KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID — Sejumlah wali santri mulai menjemput anak-anak mereka dari Pondok Pesantren Padepokan Padang Ati, Simbangkulon, Buaran, Kabupaten Pekalongan, menyusul mencuatnya dugaan kasus kekerasan seksual yang menyeret pimpinan pondok tersebut.
Salah satu wali santri, Umi Khafsah, warga Medono, Kota Pekalongan, mengaku anaknya sendiri yang meminta pulang setelah mengetahui banyak santri lain sudah lebih dulu dijemput keluarganya.
“Jadi anaknya sendiri yang memang minta dijemput,” ujar Umi Khafsah di lokasi saat polisi melakukan olah TKP, Jum’at (29/5/2026) sore.
Ia mengaku baru mengetahui adanya dugaan kasus tersebut belakangan ini. Selama kurang lebih tiga tahun mondok, putrinya tidak pernah bercerita secara langsung mengalami hal mencurigakan.
Menurutnya, sang anak hanya pernah mendengar cerita dari santri senior terkait keberadaan pengasuh pondok. Namun keluarga tidak mengetahui secara detail situasi yang sebenarnya terjadi di dalam pondok.
Umi Khafsah juga mengungkapkan putrinya tinggal sendirian di kamar tanpa teman lain selama berada di pondok. Selain itu, para santri juga tidak diperbolehkan memegang telepon genggam sehingga informasi yang berkembang di luar pondok tidak diketahui anaknya.
“Dia tidak tahu apa-apa karena tidak boleh pegang handphone,” katanya.
Meski demikian, keluarga akhirnya memutuskan menjemput putrinya setelah kabar dugaan kasus kekerasan seksual ramai diperbincangkan dan banyak wali santri datang ke pondok untuk membawa pulang anak mereka.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









