Di Tengah Gempuran Kuliner Modern, Serabi Legendaris Tambakboyo Batang Kembali Menyala dari Tungku Tradisional

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 10:16 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Foto : IG @ohanasprinting

Foto : IG @ohanasprinting

BATANG, KANALPLUS.ID – Asap tipis mengepul dari tungku kayu di sebuah rumah sederhana di Desa Tambakboyo, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang. Setelah sempat lama menghilang dari peredaran, serabi kelapa parut legendaris yang pernah menjadi buruan pecinta kuliner tradisional kini kembali diproduksi. Kehadirannya bukan sekadar mengobati kerinduan pelanggan lama, tetapi juga menjadi upaya mempertahankan warisan kuliner daerah yang mulai tergerus zaman.

Di tangan Bowo, usaha keluarga yang telah dikenal sejak puluhan tahun silam itu kembali dihidupkan. Meski belum bisa beroperasi penuh, aroma khas serabi yang dipanggang menggunakan wajan tanah liat dan tungku berbahan bakar kayu kembali menyapa warga setiap pagi.

“Memang sudah lama tidak jualan. Baru bulan kemarin mulai buka lagi. Untuk sementara melayani pagi hari sekitar pukul 06.00 sampai 08.00 WIB. Kalau ada pesanan bisa diambil kapan saja,” ujar Bowo saat ditemui di kediamannya, Selasa (2/6/2026).

Baca Juga :  Jogging Track Stadion Moh Sarengat Batang Disulap Berstandar Nasional, Atlet Tak Perlu Lagi Latihan ke Luar Daerah

Mulai pekan ini, ia juga mencoba menambah jam layanan pada sore hari pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Namun keterbatasan waktu masih menjadi tantangan karena dirinya harus bekerja di tempat lain demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Menurut Bowo, berjualan serabi saat ini belum cukup menjadi sumber penghasilan utama. Karena itu, usaha yang dahulu dirintis orang tuanya tetap dijalankan sebagai bentuk pelestarian tradisi keluarga sekaligus menjaga kuliner khas daerah agar tidak punah.

Padahal, serabi kelapa parut Tambakboyo pernah memiliki masa kejayaan. Cita rasanya yang khas membuat makanan ini dikenal hingga luar Kabupaten Batang dan pernah menarik perhatian sejumlah tokoh daerah.

Keistimewaan serabi ini terletak pada proses pembuatannya yang masih mempertahankan resep dan teknik tradisional. Adonan dibuat dari campuran tepung beras dan santan, kemudian diberi perasan daun pandan untuk menghadirkan aroma harum alami. Setelah dipanggang hingga matang, serabi disajikan hangat di atas daun pisang dengan siraman gula aren cair dan taburan kelapa parut segar.

Baca Juga :  Dari Rumah Tua ke Ruang Ngopi, Bumi Suja Tawarkan Kopi Roastery dan Suasana Hening di Tengah Kota Pekalongan

Perpaduan rasa gurih santan, manis gula aren, serta aroma asap kayu dari tungku tradisional menghadirkan sensasi yang sulit ditemukan pada jajanan modern.

Saat ini, satu porsi berisi empat buah serabi dibanderol Rp10 ribu. Harga yang terjangkau tersebut membuat kuliner tradisional ini tetap diminati berbagai kalangan, mulai dari warga sekitar hingga pelanggan yang datang dari luar daerah.

Kembalinya serabi kelapa parut Tambakboyo menjadi kabar menggembirakan bagi para pecinta kuliner tradisional. Di tengah maraknya makanan kekinian, keberadaan jajanan legendaris ini menjadi bukti bahwa cita rasa warisan leluhur masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Lebih dari sekadar makanan, serabi Tambakboyo menyimpan cerita tentang ketekunan, tradisi keluarga, dan upaya menjaga identitas budaya lokal agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Orang Indonesia Bukan Kebal Pedas, Otaknya yang Belajar Beradaptasi
Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang
10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia
Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu
Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering
Mengenal Pecel Bu Murni di Alun-alun Kota Pekalongan, Bertahan Hampir Setengah Abad dengan Pelanggan Setianya
Sempat Dikira Tutup, Lontong Tahu ‘Dunia Lain’ Pekalongan Ternyata Pindah ke Gang Sempit, Pelanggan Lama Banyak yang Kecele
Bertahan 40 Tahun, Leker Bara Api di Pekalongan Masih Laris Meski Terancam Tak Punya Penerus

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 05:40 WIB

Orang Indonesia Bukan Kebal Pedas, Otaknya yang Belajar Beradaptasi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:18 WIB

Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang

Selasa, 18 Agustus 2026 - 07:40 WIB

10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering

Berita Terbaru

Konsep Green Campus mulai diterapkan di Unikal yang diawali dengan kegiatan peningkatan kapasitas, Kamis (10/9/26). Foto: Istimewa

Kota Pekalongan

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:42 WIB