KANAL PEKALONGAN – Panitia Simbangkulon Night Carnival (SKNC) di Kabupaten Pekalongan mengaku mendapat banyak teror setelah aksi teatrikal salah satu peserta dalam karnaval tersebut viral dan menuai kontroversi di media sosial.
Hal itu diungkapkan Kapolres Pekalongan Kota AKBP Dies Ferra Ningtias kepada wartawan. Menurut Ferra, pengakuan tersebut disampaikan panitia dalam pertemuan dengan pihak kepolisian.
Panitia mengaku mendapat tekanan setelah penampilan peserta karnaval yang kemudian ramai dikaitkan dengan ritual satanic tersebut menjadi sorotan publik.
Meski demikian, Ferra tidak menjelaskan secara rinci bentuk teror yang diterima panitia.
Di tengah persoalan tersebut, kepolisian melakukan klarifikasi terhadap sejumlah pihak yang berkaitan dengan kegiatan maupun penampilan yang dipersoalkan.
Ferra mengatakan pihak yang berkaitan dengan tarian dan pencipta karya telah dipanggil untuk memberikan penjelasan kepada polisi.
“Yang tari itu sudah, beliau sudah melaporkan, yang pencipta juga sudah, Semua sudah,” kata Ferra, Selasa (15/9/2026).
Ketika ditanya apakah pihak tersebut datang sendiri atau dipanggil polisi, Ferra menegaskan bahwa mereka dipanggil untuk memberikan klarifikasi.
“Dipanggil,” ucapnya singkat.
Menurut Ferra, kepolisian sebenarnya telah melakukan pemantauan sebelum kegiatan berlangsung. Kasat Intelkam Polres Pekalongan Kota disebut telah turun menggali informasi mengenai rencana kegiatan dan melaporkannya kepada Kapolres.
“Di sebelum kegiatan ini pun Pak Kasat Intel juga sudah turun, sudah menggali semuanya dan sudah melaporkan juga pada Kapolres,” kata Ferra.
Namun, polemik yang muncul setelah acara menjadi evaluasi bagi kepolisian, terutama terkait informasi mengenai konsep kegiatan yang disampaikan sejak tahap persiapan.
Ferra menyebut proposal kegiatan yang diajukan panitia tidak memuat secara rinci seluruh materi pertunjukan. Proposal, kata dia, lebih banyak mencantumkan informasi umum seperti jumlah peserta dan tema kegiatan.
Ke depan, kepolisian akan lebih detail menggali konsep kegiatan sebelum memberikan pengamanan terhadap acara serupa.
“Makanya besok, ketika ada kegiatan itu, saya akan lebih mendetail dengan masalah kegiatannya,” ujarnya.
Ferra mengatakan pihaknya tetap menghargai kreativitas masyarakat dalam membuat pertunjukan. Namun, kreativitas tersebut perlu dipahami secara utuh agar tidak menimbulkan persoalan setelah kegiatan berlangsung.
Kontroversi SKNC mencuat setelah video aksi teatrikal salah satu peserta beredar luas di media sosial. Penampilan tersebut dinilai sebagian warganet menyerupai ritual satanic hingga memicu polemik dan perhatian berbagai pihak.
Kini, kepolisian masih melakukan klarifikasi terhadap pihak-pihak terkait untuk mengetahui secara utuh latar belakang dan maksud dari penampilan tersebut.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












