KANAL HIBURAN — Drama Korea atau drakor dan drama China atau dracin sama-sama sedang memenuhi layar ponsel penonton Indonesia. Keduanya menawarkan kisah percintaan, keluarga, konflik, kekuasaan hingga balas dendam.
Namun, jika diperhatikan lebih jauh, keduanya sebenarnya sedang memainkan permainan yang berbeda.
Drakor membangun kekuatan melalui karakter, cerita, aktor dan fandom yang kemudian berkembang menjadi ekosistem budaya. Sementara itu, terutama pada format micro-drama, industri China bergerak lebih agresif dengan mengandalkan durasi pendek, konflik cepat, algoritma media sosial dan monetisasi langsung dari penonton.
Dengan kata lain, Korea menjadikan drama sebagai bagian dari budaya populer, sedangkan China sedang menjadikan drama sebagai mesin konten digital berkecepatan tinggi.
Popularitas drakor bukan fenomena baru. Dalam satu dekade terakhir, drama Korea berkembang dari tontonan Asia menjadi produk hiburan global.
Survei Overseas Hallyu Survey menunjukkan drama menjadi salah satu kategori konten Korea yang paling banyak dikonsumsi di berbagai kawasan dunia. Di Netflix, konten Korea juga menjadi salah satu sumber tontonan non-Amerika terbesar.
Sebuah drama bisa membuat penonton mengikuti aktornya, mencari soundtrack-nya, membeli pakaian dan kosmetik yang digunakan karakter, hingga tertarik mengunjungi lokasi syuting.
Karena itu, nilai ekonomi drakor tidak bisa hanya dihitung dari biaya produksi atau pendapatan platform streaming. Efeknya bisa merembet ke musik, fashion, kosmetik, makanan, pariwisata hingga merchandise.
Studi mengenai ekosistem Hallyu bahkan memperkirakan nilai ekspor Hallyu Korea mencapai hampir US$19 miliar pada 2025. Angka tersebut mencakup ekosistem budaya yang luas dan bukan pendapatan industri drama semata. Di sinilah kekuatan utama drakor. Drama selesai, tetapi fandom bisa tetap hidup.
China mempunyai pasar domestik yang sangat besar. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena yang lebih menarik, yakni micro-drama atau drama pendek.
Format ini berbeda dengan C-drama konvensional yang bisa memiliki puluhan episode dengan durasi puluhan menit. Micro-drama dibuat jauh lebih pendek. Satu episode bisa hanya beberapa menit, bahkan kurang dari itu.
Cerita kemudian dipecah menjadi puluhan atau bahkan ratusan episode pendek. Model seperti ini sangat cocok dengan kebiasaan pengguna TikTok, Reels dan platform video pendek. Penonton tidak perlu menyediakan satu jam untuk menonton drama. Cukup beberapa menit.
Masalahnya, setiap episode harus membuat penonton ingin melanjutkan. Maka konflik biasanya datang dengan sangat cepat. Seorang tokoh dihina, ternyata pewaris keluarga kaya. Seorang istri diceraikan, kemudian identitas aslinya terungkap. Tokoh utama dikhianati, lalu mendapatkan kesempatan hidup kedua untuk membalas dendam. Begitu konflik selesai, muncul konflik baru. Kemudian layar berhenti. Bersambung. Inilah mesin utama micro-drama.
Perbedaan paling mudah dilihat dari cara keduanya membangun cerita. Drakor umumnya memberikan ruang lebih besar untuk perkembangan karakter. Hubungan antartokoh bisa dibangun selama beberapa episode. Masa lalu karakter perlahan dibuka. Konflik tidak selalu langsung diselesaikan.
Penonton diajak memahami mengapa seseorang mencintai, membenci, berkorban atau mengambil keputusan tertentu. Sementara micro-drama harus merebut perhatian dalam hitungan detik. Karena itu, konflik dan plot twist menjadi sangat penting. Bukan berarti drama China konvensional selalu menggunakan formula tersebut. Genre C-drama sangat luas, mulai dari wuxia, xianxia, sejarah, fantasi, romance hingga drama modern.
Tetapi pada micro-drama, cerita memang cenderung dibuat lebih padat dan emosional. Jika drakor mengajak penonton berkata, ‘Saya ingin tahu bagaimana hubungan mereka berkembang,’ micro-drama lebih sering membuat penonton berkata, ‘Apa yang terjadi berikutnya?’
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar terhadap bisnis. Model bisnis micro-drama memiliki kemiripan dengan game mobile.
Beberapa episode awal dapat diberikan secara gratis. Ketika penonton sudah penasaran, episode berikutnya bisa dibuka melalui iklan, pembelian dalam aplikasi atau sistem berlangganan. Semakin tinggi rasa penasaran, semakin besar peluang penonton terus membayar atau menonton iklan.
Pasar short drama China sendiri berkembang sangat cepat. Laporan industri yang dikutip Chambers and Partners memperkirakan pasar short drama China mencapai sekitar 100 miliar yuan pada 2025, dengan sekitar 700 juta pengguna domestik.
Yang lebih menarik adalah ekspansinya ke luar negeri. Pendapatan aplikasi drama pendek China dari pasar internasional dilaporkan mencapai sekitar US$3,24 miliar pada 2025. Lebih dari 800 aplikasi drama pendek China disebut telah masuk ke lebih dari 200 negara dan wilayah.
Angka tersebut menunjukkan bahwa micro-drama bukan lagi sekadar fenomena domestik China. Ia sudah menjadi produk ekspor.
Fenomena tersebut juga terlihat di Indonesia. Drama Asia mempunyai basis penonton yang besar. Survei KedaiKopi pada 2025 menunjukkan drama Asia menjadi salah satu kategori tontonan favorit masyarakat Indonesia. Namun, angka tersebut mencakup drama Korea, China dan Jepang sehingga tidak bisa digunakan untuk menentukan porsi masing-masing. Pada saat yang sama, micro-drama mulai mendapatkan ruang tersendiri.
Laporan Media Partners Asia yang dikutip sejumlah media memperkirakan pendapatan micro-drama di Indonesia mencapai sekitar US$66 juta pada 2025 dan berpotensi meningkat signifikan dalam beberapa tahun mendatang.
Mengapa Indonesia menarik?Karena perilaku konsumsi medianya cocok dengan format tersebut. Masyarakat Indonesia sangat aktif menggunakan media sosial dan platform video pendek. Cerita yang bisa dipahami tanpa pengetahuan budaya yang terlalu rumit juga relatif mudah menyebar.
Potongan adegan seorang CEO yang ternyata jatuh cinta kepada perempuan biasa, misalnya, bisa berdiri sendiri sebagai konten di media sosial. Penonton yang penasaran kemudian diarahkan ke episode lengkap.
Jadi, siapa yang lebih populer?Pertanyaan tersebut sebenarnya harus dibedakan berdasarkan ukurannya. Jika yang diukur adalah pengaruh budaya global dan fandom yang telah terbentuk, drakor memiliki basis yang sangat kuat.
Jika yang diukur adalah pertumbuhan micro-drama, jumlah pengguna dan kemampuan monetisasi berbasis smartphone, China sedang menunjukkan pertumbuhan yang sangat cepat.
Drakor bisa menghasilkan uang dari lisensi, streaming, iklan, endorsement, soundtrack, merchandise dan efek ekonomi terhadap fashion, kosmetik serta pariwisata.
Micro-drama memiliki jalur monetisasi yang lebih langsung seperti iklan, pembelian episode, langganan dan aplikasi. Karena itu, membandingkan angka pendapatan keduanya secara langsung juga harus hati-hati. Data industri Korea sering mencakup ekosistem Hallyu yang jauh lebih luas, sementara angka China yang banyak muncul dalam laporan terbaru secara khusus membahas pasar short drama atau micro-drama.
Pada akhirnya, persaingan drakor dan dracin bukan hanya soal siapa yang memiliki cerita lebih menarik. Keduanya mewakili dua model industri hiburan.
Korea membangun drama sebagai sebuah IP budaya. Karakter, aktor, musik, fashion dan gaya hidup menjadi bagian dari produk yang sama.
China, terutama melalui micro-drama, sedang membangun drama sebagai produk perhatian digital. Cerita diproduksi cepat, dipotong menjadi episode pendek, disebarkan melalui algoritma dan kemudian dimonetisasi langsung.
Karena itu ada perbedaan mendasar dalam cara keduanya mempertahankan penonton. Drakor ingin membuat penonton jatuh cinta kepada karakter. Micro-drama ingin membuat penonton tidak bisa berhenti menekan tombol episode berikutnya. Dan keduanya sama-sama menemukan pasar yang besar di Indonesia.
Pada akhirnya, mungkin bukan soal Drakor atau Dracin yang akan menguasai layar. Yang sedang berubah adalah cara manusia menonton drama. Dulu orang menunggu jadwal tayang. Kemudian orang menunggu episode baru di platform streaming. Sekarang, sebagian penonton cukup membuka ponsel dan berkata, ‘Kasih satu episode lagi.’ Dari kebiasaan kecil itulah industri bernilai miliaran dolar sedang dibangun.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












