Ikhtiar Warga Medono Pekalongan Menaklukkan Sampah dengan Teknologi Sederhana

- Jurnalis

Senin, 18 Mei 2026 - 08:54 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Dua pekerja sedang membangun tungku bakar tanah liat yang dilapisi dinding batu bata di lokasi TPS3R Kelurahan Medono, Minggu (17/5/26).

Dua pekerja sedang membangun tungku bakar tanah liat yang dilapisi dinding batu bata di lokasi TPS3R Kelurahan Medono, Minggu (17/5/26).

KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID — Bau menyengat, serbuan lalat dan tumpukan sampah sempat menjadi kekhawatiran warga saat rencana pembangunan tempat pengelolaan sampah muncul di lingkungan RW 06 Kelurahan Medono, Kota Pekalongan. Namun kekhawatiran itu perlahan berubah menjadi dukungan setelah warga melihat langsung cara kerja tungku bakar berteknologi sederhana berbahan lempung yang mampu mengolah sampah dengan minim asap dan lebih ramah lingkungan. Di tengah keterbatasan fasilitas serta persoalan tempat pembuangan akhir yang belum tuntas, warga pun memilih bergerak mandiri mencari solusi.

Mereka tidak menunggu proyek besar atau teknologi mahal. Dengan semangat gotong royong, warga bersama tokoh masyarakat dan yayasan setempat membangun tungku pembakar sampah mandiri berbahan dasar lempung khusus yang diadaptasi dari teknologi sederhana di Majalengka, Jawa Barat.

Tungku itu kini berdiri di area TPS 3R Mandiri Kelurahan Medono. Dari luar, bangunannya tampak seperti konstruksi bata biasa. Namun di balik dindingnya tersimpan sistem pembakaran yang dirancang agar panas tetap stabil, asap minim dan pembakaran lebih efektif.

Ketua RW 06 Kelurahan Medono, H Sujarwo, mengatakan ide pembangunan tungku muncul dari keresahan warga yang setiap hari harus hidup bergelut dengan persoalan sampah tanpa ada solusi baik dan memadai termasuk harus berdampingan dengan penampungan sampah sementara di dekat makam setempat.

“Warga mengeluh soal bau dan lalat, apalagi kalau musim hujan. Sampah menumpuk terus dan mengganggu kesehatan lingkungan. Dari situ kami berpikir bagaimana sampah ini bisa selesai di lingkungan sendiri,” ujarnya kepada kanalplus.id yang datang berkunjung, Minggu (17/5/2026).

Alih-alih mengandalkan solusi instan, Sujarwo bersama sejumlah pengurus RT dan tokoh masyarakat memilih melakukan studi banding ke Majalengka. Di sana, mereka melihat langsung sistem pengolahan sampah menggunakan tungku pembakaran berbahan lempung yang dinilai efektif dan lebih ramah lingkungan.

Hal pertama yang membuatnya tertarik justru bukan ukuran tungkunya, melainkan kondisi lokasi pengolahan yang bersih.

“Masuk ke sana itu bersih sekali. Sampah dibakar cepat habis dan asapnya hampir tidak kelihatan. Itu yang membuat saya yakin ini bisa diterapkan di Medono,” katanya.

Mengadopsi Teknologi Sederhana Berbasis Tanah Liat

Teknologi yang diadopsi warga Medono sebenarnya sangat sederhana. Bahan utamanya adalah lempung atau tanah liat khusus yang juga lazim dipakai sebagai bahan baku genteng Jatiwangi dan bata merah.

Baca Juga :  Soto Apang, Warisan Kuliner Sejak 1970-an yang Tetap Bertahan Berkat Soto Tahu Tempe Rp8.000

Namun, lempung tersebut tidak digunakan begitu saja. Material dicampur dengan sekam, dedak, garam, dan semen menggunakan komposisi tertentu agar mampu menahan panas tinggi sekaligus menjaga suhu luar tetap stabil.

“Dasarnya tetap lempung. Ada campuran sekam, dedek, garam dan semen dengan perbandingan tertentu. Tekniknya kami ambil persis dari Majalengka,” ujar Sujarwo

Struktur tungku dibuat berlapis. Bagian dalam menggunakan lapisan lempung tahan panas, lalu diberi ruang sirkulasi udara sebelum dilapisi tembok bata di bagian luar. Sistem dinding ganda itu membuat panas tidak langsung merambat keluar.

“Kalau di sana, saat tungku menyala bagian luar tetap tidak panas berlebihan. Ada ruang udara untuk sirkulasinya,” jelasnya.

Ukuran tungku yang dibangun di Medono mencapai 2,5 x 2,7 meter dengan tinggi sekitar 2,5 meter dengan kapasitas pembakaran diperkirakan mampu mencapai 1,5 ton sampah per hari.

Menurut Sujarwo, kapasitas itu dinilai cukup untuk menangani produksi sampah dari dua wilayah RW yang totalnya mencapai sekitar 1.200 kepala keluarga.

“Untuk tahap awal fokus kami menyelesaikan sampah di RW 06 dan RW 02 dulu. Jangan sampai terlalu besar dulu lalu menimbulkan persoalan baru,” katanya.

Sujarwo bahkan mengaku mulai membayangkan sistem pengelolaan sampah terpadu di Medono ke depan.

“Kalau nanti berkembang, sisa makanan bisa untuk ternak atau maggot. Jadi sampah benar-benar berkurang,” ujarnya.

Dibangun Swadaya, Menelan Biaya Rp80 Juta

Yang membuat proyek ini menarik bukan hanya teknologinya, tetapi juga cara pembangunannya. Seluruh proses dilakukan secara swadaya masyarakat.

Tidak ada bantuan anggaran pemerintah. Warga mengumpulkan dana secara gotong royong dibantu donatur lokal yang peduli terhadap kebersihan lingkungan.

Di sisi lain, Ketua Yayasan Tarbiyatuddunya Wal Akhiroh, Muhammad Yahya, mengungkapkan pembangunan tungku dan kawasan TPS 3R mandiri itu menelan biaya sekitar Rp80 juta.

“Jadi karena persoalan sampah ini masalah sosial bersama, yayasan akhirnya ikut terlibat. Kami memang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, jadi saat ada persoalan lingkungan seperti ini kami merasa harus ikut membantu,” terangnya.

Area TPS 3R yang dibangun memiliki luas sekitar 10 x 20 meter. Selain tungku pembakaran, kawasan itu nantinya dilengkapi ruang pemilahan sampah, gudang, kamar mandi, hingga ruang pertemuan warga.

Baca Juga :  Kerugian Kebakaran Tiga Rumah di Kota Pekalongan Ditaksir Rp2 Miliar

Sementara itu Sekretaris yayasan Wawan menambahkan pengembangan berikutnya dari TPS 3R nantinya juga diarahkan untuk pengolahan maggot dan kompos, meski saat ini fokus utama masih pada pengurangan timbunan sampah melalui pembakaran terkendali.

“Untuk tahap awal kami fokus operasional tungku dulu. Nanti sambil berjalan bisa berkembang ke maggot dan pengolahan lain,” bebernya.

Bukan Sekadar Membakar Sampah

Meski mengandalkan sistem pembakaran, warga mengklaim tungku tersebut tetap memperhatikan pemanfaatan residu. Abu hasil pembakaran nantinya direncanakan dimanfaatkan kembali sebagai bahan campuran paving block.

Selain itu, sampah bernilai ekonomis seperti botol plastik dan kemasan tetap akan dipilah sebelum masuk tungku.

“Yang masih punya nilai jual tetap dipisahkan. Jadi tidak semua dibakar,” jelas Wawan.

Menariknya lagi, inspirasi dari Majalengka tidak berhenti pada tungku pembakaran saja. Warga juga belajar bagaimana sisa makanan rumah tangga dapat dimanfaatkan untuk peternakan bebek, angsa, maupun budidaya maggot.

Menjawab Persoalan Kota

Persoalan sampah memang menjadi tantangan serius di Kota Pekalongan. Kapasitas tempat pembuangan akhir terus terbebani, sementara volume sampah rumah tangga terus meningkat.

Di tengah kondisi itu, langkah warga Medono dianggap menjadi contoh bagaimana teknologi sederhana berbasis material lokal dapat menjadi solusi alternatif.

Bukan teknologi mahal berbasis mesin modern, melainkan rekayasa sederhana dari tanah liat, bata, sekam dan ruang udara yang dirancang efektif menahan panas serta memaksimalkan pembakaran.

Model seperti ini dinilai lebih realistis diterapkan di lingkungan padat penduduk yang memiliki keterbatasan biaya operasional. Nantinya, operasional TPS 3R Mandiri akan melibatkan sekitar 10 tenaga kerja, mulai operator, pemilah hingga petugas pembakaran.

Sistem pembiayaannya pun dibuat fleksibel. Warga yang membuang sampah mandiri cukup memberikan iuran sukarela, rata-rata sekitar Rp2.000 sekali buang. Sedangkan pengangkutan menggunakan gerobak atau kendaraan pengangkut dikenai tarif tersendiri sesuai kapasitas.

Bagi warga Medono, tungku berbahan lempung itu bukan sekadar alat pembakar sampah. Ia menjadi simbol bahwa solusi lingkungan tidak selalu harus menunggu proyek besar atau teknologi mahal.

Kadang, perubahan justru lahir dari keresahan warga, gotong royong kampung, dan keberanian meniru hal baik dari daerah lain.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus
2.500 Warga Pekalongan Usulkan Bedah Rumah, Baru 317 yang Terverifikasi
Peserta Lomba Hadroh Al-Banjari Tingkat Kota Pekalongan Menurun, Panitia Siapkan Evaluasi
DLH Pekalongan Siapkan Mitigasi Cegah TPA Degayu Terbakar, 47 Persen Zona Pasif Ditutup Geomembran
Dinsos Kota Pekalongan Ungkap 3.280 Penerima Bansos Dicoret dari Daftar Kemensos
TPS 3R Mataram Asri Dioperasikan, Pemkot Pekalongan Mulai Kelola Sampah dari Lingkungan Setda
Data Desil Bansos Masih Bisa Dikoreksi, Wali Kota Pekalongan Minta Warga Laporkan Kalau Tak Sesuai
Lazismu Pekalongan Salurkan Bantuan Peralatan Usaha untuk 16 Pelaku UMKM

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 13:42 WIB

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Rabu, 9 September 2026 - 09:01 WIB

2.500 Warga Pekalongan Usulkan Bedah Rumah, Baru 317 yang Terverifikasi

Selasa, 8 September 2026 - 09:55 WIB

Peserta Lomba Hadroh Al-Banjari Tingkat Kota Pekalongan Menurun, Panitia Siapkan Evaluasi

Sabtu, 5 September 2026 - 09:55 WIB

DLH Pekalongan Siapkan Mitigasi Cegah TPA Degayu Terbakar, 47 Persen Zona Pasif Ditutup Geomembran

Jumat, 4 September 2026 - 10:29 WIB

Dinsos Kota Pekalongan Ungkap 3.280 Penerima Bansos Dicoret dari Daftar Kemensos

Berita Terbaru

Konsep Green Campus mulai diterapkan di Unikal yang diawali dengan kegiatan peningkatan kapasitas, Kamis (10/9/26). Foto: Istimewa

Kota Pekalongan

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:42 WIB