Sidang Pokok Perkara JPU Dakwa AHF Salahgunakan Kedudukan untuk Kekerasan Seksual, Kuasa Hukum Bantah

- Jurnalis

Senin, 7 September 2026 - 16:29 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Tim penasehat hukum AHF yang baru dalam sidang perdana pokok perkara dugaan kekerasan seksual di PN Pekalongan, Senin (7/9/26). Foto: Istimewa & Ilustrasi AI

Tim penasehat hukum AHF yang baru dalam sidang perdana pokok perkara dugaan kekerasan seksual di PN Pekalongan, Senin (7/9/26). Foto: Istimewa & Ilustrasi AI

KANAL HUKUM – Sidang perdana perkara dugaan kekerasan seksual dengan terdakwa pimpinan Padepokan Padang Ati, KH Abdul Halim Fadlun (AHF), digelar di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan, Senin (7/9/2026).

Dalam sidang beragenda pembacaan surat dakwaan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa AHF dengan sejumlah pasal terkait dugaan tindak pidana kekerasan seksual dan perbuatan cabul.

Dalam dakwaan pertama, JPU menyusun dakwaan secara primair dan subsidiair.

Untuk dakwaan primair, AHF didakwa melanggar Pasal 6 huruf c juncto Pasal 15 ayat (1) huruf e Undang-Undang RI Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, juncto Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

Sedangkan dakwaan subsidiair menggunakan Pasal 6 huruf c UU RI Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual juncto UU RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.

Selain itu, JPU juga mendakwa AHF dengan dakwaan kedua, yakni Pasal 294 ayat (2) ke-2 UU RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana (KUHP).

Dalam uraian dakwaannya, JPU menyebut dugaan perbuatan tersebut terjadi sekitar tahun 2022 hingga 2023 di Pondok Pesantren/Padepokan Padang Ati, Jalan KH A Fadlun, Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan.

JPU mendalilkan AHF telah menyalahgunakan kedudukan, wewenang, kepercayaan atau perbawa yang timbul dari tipu muslihat maupun hubungan keadaan.

Baca Juga :  Tim Pengacara AHF Mundur Jelang Sidang Perdana Pokok Perkara Dugaan Kekerasan Seksual di Padepokan Padang Ati Pekalongan

Jaksa juga mendalilkan terdakwa memanfaatkan kerentanan, ketidaksetaraan atau ketergantungan seseorang untuk memaksa atau dengan penyesatan menggerakkan orang tersebut melakukan atau membiarkan dilakukan persetubuhan atau perbuatan cabul dengannya maupun dengan orang lain.

Namun, seluruh dakwaan tersebut langsung dibantah oleh kuasa hukum baru AHF, Muchtar Hadi Wibowo, seusai persidangan.

Muchtar menegaskan pihaknya tidak sependapat dengan konstruksi perkara yang disampaikan JPU. Menurutnya, dakwaan tersebut masih harus diuji dengan fakta dan alat bukti yang akan terungkap selama persidangan.

“Kami membantah kalau Pak Yai Abdul Halim, pemilik Padepokan Padang Ati, melakukan seperti apa yang didakwakan oleh JPU,” kata Muchtar.

Ia menilai surat dakwaan JPU masih kabur dan tidak cermat dalam menguraikan tindak pidana yang dituduhkan kepada kliennya.

“Dakwaan JPU masih kabur, perlu diuji dengan bukti-bukti dan fakta-fakta di persidangan. Saya melihat dakwaan JPU tidak cermat, tidak jelas, atau tidak lengkap dalam menguraikan tindak pidana yang didakwakan,” ujarnya.

Muchtar juga menyinggung adanya keterangan dari saksi korban yang menurutnya justru membantah tuduhan tersebut. Selain itu, ia menyebut hasil pemeriksaan DNA oleh kepolisian tidak identik atau negatif.

Baca Juga :  Tiga Mobil Dinas Bupati Pekalongan Digores, Pemkab Sebut Sudah ke Polisi Tapi Dibantah Belum Ada Laporan

“Karena ada saksi korban telah membantah, apalagi tes DNA oleh pihak kepolisian tidak identik atau negatif,” terangnya.

Meski demikian, Muchtar tidak menjelaskan lebih jauh mengenai bagian dakwaan atau bukti apa yang dimaksud dengan pemeriksaan DNA tersebut. Ia menyatakan hal itu nantinya akan diuji dalam proses persidangan.

Muchtar juga meminta semua pihak mengedepankan asas praduga tak bersalah. Menurutnya, AHF harus dianggap tidak bersalah sampai ada putusan pengadilan yang menyatakan sebaliknya dan berkekuatan hukum tetap.

Ia bahkan menyinggung kemungkinan adanya pihak tertentu yang menurutnya berupaya memaksakan perkara tersebut.

“Kalau ada oknum tertentu yang memaksakan, itu melanggar aturan yang berlaku. Ini negara hukum,” tegasnya.

Pihaknya, kata Muchtar, akan menggunakan hak terdakwa untuk mengajukan keberatan atau eksepsi terhadap dakwaan JPU pada persidangan pekan depan.

Ia berharap majelis hakim menguji seluruh dakwaan berdasarkan alat bukti dan fakta yang terungkap di persidangan.

“Apabila Pak Kyai Abdul Halim dalam persidangan tidak cukup bukti, hakim harus tidak ragu-ragu membebaskan beliau dari semua dakwaan, tuntutan dan hukuman,” jelas Muchtar.

Sidang perkara ini selanjutnya akan memasuki agenda eksepsi atau nota keberatan dari pihak terdakwa atas surat dakwaan JPU

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dua Pembatik Muda Ini Hadirkan Green Batik, Pewarna Alam dan Desain untuk Generasi Baru
Dana Atlet Porprov Rp798 Juta Diduga Lari ke Pasar Saham, Bendahara Koni Kendal Dibui
Empat Pejabat Pekalongan ‘Dijemput’ KPK, Jejak Uang Proyek Outsourcing Mulai Dibedah
PN Pekalongan Vonis Terdakwa Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur Empat Tahun Penjara, Keluarga Korban Menangis Kecewa
Kisah Pilu Ibu di Pekalongan Perjuangkan Keadilan Bagi Putri Kecilnya Korban Dugaan Kejahatan Seksual Ayah Kandung
Terbukti Lakukan Kekerasan Seksual Terhadap ART Anak di Bawah Umur, Dokter Gigi di Kota Pekalongan Divonis 9 Tahun Penjara
Sprint Rally di KEK Batang Dibatasi 135 Starter, Pemkab Buka Wacana Sirkuit Permanen
Jaksa Masuk Sekolah, Siswa di Batang Malah Kepo Gaji Aparat Penegak Hukum

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 05:33 WIB

Dua Pembatik Muda Ini Hadirkan Green Batik, Pewarna Alam dan Desain untuk Generasi Baru

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Dana Atlet Porprov Rp798 Juta Diduga Lari ke Pasar Saham, Bendahara Koni Kendal Dibui

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:41 WIB

Empat Pejabat Pekalongan ‘Dijemput’ KPK, Jejak Uang Proyek Outsourcing Mulai Dibedah

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:46 WIB

PN Pekalongan Vonis Terdakwa Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur Empat Tahun Penjara, Keluarga Korban Menangis Kecewa

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:23 WIB

Kisah Pilu Ibu di Pekalongan Perjuangkan Keadilan Bagi Putri Kecilnya Korban Dugaan Kejahatan Seksual Ayah Kandung

Berita Terbaru