KANAL PERISTIWA – Dugaan keracunan pemberian makanan tambahan (PMT) di Desa Rowobelang, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, ternyata melibatkan warga lebih banyak dari data awal. Dinas Kesehatan Kabupaten Batang kini mencatat 42 orang telah mengonsumsi PMT dan dari 42 orang tersebut, 37 orang mengalami gejala serta lima lainnya dilaporkan dalam kondisi aman.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang Ida Susilaksmi mengatakan, jumlah tersebut masih merupakan data sementara. Petugas kesehatan hingga Selasa (22/9/2026) siang masih menyusuri rumah-rumah warga untuk memastikan ada atau tidaknya warga lain yang ikut mengonsumsi makanan tersebut.
“Jadi total orang yang mengonsumsi PMT ada 42 orang. Dari 42 orang itu yang bergejala ada 37 orang, yang tidak bergejala ada lima orang,” kata Ida.
Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa skala konsumsi PMT dalam kegiatan Posyandu di RT 2/RW 2 Desa Rowobelang lebih besar dibanding informasi awal.
Menurut Ida, panitia menyediakan 50 porsi PMT yang terdiri atas kacang hijau, roti tawar, dan tahu bacem. Makanan tersebut dimasak sejak sekitar pukul 04.00 WIB pada Senin 21 September 2026.
Sementara kegiatan Posyandu yang semula dijadwalkan pukul 09.00 WIB baru dilaksanakan sekitar pukul 16.00 WIB karena ada warga yang meninggal dunia.
Beberapa jam setelah mengonsumsi PMT, warga mulai mengalami gejala. Berdasarkan penelusuran Dinkes, gejala rata-rata mulai dirasakan sekitar pukul 22.00 WIB atau menjelang dini hari.
Perkembangan penanganan medis kemudian juga menunjukkan sejumlah warga masih membutuhkan perawatan dan pengawasan.
Ia mengungkap dua warga yang sebelumnya mengeluhkan kondisi yang sama dengan korban yang menjalani perawatan datang sendiri ke rumah sakit dan langsung menjalani rawat inap tanpa menyadari adanya keterkaitan konsumsi PMT.
“Dua warga tersebut pada saat itu menganggap sebagai gejala sakit biasa seperti diare dan mual,” ujarnya.
Setelah laporan dugaan keracunan masuk ke Dinkes Batang sekitar pukul 07.00 WIB pada Selasa, petugas kemudian melakukan penanganan dan penyelidikan epidemiologi.
Hingga sekitar pukul 13.00 WIB, terdapat sembilan warga yang masih diobservasi di IGD. Dengan dua pasien yang sudah menjalani rawat inap, terdapat 11 orang yang masih mendapat penanganan di rumah sakit. Sementara 24 warga lainnya menjalani rawat jalan.
Dinkes Batang juga telah mengambil sampel makanan untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan tersebut. Sampel telah dikirim ke laboratorium dan hasilnya masih ditunggu.
Ida mengatakan, berdasarkan wawancara awal, sebagian besar warga yang mengalami gejala mengonsumsi kacang hijau. Namun, Dinkes belum menyimpulkan jenis makanan yang menjadi penyebab.
“Jadi kalau penyebab pastinya kan belum tahu, nanti dari hasil sampel diuji laboratorium terlebih dahulu,” terangnya.
Petugas Dinkes juga masih melakukan penyisiran dari rumah ke rumah. Karena itu, jumlah warga yang terdampak masih dapat berubah seiring proses pendataan. Ida memastikan penanganan warga yang mengalami dugaan kasus keracunan diberikan secara gratis.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












