BATANG, KANALPLUS.ID – Di ujung timur Pantai Sigandu, Kabupaten Batang, tepatnya di bibir muara, berdiri sebuah warung sederhana yang nyaris tak pernah sepi, terutama saat akhir pekan. Bukan bangunan mewah atau papan nama besar yang membuat orang datang, melainkan semangkuk gulai kepala manyung yang telah dimasak dengan resep yang sama selama puluhan tahun.
Warung itu dikenal sebagai Warung Mbak Lisa. Namun, sosok di balik dapurnya bukan Lisa, melainkan Karsumi (55), perempuan yang telah menghabiskan sekitar 35 tahun hidupnya merintis usaha kuliner tersebut.
“Sebenarnya yang merintis saya. Nama Mbak Lisa itu nama anak saya, yang sekarang membantu mengelola dan memasukkan warung ini ke Google,” kata Karsumi kepada kanalplus.id, Rabu (5/8/2026).
Perjalanan warung legendaris ini tidak dimulai dari gulai manyung. Karsumi mengenang, saat pertama kali membuka lapak di kawasan yang kala itu masih sepi, ia hanya menjual kopi dan gorengan untuk menemani nelayan yang menunggu musim panen rebon.
“Waktu itu belum jual manyung. Saya jual kopi sama gorengan buat nelayan yang menunggu panen rebon,” ujarnya.
Kala itu, kawasan Pantai Sigandu belum seramai sekarang. Jalan belum sebagus saat ini, jembatan belum berdiri dan di sekitar warung masih dipenuhi semak serta ilalang.
“Awalnya sepi sekali. Di sini cuma alang-alang. Orang yang lewat juga sedikit,” kenangnya.
Meski demikian, Karsumi tetap bertahan. Baginya, soal laris atau tidak, semuanya adalah persoalan rezeki.
“Kalau memang rezeki ya ada yang datang. Kalau tidak ya tidak apa-apa,” katanya.
Ide menjual gulai manyung muncul ketika akses jalan menuju kawasan Pantai Sigandu mulai membaik. Awalnya ia bahkan tidak menyediakan stok. Setiap ada pembeli yang ingin menikmati gulai manyung, Karsumi baru memasaknya.
“Kalau ada yang pesan saya masakkan. Kalau mau menunggu ya saya buatkan. Kalau tidak sabar ya tidak apa-apa, mungkin belum rezekinya makan manyung di sini,” tuturnya.
Hingga kini, memasak gulai manyung tetap membutuhkan waktu sekitar satu jam. Karena itulah, menurut Karsumi, tidak semua orang mau menunggu. Namun justru pelanggan setianya sudah memahami bahwa rasa membutuhkan proses.
Hal yang cukup unik, bagian yang paling banyak diburu bukan daging manyung, melainkan kepalanya.
Harga seporsi daging manyung hingga kini tetap dipertahankan Rp15 ribu atau sekitar Rp20 ribu jika ditambah nasi. Sementara kepala manyung dijual mulai Rp50 ribu hingga Rp60 ribu, tergantung ukurannya.
“Yang dicari memang kepala. Saya juga tidak tahu kenapa, tapi memang itu yang paling laris,” katanya.
Saat akhir pekan, terutama Sabtu dan Minggu, Karsumi bisa memasak hingga puluhan kepala manyung dalam sehari.
“Kalau ramai bisa lebih dari 40 belahan kepala yang habis, bahkan sampai satu kwintal kalau akhir pekan,” ungkapnya.
Bahan baku manyung didatangkan dari kawasan Klidang. Bahkan, pemasok rutin mengantarkan ikan langsung ke warung agar kebutuhan tetap terpenuhi saat pengunjung membludak.
Meski berada di ujung Pantai Sigandu, Warung Mbak Lisa ternyata telah dikenal hingga luar daerah. Karsumi mengaku beberapa kali mendapat pelanggan dari Jakarta maupun Semarang yang sengaja datang untuk mencicipi gulai kepala manyung.
“Ada yang bilang datang dari Jakarta, ada juga dari Semarang. Katanya sengaja ke sini,” ucapnya.
Selain gulai manyung, warung tersebut juga menyediakan aneka menu laut seperti cumi-cumi, udang, soto hingga berbagai olahan ikan laut. Namun, menurutnya, gulai kepala manyung tetap menjadi menu yang paling dicari.
Kini Warung Mbak Lisa buka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB tanpa hari libur. Dalam menjalankan usaha, Karsumi dibantu anak dan menantunya. Sementara nama ‘Mbak Lisa’ dipilih sebagai identitas warung karena sang anak ikut mengembangkan usaha, termasuk mengenalkannya melalui internet.
Di usia 55 tahun, ibu tiga anak dan nenek lima cucu itu masih setia berdiri di depan tungku setiap hari. Baginya, kesuksesan warung bukan diperoleh dalam semalam. Semua berawal dari lapak sederhana di tengah kawasan yang dulu nyaris tak dilirik orang.
Kini, setelah lebih dari tiga dekade, aroma gulai manyung racikan Karsumi justru menjadi salah satu alasan banyak orang rela menepi ke ujung timur Pantai Sigandu. Bahkan, sebagian pelanggan rela menunggu satu jam, karena mereka percaya, gulai manyung yang enak memang tak pernah datang dengan cara instan.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













