KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID — Di tengah gempuran kuliner modern, kue bapel tetap menjadi salah satu ikon kuliner legendaris Kota Pekalongan yang tak lekang oleh waktu. Penganan tradisional ini dikenal dengan aroma harum pandan, rasa legit, serta tekstur kenyal dan lembut yang khas, membuatnya terus diburu lintas generasi.
Salah satu penjaga cita rasa otentik kue bapel adalah Ny Hwa, generasi kedua penerus usaha keluarga yang telah berjualan sejak era 1960-an. Ia melanjutkan usaha yang dirintis sang ibu, sekaligus mempertahankan resep turun-temurun yang menjadi kunci kelezatan kue tersebut.
“Dulu mama jualan di sekitar alun-alun. Saya sering ikut sejak kecil, sampai akhirnya diajari membuat adonan bapel,” ujar Ny Hwa saat ditemui di kiosnya di kawasan perempatan Grogolan, Pekalongan, Rabu (29/4/2026).
Nama ‘Kue Bapel Ny Hwa’ pun digunakan sesuai pesan sang ibu agar tetap dipertahankan sebagai identitas usaha. Kini, kue tersebut lebih dikenal masyarakat dengan sebutan kue bapel Grogolan, merujuk pada lokasi tempat ia berjualan.
Perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Saat remaja, Ny Hwa sempat berjualan secara lesehan di sekitar Pasar Raya Sriratu, tepatnya di depan Toko Podo Joyo selama sekitar lima tahun. Setelah berpindah-pindah lokasi, ia akhirnya menetap di kios sederhana di perempatan lampu merah Grogolan yang kini menjadi titik favorit pelanggan.
Kue bapel dibuat dari bahan-bahan alami seperti tepung terigu, gula, santan, telur, air pandan, dan daun jeruk. Keunikan lainnya terletak pada penggunaan pisang sobo, jenis pisang khas yang menurut Ny Hwa tidak bisa digantikan.
“Kalau bukan pisang sobo, rasanya beda. Saya selalu jaga kualitas bahan supaya rasanya tetap sama seperti dulu,” jelasnya.
Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara tradisional, yakni dipanggang menggunakan cetakan besi di atas bara api. Dalam waktu singkat, adonan berubah menjadi kuning kecokelatan dengan sedikit bagian gosong di permukaan, menghasilkan aroma khas yang menggugah selera.
Dalam kondisi normal, Ny Hwa mampu menjual sekitar 100 kue bapel hanya dalam waktu satu hingga dua jam. Ia membuka lapak pada sore hari, biasanya mulai pukul 15.00 WIB dan melayani pembeli hingga sekitar pukul 17.00 WIB atau hingga dagangan habis.
“Kalau sudah habis, ya tutup. Kadang kalau pesanan banyak, penjualan langsung saya hentikan dulu,” tuturnya.
Daya tarik kue bapel tak hanya menjangkau warga lokal. Pelanggan datang dari berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, hingga Semarang. Bahkan, tak jarang pembeli dari luar pulau dan luar negeri turut memburu kuliner khas ini saat berkunjung ke Pekalongan.
Kue bapel memang tidak menggunakan bahan pengawet, sehingga hanya bertahan dua hingga tiga hari. Namun, justru di situlah letak keistimewaannya—paling nikmat disantap dalam kondisi hangat saat baru matang.
Dari sisi harga, kue bapel juga mengalami penyesuaian seiring waktu. Jika sebelum krisis moneter 1997 dijual sekitar Rp600 per buah, kini harganya mencapai Rp10 ribu per buah, sebanding dengan kualitas dan cita rasa yang ditawarkan.
“Yang membedakan itu rasa asli warisan keluarga dan bahan yang kami pakai. Harganya memang berbeda, tapi sepadan,” tegas Ny Hwa.
Kini, di usia 65 tahun, Ny Hwa mulai mengurangi aktivitas produksi dan lebih banyak mengawasi usaha yang dibantu oleh anak keduanya. Meski demikian, eksistensi kue bapel tetap terjaga, bahkan pelanggannya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum hingga pejabat.
Bagi Ny Hwa, kue bapel bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari sejarah panjang kuliner Pekalongan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
“Yang jelas, kue bapel ini sudah ada sejak lama di Pekalongan, bahkan sebelum mama mulai jualan,” pungkasnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









