KANAL KOTA – Lomba Hadroh Al-Banjari dan Rebana Tingkat Kota Pekalongan 2026 yang berlangsung di Aula Kecamatan Pekalongan Barat mengalami penurunan peserta pada tahun ini, meski demikian tidak mengurangi semangat panitia maupun peserta yang tetap menunjukkan kemampuannya di atas panggung.
Ketua Panitia Lomba Hadroh Al-Banjari, Mudzakiron, mengatakan lomba yang memperebutkan Piala Wali Kota Pekalongan tersebut diikuti oleh sembilan peserta atau kelompok yang terbagi dalam dua kategori, yakni pelajar dan umum.
“Kategori pelajar ada empat grup, kemudian kategori umum ada lima grup. Jadi keseluruhan ada sembilan,” ungkapnya, Selasa (8/9/2026).
Ia mengatakan kalau pada penyelenggaraan lomba sebelumnya terdapat 12-13 grup yang menjadi peserta namun tahun ini hanya diikuti sembilan grup.
Menurut dia, salah satu kemungkinan penyebab turunnya jumlah peserta adalah waktu pelaksanaan yang bertepatan dengan hari efektif sekolah dan aktivitas kerja.
“Kemungkinan besar ini hari efektif anak-anak masuk sekolah dan bukan pada saat libur ,” ujarnya.
Kondisi serupa juga terjadi pada kategori umum. Mudzakiron menyebut sebagian peserta, terutama ibu-ibu, menginginkan perlombaan digelar pada hari libur agar tidak berbenturan dengan kegiatan rutin maupun pekerjaan.
“Kalau ditanya mereka penginnya lomba berlangsung pada hari libur, hari Jumat atau hari Minggu,” katanya.
Mudzakiron menyatakan panitia akan mengevaluasi penyebab turunnya jumlah peserta. Keberadaan Piala Wali Kota juga dinilai menjadi dorongan agar lomba tersebut tetap berlanjut.
“Karena sudah ada trofi dari Pak Wali, maka mau tidak mau tahun depan harus kita laksanakan kembali dan kita evaluasi ini kok menurun itu seperti apa,” tegasnya.
Ia berharap lomba Hadroh Al-Banjari dapat terus menjadi ruang positif bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan kemampuan seni rebana sekaligus memperkuat kecintaan terhadap sholawat dan nilai-nilai Islam.
Meski jumlah peserta berkurang, Mudzakiron menegaskan lomba tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk mencari pemenang. Kegiatan itu juga menjadi ruang silaturahmi antarkelompok hadroh sekaligus mengumandangkan sholawat di Kota Pekalongan.
“Tujuan acara dalam rangka satu untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah antara para grup rebana, kemudian untuk meningkatkan kualitas dalam bermain rebana,” terangnya.
Lomba tahun ini juga memiliki nilai berbeda karena untuk pertama kalinya digelar pada tingkat Kota Pekalongan. Sebelumnya, kegiatan tersebut masih dilaksanakan pada tingkat kelurahan maupun kecamatan.
Menurut Mudzakiron, perubahan tingkatan lomba menjadi tingkat kota dilakukan setelah panitia berkomunikasi dengan pemerintah kota.
Lomba tersebut memperebutkan trofi Wali Kota Pekalongan serta hadiah dana pembinaan bagi para pemenang.
Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto, yang mewakili Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pekalongan, mengatakan penyelenggaraan tahun ini juga mengalami perubahan lokasi.
Jika tahun sebelumnya kegiatan digelar di kawasan Medono, tahun ini pelaksanaannya dikembangkan ke wilayah Kecamatan Pekalongan Barat karena statusnya sudah menjadi lomba tingkat kota.
“Karena ini tingkat kota maka dikembangkan pelaksanaannya di Kecamatan Pekalongan Barat,” jelas Slamet.
Ia berharap pelaksanaan tahun depan dapat berlangsung lebih meriah dengan jumlah peserta yang lebih banyak.
Bahkan, Slamet membuka kemungkinan kegiatan tersebut digelar di lokasi yang lebih representatif, mengingat lomba sudah memperebutkan Piala Wali Kota.
“Karena ini memperebutkan Piala Wali Kota, jadi lebih prestisnya dilaksanakan di Balai Kota,” tuturnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













