Soto KTL Bu Iru, Legenda Kuliner Pekalongan yang Terus Diburu Sejak 1985

- Jurnalis

Kamis, 23 April 2026 - 17:49 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Rukiyah (73) yang karib disapa Bu Iru dibantu salah satu anak perempuannya sedang menyajikan Soto KTL kepada pelanggan di warung sederhananya yang berlokasi di Kelurahan Kauman Wiradesa, Kamis (23/4/26).

Rukiyah (73) yang karib disapa Bu Iru dibantu salah satu anak perempuannya sedang menyajikan Soto KTL kepada pelanggan di warung sederhananya yang berlokasi di Kelurahan Kauman Wiradesa, Kamis (23/4/26).

PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Di tengah beragamnya kuliner soto dan tauto khas Pekalongan, ada satu menu ekstrem yang hanya bisa ditemukan di satu tempat, namanya Soto KTL Bu Iru di mana KTL adalah singkatan dari kontol sapi, bagian daging yang jarang diolah dan bahkan tak laku dijual di pasar. Namun sejak 1985, justru potongan unik inilah yang mengantarkan nama Rukiyah (73) atau yang akrab disapa Bu Iru, menjadi salah satu legenda kuliner Kabupaten Pekalongan.

Lokasi warung Soto KTL berada di Kelurahan Kauman, Kecamatan Wiradesa, warung sederhana ini tidak pernah sepi. Aroma tauco fermentasi khas tauto berpadu rasa gurih daging khas KTL menjadi ciri yang tak ditemukan di daerah lain, bahkan di seluruh Indonesia.

Bu Iru mengenang, ide menjual Soto KTL muncul saat bagian daging tersebut dulu berlimpah dan tak ada yang membeli alias tidak laku.

“Itu kan di pasar nggak laku. Terus saya ambil, nyoba-nyoba. Kok enak. Banyak yang suka,” kata Bu Iru saat ditemui di warungnya yang sederhana, Kamis (23/4/2026).

Sejak itu, Soto KTL Bu Iru langsung mencuri perhatian dan laris manis. Pada masa jayanya, dalam sehari ia bisa menghabiskan 5–6 kilogram daging KTL.

Baca Juga :  KAI Tambah Kapasitas KA Kaligung Selama September, Warga Pekalongan Lebih Mudah ke Semarang

Kini, pasokan tak lagi mudah. Ia harus pesan ke luar daerah, terkadang hanya mendapat satu atau dua potong sehari. Bahkan bisa nihil. Jika sedang beruntung, bisa memperoleh maksimal enam potong.

Untuk memenuhi permintaan pelanggan, daging KTL kini sering dicampur daging sapi biasa. Jumlah penjualan harian pun turun menjadi sekitar 3 kilogram atau 60 porsi lebih.

Namun meski pasokan tipis, satu hal yang tak berubah sejak dahulu, selalu ludes sebelum jam 1 siang. Padahal warung buka tiap pukul 09.00 WIB.

Bu Iru mengungkap, kenaikan harga mengikuti melambungnya harga daging sehingga harga jual per satu porsinya juga bertambah dari awal jualan Rp1500 hingga kini Rp20 ribu per porsi.

“Dulu harga dagingnya masih murah. Sekarang harga daging Rp130 ribu per kilo,” katanya.

Meski begitu, tak mengurangi antusiasme pembeli yang datang dari kantor-kantor sekitar hingga wilayah kota dan kabupaten.

Fandi (50), pelanggan yang mengaku sudah makan Soto KTL sejak puluhan tahun lalu, mengatakan cita rasa daging KTL tak bisa dibandingkan dengan daging sapi biasa.

“Jasi dagingnya itu selalu fresh, manis. Teksturnya lembut. Rasanya enak dan unik. Jarang ada, yang jual, hanya di sini tempatnya” ujarnya.

Baca Juga :  Baru Sepekan Buka, Seafood Gerobak di Tengah Kampung Bojong Ini Usung Konsep Live Cooking dan Sajikan Cita Rasa Pesisir

Ia bahkan datang seminggu dua kali hanya untuk menyantap menu yang menurutnya tidak tergantikan.

Siti (40), warga Wonokerto, sudah menikmati Soto KTL sejak SMA. Baru-baru ini ia kembali datang setelah menu tersebut viral di TikTok.

“Saya pesan yang KTL. Rasanya pedas-pedas enak, masih sama kayak dulu dan harganya cukup worth it, hanya Rp20 ribu per porsi,” katanya.

Meski kini sudah berkeluarga, ia mengaku masih kerap datang bersama para sahabatnya untuk menikmati kuliner yang sudah ada ketika dirinya masih sekolah.

Hal senada juga diungkapkan Gina (49), warga Tirto, yang sudah 15 tahun menjadi pelanggan. Ia selalu membeli dua porsi untuk dibawa pulang.

“Rasanya enak. Yang membedakan ya KTL-nya. Di tempat lain nggak ada,” ucapnya.

Gina mengingat kalau dahulu harga per porsi hanya Rp7.000–Rp13.000. Kini sudah Rp20.000. Namun menurut para pelanggan lainnya, harga tersebut masih sangat terjangkau untuk rasa seunik itu.

Bagi yang belum pernah mencoba, soto “KTL” mungkin terdengar ekstrem. Namun bagi warga Pekalongan, menu ini justru menjadi ikon unik yang terus diburu.

 

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Orang Indonesia Bukan Kebal Pedas, Otaknya yang Belajar Beradaptasi
Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang
10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia
Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu
Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering
Mengenal Pecel Bu Murni di Alun-alun Kota Pekalongan, Bertahan Hampir Setengah Abad dengan Pelanggan Setianya
Sempat Dikira Tutup, Lontong Tahu ‘Dunia Lain’ Pekalongan Ternyata Pindah ke Gang Sempit, Pelanggan Lama Banyak yang Kecele
Bertahan 40 Tahun, Leker Bara Api di Pekalongan Masih Laris Meski Terancam Tak Punya Penerus

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 05:40 WIB

Orang Indonesia Bukan Kebal Pedas, Otaknya yang Belajar Beradaptasi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:18 WIB

Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang

Selasa, 18 Agustus 2026 - 07:40 WIB

10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering

Berita Terbaru

Konsep Green Campus mulai diterapkan di Unikal yang diawali dengan kegiatan peningkatan kapasitas, Kamis (10/9/26). Foto: Istimewa

Kota Pekalongan

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Kamis, 10 Sep 2026 - 13:42 WIB