KANAL BATANG – Jumlah kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Batang mengalami penurunan sepanjang 2026 dibandingkan periode yang sama pada 2025. Meski demikian, jalan tol masih menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian serius karena kecelakaan yang terjadi di ruas tersebut cenderung memiliki fatalitas lebih tinggi.
Kasat Lantas Polresta Batang Kompol Dwi Panji Lestari mengatakan, berdasarkan analisis dan evaluasi (Anev) lalu lintas, sebagian besar kecelakaan di jalan tol berkaitan dengan human error, terutama kurangnya konsentrasi pengemudi.
“Mayoritas itu human error. Terutama untuk di tol, kemungkinan besar ini memang di daerah Batang menjadi salah satu titik jenuh pengemudi, baik dari arah Jakarta ke Surabaya maupun sebaliknya,” kata Dwi kepada wartawan, Senin (21/9/2026).
Batang berada di jalur utama Pulau Jawa yang menjadi lintasan kendaraan dari Jakarta menuju Jawa Timur maupun sebaliknya. Kondisi tersebut membuat pengemudi menempuh perjalanan panjang ketika melintasi wilayah Batang.
Dwi menyebut, dari analisis kecelakaan yang dilakukan Satlantas, kecelakaan di tol yang terjadi di Batang banyak berupa tabrak belakang.
“Memang terjadi mayoritas di Kabupaten Batang di tol dan itu tabrak belakang. Jadi yang jelas itu adalah human error ataupun kurangnya konsentrasi pengemudi,” ujarnya.
Data Anev Satlantas Polresta Batang menunjukkan jumlah kecelakaan lalu lintas turun dari 550 kasus pada 2025 menjadi 325 kasus pada 2026, atau berkurang sekitar 41 persen.
Jumlah korban luka ringan juga turun dari 586 orang menjadi 334 orang, sedangkan kerugian material berkurang dari sekitar Rp1,42 miliar menjadi Rp985,05 juta.
Namun, penurunan jumlah kejadian tersebut tidak serta-merta membuat persoalan kecelakaan di jalan raya selesai. Satlantas mencatat fatalitas kecelakaan lebih banyak terjadi di jalan tol dibandingkan jalur arteri.
“Untuk jumlah kecelakaan baik itu di arteri maupun di tol ini bervariasi. Cuman untuk fatalitas kebanyakan memang lebih banyak di tol,” jelas Dwi.
Salah satu waktu yang menjadi perhatian adalah periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Berdasarkan analisis waktu kejadian, kecelakaan banyak terjadi pada rentang tersebut.
Kondisi itu berkaitan dengan risiko pengemudi mengalami kelelahan hingga microsleep, terutama mereka yang melakukan perjalanan jauh.
“Ini kebanyakan kejadian di tol dan di jam rawan, kemungkinan terjadi microsleep,” terang Dwi.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Satlantas Polresta Batang telah berkoordinasi dengan pihak pengelola jalan tol. Data hasil analisis kecelakaan disampaikan kepada pihak terkait untuk menentukan langkah pencegahan di titik-titik rawan.
Upaya tersebut antara lain meningkatkan patroli pada jam-jam rawan serta mengusulkan pemasangan pita kejut di sejumlah titik yang masuk kategori rawan kecelakaan.
“Kami sudah berkorelasi dengan Jasa Marga terkait itu. Kami memberikan data analisa, kami berbicara berdasarkan data, kami sajikan data tersebut ke Jasa Marga dan kami bekerja sama untuk mengupayakan seperti patroli lebih jam-jam rawan,” paparnya.
Satlantas juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar pengemudi lebih disiplin dan tidak memaksakan diri ketika kondisi tubuh sudah lelah.
Dwi mengingatkan pengemudi yang merasa mengantuk atau kelelahan agar tidak melanjutkan perjalanan.
“Kalau memang lelah, lebih baik istirahat terlebih dahulu kemudian baru melanjutkan perjalanan,” imbaunya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












