OJK Tegal Soroti Gap Literasi Keuangan, Warga Diminta Waspadai Penipuan Digital

- Jurnalis

Rabu, 16 September 2026 - 11:22 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Sosialisasi literasi keuangan digital menyasar pelaku UMKM di Kota Pekalongan menghadirkan OJK dan BI Tegal sebagai narasumber, Rabu (16/9/26).

Sosialisasi literasi keuangan digital menyasar pelaku UMKM di Kota Pekalongan menghadirkan OJK dan BI Tegal sebagai narasumber, Rabu (16/9/26).

KANAL KOTA – Kepemilikan produk jasa keuangan masyarakat terus meningkat, namun pemahaman terhadap produk tersebut belum sepenuhnya mengikuti. Kondisi ini dinilai membuka celah bagi masyarakat menjadi korban penipuan keuangan digital.

Kepala OJK Tegal Kurnia Tri Puspita mengatakan literasi keuangan tidak sekadar soal memiliki rekening bank, asuransi atau produk jasa keuangan lainnya. Masyarakat juga perlu memahami hak, kewajiban hingga risiko dari produk yang mereka gunakan.

“Bagaimana paham juga terkait dengan hak dan kewajibannya sebagai konsumen industri jasa keuangan,” kata Kurnia dalam kegiatan sosialisasi literasi keuangan di Pekalongan, Rabu (16/9/2026).

Data terbaru hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang digelar OJK, LPS dan BPS menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57 persen. Sementara indeks inklusi keuangan sudah mencapai 93,61 persen.

Artinya, penggunaan produk dan layanan keuangan jauh lebih luas dibandingkan tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk tersebut.

Baca Juga :  Punya Banyak Nasabah Perempuan, MBK Ventura Pilih Perkuat Posyandu dan Bekali Literasi Keuangan untuk Cegah Jerat Pinjol Ilegal

Menurut Kurnia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena masyarakat bisa saja memiliki tabungan, pinjaman, asuransi atau produk keuangan lain tanpa memahami secara utuh ketentuan di dalamnya.

Untuk pelaku UMKM, misalnya, pemahaman diperlukan mulai dari akad kredit, kewajiban pembayaran hingga perlindungan atau asuransi yang melekat pada pinjaman.

Di sisi lain, Kurnia menyebut perkembangan transaksi digital juga diikuti munculnya berbagai risiko. OJK, kata dia, hampir setiap hari menerima laporan mengenai aktivitas keuangan ilegal, termasuk penipuan atau scam.

Selain penipuan, masyarakat juga diminta mewaspadai pinjaman online ilegal dan investasi ilegal yang menawarkan keuntungan tidak masuk akal.

“Penawaran-penawaran yang mungkin menjanjikan bunga atau pengembalian yang lebih dari wajar,” ujarnya.

Kurnia juga menyoroti judi online yang menurutnya menjadi salah satu aktivitas keuangan ilegal yang perlu mendapat perhatian keluarga. Ia mengatakan anak-anak, termasuk pelajar dan mahasiswa, menjadi kelompok yang perlu mendapat pemahaman agar tidak mudah terjerumus.

Baca Juga :  Masjid di Kendal Ini Sulap Jumat Jadi Hari Berbagi, Jamaah Pulang Bawa Sayur dan Makan Gratis

Karena itu, sosialisasi literasi keuangan tidak hanya ditujukan agar masyarakat bisa menggunakan produk keuangan, tetapi juga mampu mengenali risiko di balik penggunaan teknologi finansial.

“Jadi kita perlu melihat dan itu hampir setiap hari ada laporannya,” terang Kurnia.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga didorong memanfaatkan transaksi digital seperti QRIS untuk mendukung kegiatan usaha. Namun penggunaan teknologi tersebut harus dibarengi pemahaman mengenai keamanan data dan transaksi.

Bagi Kurnia, kemampuan menggunakan layanan keuangan digital tanpa memahami risikonya justru dapat membuat masyarakat lebih rentan menjadi korban.

Karena itu, ia mengajak masyarakat tidak hanya menjadi pengguna produk keuangan, tetapi juga memahami hak, kewajiban serta cara melindungi diri dari berbagai modus kejahatan keuangan.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Wali Kota Pekalongan Dorong Penyaluran Bantuan Langsung ke Rekening Penerima
BI Tegal Ingatkan UMKM Jangan Asal Tempel QRIS, Cek Berkala agar Uang Tak Salah Masuk
Buruh Serabutan Ditagih Pajak Rp1,7 M, KPP Pekalongan Luruskan Isu Begini Penjelasannya
Bukan Cuma Petani, Ini 8 Jenis Pekerjaan yang Paling Banyak Dilakukan Orang Indonesia
Ekonomi Eks Karesidenan Pekalongan Tumbuh 6,01 Persen, Lampaui Jawa Tengah dan Nasional
BI Sebut Digitalisasi Jadi Mesin Baru Ekonomi Daerah
Ironi Pangan Jateng: Jadi Produsen, Tapi Komoditas Keluar Daerah dan Masuk Lagi dengan Harga Lebih Mahal
Inflasi Jateng Turun Jadi 2,6 Persen, BI Masih Waspadai Cabai hingga Bawang

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 12:12 WIB

Wali Kota Pekalongan Dorong Penyaluran Bantuan Langsung ke Rekening Penerima

Rabu, 16 September 2026 - 11:47 WIB

BI Tegal Ingatkan UMKM Jangan Asal Tempel QRIS, Cek Berkala agar Uang Tak Salah Masuk

Rabu, 16 September 2026 - 11:22 WIB

OJK Tegal Soroti Gap Literasi Keuangan, Warga Diminta Waspadai Penipuan Digital

Senin, 7 September 2026 - 14:51 WIB

Buruh Serabutan Ditagih Pajak Rp1,7 M, KPP Pekalongan Luruskan Isu Begini Penjelasannya

Senin, 31 Agustus 2026 - 06:15 WIB

Bukan Cuma Petani, Ini 8 Jenis Pekerjaan yang Paling Banyak Dilakukan Orang Indonesia

Berita Terbaru