KANAL SPORT – Ketika membicarakan pemain dengan jumlah gol fantastis, nama Erling Haaland, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi hingga Robert Lewandowski hampir selalu muncul. Mereka bermain di panggung sepak bola profesional dengan jutaan pasang mata yang menyaksikan.
Namun, jauh dari gemerlap stadion dan sorotan televisi, ada cerita lain yang tak kalah menarik. Di level amatir dan non-league, sejumlah pemain mampu mencetak gol dalam jumlah luar biasa, bahkan dengan rasio yang membuat statistik para pemain profesional terlihat biasa saja.
Masalahnya, statistik sepak bola amatir tidak terdokumentasi secara global seperti kompetisi profesional. Karena itu, daftar berikut bukan klaim sebagai peringkat dunia, melainkan beberapa mesin gol sepak bola amatir/non-league dengan catatan gol yang pernah terdokumentasi.
1. Ashley Flynn – 50 gol hanya dalam 28 pertandingan
Nama Ashley Flynn mungkin asing bagi sebagian besar penggemar sepak bola dunia.
Pada 2015, Flynn yang memperkuat AFC Emley di Northern Counties East Football League Division One, kompetisi kasta ke-10 sepak bola Inggris, mencetak 50 gol hanya dalam 28 pertandingan.
Yang membuat catatannya semakin mencengangkan, angka tersebut dicapai ketika musim bahkan belum memasuki pertengahan.
BBC melaporkan Flynn telah mencetak enam hat-trick dan dua kali membukukan lima gol dalam satu pertandingan ketika mencapai gol ke-50.
Saat itu, catatan golnya bahkan disebut telah melampaui produktivitas sejumlah striker top dunia jika dihitung berdasarkan jumlah gol pada periode yang sama.
Flynn bukan pemain dengan kontrak jutaan pound. Ia tetap menjalani kehidupan di luar sepak bola. Justru di situlah daya tarik kisahnya.
2. Dan Westwood – 101 gol dalam 72 pertandingan
Cerita lain datang dari Dan Westwood. Mantan pemain Port Vale dan Burton Albion tersebut kemudian bermain untuk Wolverhampton Sporting CFC. Pada 2017, The Guardian mencatat Westwood telah mencetak 101 gol dalam 72 pertandingan.
Westwood bahkan dikenal sebagai ‘mesin gol’ non-league. Di luar lapangan, ia bekerja sebagai guru sekolah dan memiliki pekerjaan paruh waktu.
Artinya, ketika striker profesional berlatih setiap hari dengan fasilitas lengkap, Westwood membagi waktunya antara pekerjaan dan sepak bola. Namun produktivitasnya tetap luar biasa.
3. Michael Cheek – 144 gol dalam karier non-league
Michael Cheek menunjukkan bahwa sepak bola non-league juga bisa menjadi tempat lahirnya penyerang produktif.
Ketika bergabung dengan Dagenham & Redbridge pada 2017, Cheek tercatat telah mengoleksi 144 gol sepanjang karier non-league sejak 2011. Rata-ratanya mencapai sekitar 24 gol per musim.
Menariknya, Cheek kemudian mendapatkan kesempatan naik ke level yang lebih tinggi setelah tampil produktif bersama sejumlah klub non-league.
Kisah semacam ini menunjukkan bahwa level amatir dan semi-profesional tidak selalu menjadi titik akhir karier seorang pesepak bola.
4. Jamie Vardy – Dari lapangan non-league menuju Premier League
Nama Jamie Vardy memang akhirnya menjadi bagian dari sejarah Premier League. Tetapi sebelum menjadi bintang profesional, ia lebih dulu menghabiskan masa penting kariernya di sepak bola non-league.
Dalam catatan yang dibahas komunitas non-league, Vardy mencetak 40 gol dalam 88 pertandingan untuk Stocksbridge Park Steels, kemudian 26 gol dalam 37 pertandingan bersama Halifax Town dan 31 gol dalam 36 pertandingan bersama Fleetwood Town.
Produktivitas tersebut menjadi salah satu bagian perjalanan yang akhirnya membawanya ke Leicester City dan kemudian menjadi juara Premier League.
Vardy menjadi contoh bahwa pemain dari level bawah bisa saja memiliki naluri mencetak gol yang kemudian membawanya menuju panggung terbesar. Bukan soal kasta, tetapi naluri mencetak gol
Dari nama-nama tersebut terlihat satu hal menarik, yakni gol tidak selalu lahir dari stadion megah.
Ada pemain yang bekerja sebagai guru, pekerja kantoran, atau menjalani kehidupan normal sambil bermain sepak bola di level yang jauh dari sorotan media.
Bahkan, The Non-League Football Paper pernah membuat daftar 100 pencetak gol terbaik di kompetisi non-league Inggris. Ini menunjukkan bahwa produktivitas pemain di level tersebut sebenarnya memiliki cerita panjang, meskipun tidak mendapatkan perhatian sebesar Premier League atau Liga Champions. Persoalannya adalah statistik.
Tidak seperti kompetisi profesional, sepak bola amatir di berbagai negara tidak memiliki satu basis data yang mencatat seluruh pertandingan, penampilan dan gol pemain. Karena itu, membandingkan pemain amatir dari Indonesia, Inggris, Brasil, Afrika atau negara lain secara langsung sangat sulit. Namun justru di situlah sisi menariknya.
Di balik kompetisi desa, liga kecamatan, turnamen antarkampung dan kompetisi regional, bisa saja terdapat seorang striker yang mencetak puluhan bahkan ratusan gol tanpa pernah masuk radar media nasional.
Mungkin bukan Haaland. Bukan Mbappe. Bukan Ronaldo. Tetapi di lapangan kecil, dengan sepatu yang mungkin tidak semahal milik para bintang dunia, mereka tetap punya satu kemampuan yang sama, mencetak gol.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













