KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tegal menerapkan pola pendampingan yang tidak lagi sebatas memberikan pelatihan kepada pelaku usaha. Mulai dari pendidikan adaptasi perubahan iklim, penguatan kelembagaan, akses pembiayaan hingga promosi melalui media sosial dilakukan untuk mendorong UMKM dan petani di wilayah eks Karesidenan Pekalongan naik kelas dan mampu bersaing di pasar global.
Kepala Perwakilan BI Tegal mengatakan, pendampingan menyeluruh tersebut terbukti mampu mengantarkan sejumlah UMKM binaannya memperoleh kontrak bisnis hingga miliaran rupiah dengan pembeli luar negeri.
“Semua kopi ini kami lakukan pendampingan. Terakhir kami membuat Sekolah Iklim Kopi, bagaimana petani bisa membaca perubahan cuaca dan meresponsnya dengan memperbaiki proses budidaya,” ujarnya.
Melalui program tersebut, petani diajarkan memahami dampak perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman sekaligus menentukan langkah antisipasi agar kualitas hasil panen tetap terjaga.
Selain aspek budidaya, BI Tegal juga memperkuat kelembagaan kelompok tani dan kemampuan pemasaran agar mampu memenuhi standar yang dipersyaratkan calon pembeli dari dalam maupun luar negeri.
“Penguatan kelembagaan juga kami lakukan supaya mereka mampu memenuhi kapasitas yang dibutuhkan buyer,” katanya.
Pendampingan itu membuahkan hasil saat tiga UMKM kopi binaan BI Tegal mengikuti Java Coffee and Flavors Festival (JCFF) di Surabaya. Salah satunya, Lumbung Kopi Nusantara, berhasil memperoleh kontrak business matching perdagangan dengan pembeli dari Yunani senilai Rp1,4 miliar dan Prancis senilai Rp1,5 miliar.
Sementara UMKM Kopi Curug Genteng memperoleh akses pembiayaan melalui Bank Mandiri untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Menurutnya, keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari strategi promosi digital yang kini menjadi faktor penting dalam pemasaran produk UMKM.
“Kami juga meminta bantuan teman-teman media untuk ikut memviralkan UMKM. Sekarang algoritma media sosial sangat berpengaruh, produk yang masuk FYP akan lebih mudah dikenal calon pembeli,” ujarnya.
Pendekatan serupa juga diterapkan pada sektor lain. BI Tegal saat ini mendampingi pengembangan batik artisan di Kabupaten Batang, memberikan pelatihan desain dan pewarnaan kepada kelompok pembatik kecil, serta membina berbagai UMKM kuliner dan pertanian di wilayah kerjanya.
Menurut Kepala BI Tegal, setiap daerah di eks Karesidenan Pekalongan memiliki potensi ekonomi yang berbeda sehingga membutuhkan pola pendampingan yang disesuaikan dengan karakter masing-masing.
“Kita kerjakan mulai dari pertanian, kopi, wastra atau batik, sampai sektor pangan. Semuanya memiliki potensi untuk berkembang jika mendapatkan pendampingan yang tepat,” katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan pengembangan UMKM tidak cukup dilakukan oleh Bank Indonesia sendiri. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, perbankan, media, komunitas, hingga masyarakat menjadi kunci agar produk-produk lokal semakin dikenal dan memiliki daya saing lebih tinggi.
“Kami berharap semua pihak ikut mengambil peran. Kalau kami memberikan pelatihan dan pendampingan, teman-teman media membantu memperkenalkan produknya. Dengan begitu, UMKM kita akan semakin cepat naik kelas,” paparnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












