BATANG, KANALPLUS.ID – Asap tipis mengepul dari tungku kayu di sebuah rumah sederhana di Desa Tambakboyo, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Setelah sempat lama menghilang dari peredaran, serabi kelapa parut legendaris yang pernah menjadi buruan pecinta kuliner tradisional kini kembali diproduksi. Kehadirannya bukan sekadar mengobati kerinduan pelanggan lama, tetapi juga menjadi upaya mempertahankan warisan kuliner daerah yang mulai tergerus zaman.
Di tangan Bowo, usaha keluarga yang telah dikenal sejak puluhan tahun silam itu kembali dihidupkan. Meski belum bisa beroperasi penuh, aroma khas serabi yang dipanggang menggunakan wajan tanah liat dan tungku berbahan bakar kayu kembali menyapa warga setiap pagi.
“Memang sudah lama tidak jualan. Baru bulan kemarin mulai buka lagi. Untuk sementara melayani pagi hari sekitar pukul 06.00 sampai 08.00 WIB. Kalau ada pesanan bisa diambil kapan saja,” ujar Bowo saat ditemui di kediamannya, Selasa (2/6/2026).
Mulai pekan ini, ia juga mencoba menambah jam layanan pada sore hari pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Namun keterbatasan waktu masih menjadi tantangan karena dirinya harus bekerja di tempat lain demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Menurut Bowo, berjualan serabi saat ini belum cukup menjadi sumber penghasilan utama. Karena itu, usaha yang dahulu dirintis orang tuanya tetap dijalankan sebagai bentuk pelestarian tradisi keluarga sekaligus menjaga kuliner khas daerah agar tidak punah.
Padahal, serabi kelapa parut Tambakboyo pernah memiliki masa kejayaan. Cita rasanya yang khas membuat makanan ini dikenal hingga luar Kabupaten Batang dan pernah menarik perhatian sejumlah tokoh daerah.
Keistimewaan serabi ini terletak pada proses pembuatannya yang masih mempertahankan resep dan teknik tradisional. Adonan dibuat dari campuran tepung beras dan santan, kemudian diberi perasan daun pandan untuk menghadirkan aroma harum alami. Setelah dipanggang hingga matang, serabi disajikan hangat di atas daun pisang dengan siraman gula aren cair dan taburan kelapa parut segar.
Perpaduan rasa gurih santan, manis gula aren, serta aroma asap kayu dari tungku tradisional menghadirkan sensasi yang sulit ditemukan pada jajanan modern.
Saat ini, satu porsi berisi empat buah serabi dibanderol Rp10 ribu. Harga yang terjangkau tersebut membuat kuliner tradisional ini tetap diminati berbagai kalangan, mulai dari warga sekitar hingga pelanggan yang datang dari luar daerah.
Kembalinya serabi kelapa parut Tambakboyo menjadi kabar menggembirakan bagi para pecinta kuliner tradisional. Di tengah maraknya makanan kekinian, keberadaan jajanan legendaris ini menjadi bukti bahwa cita rasa warisan leluhur masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Lebih dari sekadar makanan, serabi Tambakboyo menyimpan cerita tentang ketekunan, tradisi keluarga, dan upaya menjaga identitas budaya lokal agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









