KANAL WISATA – Pemulihan pariwisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, belum sepenuhnya kembali seperti sebelum banjir bandang. Tingkat hunian hotel dan villa di kawasan wisata tersebut saat ini diperkirakan baru berada di kisaran 30 persen.
Kondisi itu dirasakan sejumlah pelaku usaha perhotelan yang menggantungkan pendapatan dari kunjungan wisatawan ke Guci.
Manajer Hotel Guci Kencana Jaya, Rihananti atau Hana (38), mengatakan okupansi hotel mulai menunjukkan kenaikan. Namun, tingkat hunian tersebut belum stabil dan masih jauh dibandingkan kondisi normal sebelum terjadi banjir bandang.
“Okupansi hotel sudah mulai agak lumayan, tapi belum stabil. Kalau kunjungan wisatanya cenderung di liburan saja. Kalau weekend masih belum terlalu signifikan,” ungkap Hana kepada kanalplus.id, Rabu (16/9/2026).
Menurut Hana, saat kondisi normal tingkat hunian hotel di Guci bisa mencapai 100 persen, terutama saat akhir pekan. Bahkan, pihak hotel terkadang harus menolak tamu karena kamar telah penuh.
Kini kondisinya berubah. Hana memperkirakan okupansi hotel di Guci masih berada di kisaran 30 hingga maksimal sekitar 50 persen.
“Kalau dulu weekend saja kita banyak nolak tamu, kalau sekarang masih nyari. Okupansi dulu 100 persen, ini sudah turun,” ujarnya.
Penurunan itu juga berimbas pada harga kamar. Menurut Hana, sejumlah hotel terpaksa menyesuaikan tarif untuk menarik wisatawan.
“Bisa sampai turunnya mungkin 30 persen. Misalkan yang tadinya Rp1 juta menjadi Rp700 ribu atau Rp600 ribu, bahkan bisa sampai 50 persen,” katanya.
Meski demikian, Hana menilai penurunan kunjungan wisatawan tidak semata-mata disebabkan banjir bandang yang terjadi sebelumnya.
Sebagai warga asli Guci, dia menyebut banjir bandang tersebut memang menjadi salah satu peristiwa terbesar yang pernah dilihatnya. Namun, menurutnya, kondisi ekonomi saat ini justru menjadi faktor yang lebih terasa terhadap kemampuan masyarakat untuk berwisata.
“Kalau bicara banjir bandang, itu terjadi tahun kemarin yang terbesar. Saya asli Guci, dari kecil sudah di Guci. Sepengalaman saya, baru tahun kemarin banjir bandang sebesar itu,” terangnya.
“Tapi kalau bicara kunjungan wisata, sebagai pelaku usaha, saya melihatnya lebih karena ekonomi,” imbuh Hana.
Hana juga menyebut pemerintah telah menyiapkan promo retribusi untuk menarik wisatawan. Salah satunya berupa program beli dua tiket gratis satu yang disebut berlaku hingga Desember. Selain itu, sejumlah hotel juga menawarkan promo kamar.
Menurut Hana, beberapa sumber air panas di kawasan Guci juga sudah kembali aktif, meski kondisi suhunya bergantung pada alam sehingga tidak dapat diatur seperti fasilitas buatan.
Bagi pelaku usaha, upaya pemulihan tersebut perlu dibarengi promosi yang konsisten untuk mengembalikan keyakinan wisatawan bahwa Guci masih layak dikunjungi.
“Banyak promo di hotel-hotel,” ucap Hana.
Hal serupa disampaikan General Manager Halona Villa & Resort, Guci, Jefri Ari Budianto (55).
Jefri mengatakan tingkat hunian di tempatnya saat ini juga baru sekitar 30 persen. Kondisi tersebut jauh berbeda dibandingkan sebelum banjir bandang.
“Dari awal kejadian sampai hari ini ada perubahan. Kalau awal hampir tidak ada okupansi, sekarang sudah membaik, tapi tidak 100 persen seperti dulu. 50 persen belum ada, paling sekitar 30-an persen,” tutur Jefri.
Menurut dia, salah satu persoalan yang memengaruhi kunjungan adalah kepercayaan wisatawan terhadap kondisi Guci setelah bencana.
Pemberitaan mengenai Guci yang terdampak banjir, menurut Jefri, ikut memengaruhi persepsi calon wisatawan. Padahal, dia menyebut banjir terjadi pada aliran sungai dan dampaknya kemudian dirasakan kawasan wisata.
Selain itu, ikon Guci berupa Pancuran 13 hingga kini belum sepenuhnya selesai dipulihkan.
“Yang jelas, dampak kejadian kemarin itu trust daripada tamu, kunjungan itu menurun. Yang diberitakan Guci banjir, padahal yang banjir sungainya,” jelasnya.
“Pancuran 13 yang hari ini sudah dibangun tapi belum selesai,” lanjut Jefri.
Padahal, kata dia, Pancuran 13 merupakan salah satu daya tarik utama wisata Guci. Pancuran 5 yang berada tidak jauh dari lokasi tersebut juga belum sepenuhnya tersentuh pemulihan.
“Guci terkenal dengan wisata alamnya, air panas, udara segar. Kalau udara segar masih bisa dinikmati. Cuma air panas di pancuran ikon Guci sendiri hilang, otomatis orang berkunjung juga berpikir, oh di sana sudah tidak ada tempat seperti dulu lagi,” bebernya.
Jefri menyebut kondisi tersebut berbeda jauh dengan masa sebelum bencana. Dahulu, reservasi kamar di sejumlah hotel bahkan sudah penuh sekitar tiga bulan sebelum akhir pekan.
“Dulu tiga bulan sebelumnya sudah full book setiap weekend. Hari ini di hari H pun, contoh hari ini saya baru terisi satu kamar,” ujarnya.
Dampak penurunan kunjungan wisatawan tidak hanya dirasakan hotel dan villa. Menurut Jefri, terdapat lebih dari 100 pengusaha yang bergerak di sektor penginapan dan usaha wisata di kawasan Guci, baik skala besar maupun kecil.
Harga kamar pun sangat beragam. Untuk penginapan dengan tarif paling rendah, kata dia, masih terdapat kamar dengan harga sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribuan.
Karena itu, pemulihan kunjungan wisatawan dinilai penting bagi keberlangsungan usaha masyarakat sekitar, termasuk pelaku UMKM.
Jefri berharap promosi wisata Guci diperkuat, sementara pelaku usaha juga menjaga kualitas pelayanan dan harga agar wisatawan tidak memiliki pengalaman buruk saat berkunjung.
Dia juga menyoroti pentingnya menghindari praktik harga yang dianggap tidak wajar kepada wisatawan.
“Jangan seperti tempat yang lainnya yang dulu terkenal dengan resto yang mahalnya. Harga getok, kita juga tidak suka,” katanya.
Menurut Jefri, pelaku usaha perlu saling mengingatkan agar persoalan yang dilakukan satu usaha tidak berdampak terhadap citra seluruh kawasan wisata Guci.
“Jangan sampai yang lainnya. Di sini juga banyak UMKM yang harus berkembang. Jangan kita sendiri yang bisa menikmati hasilnya, semua meratalah,” ujarnya.
Jefri mengatakan pemerintah daerah saat ini mulai melakukan pembenahan kawasan, termasuk pembangunan kembali Pancuran 13.
Jefri menilai pengembangan Guci ke depan juga perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Menurutnya, pertumbuhan hotel dan usaha wisata sebaiknya tidak dilakukan tanpa memperhatikan kondisi alam.
“Konsep kita adalah resort. Lebih ke alamnya, alam yang segar, alam yang indah, view bagus, segar, terus ditambah lagi dengan air panas yang tidak dimiliki di tempat lain,” ujarnya.
Dia berharap pembangunan fasilitas wisata tetap memperhatikan kelestarian lingkungan agar daya tarik alam Guci tidak justru rusak akibat eksploitasi berlebihan.
“Jangan asal bangun. Yang dampaknya apa? Akhirnya alam ini yang akan habis,” papar Jefri.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












