Soto Tauto Bu Mah, Rasa Otentik yang Selalu Bikin Kangen Pulang ke Pekalongan

- Jurnalis

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:39 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Satu mangkuk soto tauto siap disajikan ke pelanggan di warung soto tauto Bu Mah yang berlokasi di Jalan Patriot, Kota Pekalongan (Achmad Udin/kanalplus.id)

Satu mangkuk soto tauto siap disajikan ke pelanggan di warung soto tauto Bu Mah yang berlokasi di Jalan Patriot, Kota Pekalongan (Achmad Udin/kanalplus.id)

KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Jangan tertipu tampilannya. Di sebuah warung sederhana berukuran tak lebih dari 3,5 x 4 meter di Jalan Patriot, Kota Pekalongan, justru tersimpan salah satu rasa yang paling dirindukan banyak orang.

Warung milik Rohmah, atau yang akrab disapa Bu Mah, sudah berdiri sejak 1998. Namun hingga kini, satu hal tak pernah berubah yakni antrean pelanggan yang datang pagi-pagi demi seporsi soto tauto, kuliner khas Pekalongan dengan cita rasa yang sulit ditemukan di tempat lain.

Aroma kuah rempah mulai tercium sejak pukul 08.30. Panci besar sudah mengepul, seolah memberi tanda bahwa perburuan rasa dimulai. Tapi ada satu aturan tak tertulis bagi para pelanggan, yakni datang lebih awal, atau siap-siap gigit jari.

“Biasanya lewat jam 12 siang sudah habis,” ucap Bu Mah kepada kanalplus.id yang datang berkunjung sepekan lalu.

Baca Juga :  Bikin Warga Ketakutan, Pria Bawa Sajam di Jalanan Pekalongan Diciduk Polisi

Dengan harga yang terjangkau, Rp15 ribu per porsi, pembeli bisa memilih isian sesuai selera, mulai dari daging, babat, hingga jeroan. Disajikan bersama nasi hangat atau lontong, ditambah perasan jeruk nipis dan aneka kerupuk, seporsi soto tauto ini terasa sederhana, tapi menyimpan kedalaman rasa yang khas.

Rahasia utamanya ada pada tauco, fermentasi kedelai yang menjadi pembeda utama dari soto pada umumnya. Kuahnya tidak bening, melainkan pekat dengan aroma khas yang langsung menggoda sejak suapan pertama.

“Jadi kalau soto biasa kan bening, tidak pakai tauco. Nah, di sini tauco jadi kunci rasanya,” jelas Bu Mah.

Yang membuatnya semakin menarik, sensasi hangat dari kuah rempah ini tidak meninggalkan rasa haus berlebihan. Justru sebaliknya, banyak pelanggan mengaku ketagihan dan kembali lagi.

Rizal (35), warga Bandengan yang bekerja sebagai pemandu wisata, adalah salah satunya. Sejak masih SMP hingga kini berkeluarga, ia mengaku tak pernah benar-benar lepas dari soto tauto Bu Mah.

Baca Juga :  Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang

“Kalau lagi ke luar kota, yang kangen itu rasanya. Kadang sekali makan bisa dua porsi,” ujarnya sambil tersenyum.

Cerita serupa datang dari Isdah (46), warga Batang. Meski harus menempuh perjalanan cukup jauh, ia tetap menyempatkan diri datang hanya untuk satu tujuan, yakni menikmati soto tauto Bu Mah.

“Rasanya itu beda, rempahnya pas. Habis makan juga tidak bikin haus, itu yang bikin nagih,” katanya.

Dalam sehari, lebih dari 100 porsi bisa ludes terjual. Bukan sekadar soal rasa, warung ini seperti menyimpan sesuatu yang lebih dalam seperti nostalgia, kenangan, bahkan alasan untuk pulang.

Di tengah banyaknya pilihan kuliner, soto tauto Bu Mah membuktikan satu hal, kadang yang paling sederhana justru yang paling sulit dilupakan.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Orang Indonesia Bukan Kebal Pedas, Otaknya yang Belajar Beradaptasi
Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang
10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia
Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu
Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering
Mengenal Pecel Bu Murni di Alun-alun Kota Pekalongan, Bertahan Hampir Setengah Abad dengan Pelanggan Setianya
Sempat Dikira Tutup, Lontong Tahu ‘Dunia Lain’ Pekalongan Ternyata Pindah ke Gang Sempit, Pelanggan Lama Banyak yang Kecele
Bertahan 40 Tahun, Leker Bara Api di Pekalongan Masih Laris Meski Terancam Tak Punya Penerus

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 05:40 WIB

Orang Indonesia Bukan Kebal Pedas, Otaknya yang Belajar Beradaptasi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:18 WIB

Soto Semarang Mas Bagas di Jalan Jawa Kota Pekalongan, Pilihan untuk Sarapan atau Makan Siang

Selasa, 18 Agustus 2026 - 07:40 WIB

10 Negara dengan Kuliner Paling Royal Menggunakan Rempah, dari Maroko hingga Indonesia

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering

Berita Terbaru