PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Turnamen sepak bola antarkampung (tarkam) Silirejo Cup 2026 yang digelar di Lapangan Desa Silirejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, menjadi sorotan setelah terjadi kericuhan dalam dua pertandingan berbeda secara berturut-turut pada Jumat (29/5/2026) dan Sabtu (30/5/2026).
Meski sempat memicu masuknya suporter ke lapangan dan membuat pertandingan terhenti, pihak kepolisian memastikan tidak ada korban serius maupun laporan resmi yang masuk terkait insiden tersebut. Namun, panitia penyelenggara, kepolisian PSSI Kabupaten Pekalongan sepakat melakukan evaluasi menyeluruh agar pertandingan-pertandingan berikutnya berjalan lebih aman.
Kapolsek Tirto Iptu Suprijanto mengatakan kericuhan paling besar terjadi pada pertandingan Sabtu sore antara Bangkid FC melawan Kedungwuni Barat FC.
Saat itu pertandingan dihentikan pada menit ke-62 ketika Kedungwuni Barat FC unggul 2-0. Insiden bermula setelah salah satu pemain Bangkid FC menerima kartu merah akibat pelanggaran kedua yang dilakukannya.
“Ketika pemain mendapatkan kartu merah, dari pemain tidak terima, ofisial tidak terima, kemudian suporter masuk ke lapangan. Situasi sempat memanas dan terjadi keributan antarsuporter,” kata Suprijanto saat dihubungi, Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, situasi semakin memanas setelah pemain yang menerima kartu merah diduga mendapat pukulan di tengah kerumunan yang masuk ke lapangan. Namun luka yang dialami hanya berupa memar dan lecet ringan.
“Tidak ada korban serius. Hanya memar dan luka ringan seperti terkena kuku. Tidak ada penggunaan senjata tajam dan tidak ada laporan polisi yang masuk,” jelasnya.
Petugas gabungan dari Polri, TNI, dan panitia kemudian melakukan penyekatan untuk memisahkan kelompok suporter yang mulai bergerak menuju area lawan.
Setelah pertandingan dihentikan, direktur pertandingan memanggil manajer kedua tim untuk mencari solusi. Karena waktu pertandingan tersisa hanya sekitar delapan menit dan skor masih 2-0 untuk Kedungwuni Barat FC, akhirnya kedua tim sepakat menerima hasil yang ada tanpa melanjutkan pertandingan.
“Sudah disepakati kedua manajer tim. Karena tinggal delapan menit lagi dan posisi skor 2-0, akhirnya diterima dan pertandingan dianggap selesai,” ujar Kapolsek.
Kericuhan serupa ternyata sudah terjadi sehari sebelumnya dalam pertandingan antara Kamus FC Surabayan melawan Ambokembang FC Kedungwuni.
Dalam laga yang dimenangkan Ambokembang FC dengan skor 2-0 tersebut, pertandingan sempat dihentikan pada menit ke-50 setelah terjadi perselisihan antar pemain di pinggir lapangan.
Menurut Suprijanto, insiden berawal dari benturan antar pemain yang kemudian memunculkan dugaan adanya tindakan pemukulan. Informasi tersebut menyebar ke suporter hingga memicu kegaduhan.
Namun situasi pada hari Jumat relatif lebih cepat terkendali dibandingkan kejadian Sabtu.
“Yang Jumat sempat berhenti, tetapi tidak seramai yang Sabtu. Karena waktu itu masih tersisa sekitar 20 menit pertandingan, akhirnya dilanjutkan keesokan harinya sesuai kesepakatan,” katanya.
Ketua PSSI Kabupaten Pekalongan, Andi Susanto, menilai tingginya antusiasme masyarakat menjadi salah satu faktor yang membuat pengamanan pertandingan semakin menantang.
Menurutnya, jumlah penonton yang hadir dalam pertandingan tersebut diperkirakan mencapai 5.000 hingga 6.000 orang.
“Antusiasmenya luar biasa. Khusus Silirejo memang sangat tinggi. Yang saya dengar jumlah penonton mencapai lima sampai enam ribu orang,” ujarnya.
Andi menjelaskan bahwa turnamen tersebut bukan agenda resmi PSSI, melainkan turnamen tarkam yang diselenggarakan oleh masyarakat dan panitia lokal. Meski demikian, PSSI tetap memberikan rekomendasi penyelenggaraan dan melakukan pengawasan terhadap aspek keamanan pertandingan.
“Kami tetap melakukan evaluasi setiap ada kejadian. Yang paling penting perangkat pertandingan, terutama wasit, harus mendapatkan perlindungan dan keamanan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pemain yang terbukti melanggar kode etik atau melakukan tindakan tidak sportif dapat dikenai sanksi oleh PSSI Kabupaten Pekalongan.
Andi mengungkapkan bahwa kompetisi tarkam di Kabupaten Pekalongan termasuk yang paling bergengsi dan memiliki antusiasme tinggi di Jawa Tengah.
Pada tahun 2025 saja tercatat ada 17 turnamen tarkam yang digelar di berbagai wilayah Kabupaten Pekalongan. Tahun ini sejumlah turnamen juga telah dan akan berlangsung di beberapa desa lainnya.
“Kalau tarkam di Kabupaten Pekalongan memang sangat antusias. Bisa dibilang salah satu yang paling heroik di Jawa Tengah,” ujarnya.
Ia menyebut turnamen-turnamen tersebut lebih banyak digerakkan oleh semangat kebanggaan desa daripada faktor hadiah.
Meski total hadiah yang diperebutkan cukup besar, banyak tim justru mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendatangkan pemain-pemain berkualitas dari luar daerah.
“Ini soal prestige. Kadang tim-tim desa berani mengeluarkan puluhan juta rupiah untuk mendatangkan pemain karena membawa nama desa,” katanya.
Ketua Panitia Silirejo Cup 2026, Amin, mengakui panitia kecolongan akibat jumlah penonton yang membludak melebihi perkiraan.
Menurutnya, sejak babak 16 besar pihak panitia sebenarnya sudah melakukan koordinasi dengan koordinator suporter serta aparat keamanan untuk menjaga situasi tetap kondusif.
Namun lonjakan jumlah penonton membuat pengawasan menjadi lebih sulit.
“Kemarin memang over penonton. Sampai ada penonton yang masuk ke lapangan. Itu yang membuat situasi menjadi sulit dikendalikan,” katanya.
Amin menilai pemicu utama kericuhan justru berasal dari tindakan sejumlah pemain yang dianggap terlalu provokatif sehingga memancing emosi suporter.
“Sebenarnya awalnya dari pemain. Ketika pemain melakukan tindakan yang provokatif, penonton dan suporter ikut terpancing,” ujarnya.
Turnamen Silirejo Cup sendiri merupakan penyelenggaraan kedua dan menawarkan total hadiah mencapai Rp100 juta. Dalam regulasinya, setiap tim wajib memainkan empat pemain asli desa dan diperbolehkan menggunakan tujuh pemain dari luar daerah.
Pengamanan Ditambah, Tidak Ada Pembatasan Penonton
Menyikapi dua insiden yang terjadi, panitia memastikan tidak akan membatasi jumlah penonton pada pertandingan selanjutnya. Sebagai gantinya, pengamanan akan diperketat dengan menambah personel TNI dan Polri.
Kapolsek Tirto menyebut pada pertandingan sebelumnya sudah diterjunkan sekitar 80 personel gabungan, terdiri atas anggota Polsek, personel Dalmas Polres Pekalongan, serta TNI.
Ke depan jumlah personel akan kembali ditambah dan ditempatkan pada titik-titik rawan.
“Kita tambah personel dan memperkuat penyekatan. Kemarin juga alhamdulillah situasi bisa diredam,” kata Suprijanto.
Sementara itu panitia akan menempatkan petugas lebih banyak di sekitar area suporter dan terus berkoordinasi dengan koordinator pendukung masing-masing tim.
Amin menegaskan bahwa keberhasilan menjaga keamanan tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat dan panitia.
“Kalau hanya mengandalkan panitia, TNI, dan Polri tentu tidak cukup. Harus ada kesadaran dari suporter dan kedua tim untuk sama-sama menjaga kondusivitas pertandingan,” ujarnya.
PSSI Kabupaten Pekalongan juga mengimbau seluruh pecinta sepak bola agar menjunjung tinggi sportivitas dan menjadikan turnamen tarkam sebagai ajang mempererat persaudaraan, bukan ajang permusuhan.
“Semua orang boleh ingin menang, tetapi sepak bola harus menjadi sarana silaturahmi dan persaudaraan. Sportivitas harus tetap dikedepankan,” kata Andi.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












