KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Jangan tertipu tampilannya. Di sebuah warung sederhana berukuran tak lebih dari 3,5 x 4 meter di Jalan Patriot, Kota Pekalongan, justru tersimpan salah satu rasa yang paling dirindukan banyak orang.
Warung milik Rohmah, atau yang akrab disapa Bu Mah, sudah berdiri sejak 1998. Namun hingga kini, satu hal tak pernah berubah yakni antrean pelanggan yang datang pagi-pagi demi seporsi soto tauto, kuliner khas Pekalongan dengan cita rasa yang sulit ditemukan di tempat lain.
Aroma kuah rempah mulai tercium sejak pukul 08.30. Panci besar sudah mengepul, seolah memberi tanda bahwa perburuan rasa dimulai. Tapi ada satu aturan tak tertulis bagi para pelanggan, yakni datang lebih awal, atau siap-siap gigit jari.
“Biasanya lewat jam 12 siang sudah habis,” ucap Bu Mah kepada kanalplus.id yang datang berkunjung sepekan lalu.
Dengan harga yang terjangkau, Rp15 ribu per porsi, pembeli bisa memilih isian sesuai selera, mulai dari daging, babat, hingga jeroan. Disajikan bersama nasi hangat atau lontong, ditambah perasan jeruk nipis dan aneka kerupuk, seporsi soto tauto ini terasa sederhana, tapi menyimpan kedalaman rasa yang khas.
Rahasia utamanya ada pada tauco, fermentasi kedelai yang menjadi pembeda utama dari soto pada umumnya. Kuahnya tidak bening, melainkan pekat dengan aroma khas yang langsung menggoda sejak suapan pertama.
“Jadi kalau soto biasa kan bening, tidak pakai tauco. Nah, di sini tauco jadi kunci rasanya,” jelas Bu Mah.
Yang membuatnya semakin menarik, sensasi hangat dari kuah rempah ini tidak meninggalkan rasa haus berlebihan. Justru sebaliknya, banyak pelanggan mengaku ketagihan dan kembali lagi.
Rizal (35), warga Bandengan yang bekerja sebagai pemandu wisata, adalah salah satunya. Sejak masih SMP hingga kini berkeluarga, ia mengaku tak pernah benar-benar lepas dari soto tauto Bu Mah.
“Kalau lagi ke luar kota, yang kangen itu rasanya. Kadang sekali makan bisa dua porsi,” ujarnya sambil tersenyum.
Cerita serupa datang dari Isdah (46), warga Batang. Meski harus menempuh perjalanan cukup jauh, ia tetap menyempatkan diri datang hanya untuk satu tujuan, yakni menikmati soto tauto Bu Mah.
“Rasanya itu beda, rempahnya pas. Habis makan juga tidak bikin haus, itu yang bikin nagih,” katanya.
Dalam sehari, lebih dari 100 porsi bisa ludes terjual. Bukan sekadar soal rasa, warung ini seperti menyimpan sesuatu yang lebih dalam seperti nostalgia, kenangan, bahkan alasan untuk pulang.
Di tengah banyaknya pilihan kuliner, soto tauto Bu Mah membuktikan satu hal, kadang yang paling sederhana justru yang paling sulit dilupakan.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









