bendungan lainnya,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan rehabilitasi jaringan irigasi harus terus dilakukan secara berkelanjutan agar mampu menjaga produktivitas lahan pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Batang.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













