Air Bunga Jamasan Pusaka Leluhur Batang Jadi Penjaga Warisan Berusia Ratusan Tahun

- Jurnalis

Selasa, 16 Juni 2026 - 06:33 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Tahapan penjamasan pusaka di peringatan Malam Satu Suro tersaji dalam deretan foto ilutrasi yang menggambarkan prosesi mulai dari kirab hingga pagelaran seni wayang kulit semalam suntuk, Senin (15/6/26). Foto : Ilustrasi AI

Tahapan penjamasan pusaka di peringatan Malam Satu Suro tersaji dalam deretan foto ilutrasi yang menggambarkan prosesi mulai dari kirab hingga pagelaran seni wayang kulit semalam suntuk, Senin (15/6/26). Foto : Ilustrasi AI

BATANG, KANALPLUS.ID – Aroma bunga setaman perlahan menguar di Pendopo Kabupaten Batang saat jarum jam merambat menuju tengah malam. Di atas hamparan kain mori putih, bilah-bilah tombak dan keris tua tersusun rapi, menunggu tangan-tangan yang telah puluhan tahun dipercaya merawatnya.

Bagi sebagian orang, itu hanya prosesi membersihkan pusaka. Namun bagi keluarga ahli waris dan para pemerhati budaya, Malam Satu Suro adalah waktu ketika sejarah, doa dan penghormatan kepada leluhur bertemu dalam satu ritual yang diwariskan lintas generasi.

Malam itu, Pusaka Kyai Tombak Abirawa kembali menjalani jamasan bersama puluhan pusaka pengiringnya dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah atau Malam Satu Suro 1960 Tahun Jawa.

Raden Susanto Waluyo, ahli waris Pusaka Kyai Tombak Abirawa, menatap satu per satu bilah pusaka yang telah berusia lebih dari dua abad. Menurutnya, jamasan Malam Satu Suro memiliki makna berbeda dibanding perawatan rutin yang dilakukan setiap bulan.

“Malam ini ada 10 tombak dan dua keris pusaka yang akan dijamas. Karena mayoritas pusaka tersebut berusia lebih dari 200 tahun, tentu memerlukan perlakuan khusus dibandingkan pusaka yang lain,” ujarnya, Senin (15/6/26).

Besi tua itu memang tidak pernah dibiarkan terlupakan. Setiap bulan dibersihkan agar tetap terawat, tetapi hanya pada Malam Satu Suro seluruh prosesi dilakukan secara lengkap menggunakan air bunga, kain mori, minyak pusaka, dupa, hingga berbagai uborampe yang telah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun.

Baca Juga :  Menyusuri Pekalongan yang Terlupakan Dari Batik, Benteng VOC hingga Jejak Taipan Bah Zing Zong

Ia pun mengaku bersyukur karena Pemerintah Kabupaten Batang kini menyediakan ruang penyimpanan khusus sehingga pusaka-pusaka tersebut dapat terjaga dengan lebih baik.

Tak jauh dari lokasi penjamasan, puluhan bilah keris kuno dipajang dalam sebuah pameran yang menyedot perhatian pengunjung. Di sana, Ketua Paguyuban Tosanaji Batang, Ibnu Kharis, bersama anggotanya memperkenalkan berbagai pusaka yang berasal dari lintas zaman.

Salah satu yang menarik perhatian adalah Keris Megantoro yang diyakini berasal dari era Ken Arok sekitar abad ke-13. Selain itu terdapat Tilam Upih, Jalak, Singo Barong hingga Nogo Sosro yang masing-masing memiliki bentuk dan filosofi berbeda.

Bagi Ibnu, pusaka bukan sekadar benda antik, melainkan karya budaya yang lahir dengan tujuan tertentu.

“Contoh Keris Brojol, dibuat empu untuk memudahkan segala sesuatu, misalnya membantu menyelesaikan permasalahan bahkan saat proses melahirkan,” jelasnya.

Di atas meja ritual, pisang raja, air kelapa, air bunga, kain mori, kuas, minyak pusaka dan dupa tersusun rapi sebagai bagian dari perlengkapan penjamasan yang tetap dipertahankan hingga sekarang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, menjelaskan bahwa tahun ini total 62 pusaka menjalani prosesi jamasan, terdiri atas 56 tombak, lima keris, dan satu pedang.

Baca Juga :  Cara Warga Pekalongan Beri Pesan Menohok kepada Pemerintah dan DPRD, Bikin Gerakan Semen Rakyat Tambal Sendiri Jalan Kabupaten

Prosesnya bahkan telah dimulai sejak pagi hari di kompleks Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Batang sebelum mencapai puncaknya pada malam hari dengan penjamasan Kyai Tombak Abirawa, Payung Tunggul Pangayom, serta pusaka-pusaka pengiring lainnya.

Sebelum memasuki ritual utama, seluruh pusaka lebih dahulu dikirab mengelilingi kompleks Kantor Bupati Batang. Ribuan pasang mata mengikuti langkah para pembawa pusaka yang berjalan perlahan diiringi nuansa sakral Malam Satu Suro.

Malam pun ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk membawakan lakon Gatotkaca Winisudha oleh Dalang Ki Beta Ardana, menghadirkan perpaduan antara tradisi, seni dan spiritualitas yang telah menjadi identitas Kabupaten Batang.

Usai menyaksikan rangkaian prosesi, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan berharap tradisi tersebut tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan akar budayanya sendiri.

Di tengah laju modernisasi, air bunga yang mengalir di bilah-bilah pusaka tua itu seakan mengingatkan bahwa sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh gedung dan jalan, tetapi juga oleh ingatan kolektif yang terus dirawat agar sejarah tidak pernah kehilangan maknanya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswi Pekalongan Ciptakan Motif Batik Karhutla Kalimantan sebagai Media Kritik dan Pesan Moral
Suku-Suku yang Masih Memilih Terisolasi dari Peradaban
Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren
Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum
Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan
Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan
Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat
Hampir 35 Tahun Menghidupkan Koperasi, Prof Ahmad Subagyo Akhirnya Dipilih Jadi Tokoh Perkoperasian Jawa Tengah

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 06:35 WIB

Mahasiswi Pekalongan Ciptakan Motif Batik Karhutla Kalimantan sebagai Media Kritik dan Pesan Moral

Minggu, 18 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Suku-Suku yang Masih Memilih Terisolasi dari Peradaban

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:53 WIB

Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan

Berita Terbaru

Alat CT Scan 64 Slice di ruang pemeriksaan radiologi RSUD Bendan Kota Pekalongan untuk mendukung diagnosis stroke dan berbagai kondisi medis yang membutuhkan pemeriksaan cepat. Layanan ini ditargetkan dapat melayani pasien BPJS Kesehatan mulai 1 November 2026 setelah persetujuan BPJS selesai. (foto: dok istimewa/AI)

Kota Pekalongan

RSUD Bendan Pekalongan Target Layani CT Scan Pakai BPJS Mulai 1 November

Jumat, 30 Okt 2026 - 16:02 WIB