Kapolres Pekalongan Kota Tak Sempat Lihat Aksi Teatrikal yang Viral, Pilih Turun Urai Kemacetan

- Jurnalis

Selasa, 15 September 2026 - 13:36 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Dies Ferra Ningtias menjelaskan duduk perkara dirinya tidak sempat menyaksikan secara langsung teatrikal yang dikaitkan dengan ritual satanic dari atas panggung utama karena terjebak macet dan memilih mengurai lalu lintas bersama Kasat Lantas, Senin (15/9/26).

Kapolres Pekalongan Kota AKBP Dies Ferra Ningtias menjelaskan duduk perkara dirinya tidak sempat menyaksikan secara langsung teatrikal yang dikaitkan dengan ritual satanic dari atas panggung utama karena terjebak macet dan memilih mengurai lalu lintas bersama Kasat Lantas, Senin (15/9/26).

KANAL KOTA – Kapolres Pekalongan Kota AKBP Dies Ferra Ningtias ternyata tidak sempat menyaksikan langsung aksi teatrikal peserta Simbangkulon Night Carnival (SKNC) yang kemudian viral di media sosial dan dikaitkan dengan ritual satanic.

Bukan karena tidak hadir dalam kegiatan tersebut. Ferra justru mengaku berada di lokasi, namun memilih turun langsung mengurai kemacetan yang terjadi saat pelaksanaan karnaval.

Ia mengatakan kemacetan mulai terjadi ketika arus kendaraan dan kerumunan warga semakin padat. Kondisi tersebut membuat sejumlah ruas jalan mulai tertutup.

“Saya mengurai kemacetan biar cepat. Karena saya lihat sudah ramai banget, jalan sudah mulai tertutup,” ungkap Ferra kepada kanalplus.id di Lobi Mapolres, Selasa (15/9/2026).

Untuk mempercepat penguraian arus lalu lintas, Ferra bahkan turun langsung bersama Kasat Lantas Polres Pekalongan Kota. Ia ikut mengawal proses pengaturan lalu lintas bersama personel dan Banser.

Namun, keputusan tersebut membuatnya justru kehilangan kesempatan menyaksikan aksi peserta karnaval yang berlangsung di panggung utama.

Baca Juga :  Rumor Perangkat Ini Bisa Mengubah Sejarah Teknologi, Tapi Benarkah?

Sebab, ketika kemacetan berhasil diurai dan Ferra kembali menuju panggung, pertunjukan yang menjadi sorotan tersebut ternyata sudah selesai.

“Rentang waktu antara saya mengurai itu, mereka sudah selesai. Pertunjukannya sudah berakhir,” ujarnya.

Sesampainya di panggung utama, Dies mengaku tidak lagi melihat aksi yang belakangan menjadi sorotan publik tersebut.

Ia sempat mengira penampilan yang dimaksud merupakan bagian dari peserta di barisan belakang. Namun setelah diperiksa, ternyata aksi tersebut merupakan penampilan peserta di bagian awal karnaval.

“Saya pikir yang di belakang. Di belakang kan ada peti juga. Saya pikir itu. Ternyata bukan, ternyata urutan yang kedua,” katanya.

Ferra kemudian tetap berada di sekitar panggung bersama jajaran Forkopimda dan pihak lainnya setelah tiba di lokasi.

Terkait kontroversi penampilan tersebut, Ferra mengatakan kepolisian sebelumnya sudah melakukan pemantauan. Kasat Intelkam disebut telah turun menggali informasi mengenai kegiatan tersebut sebelum pelaksanaan karnaval dan melaporkannya kepada Kapolres.

Baca Juga :  Ditetapkan Jadi Tersangka, Pimpinan Ponpes Padepokan Padang Ati Pekalongan Langsung Ditahan

Ia juga mengatakan sejumlah pihak telah dipanggil untuk memberikan klarifikasi terkait penampilan yang viral tersebut.

Ketika ditanya apakah pihak-pihak tersebut datang secara sukarela atau dipanggil polisi, Ferra menegaskan mereka dipanggil untuk dimintai klarifikasi.

” Dipanggil,” ucapnya.

Ferra menambahkan, polisi tetap menghargai kreativitas masyarakat dalam berkegiatan. Namun, setelah muncul persoalan seperti yang terjadi dalam karnaval tersebut, pihaknya akan melakukan pendalaman lebih detail terhadap konsep dan rangkaian kegiatan sebelum acara digelar.

“Makanya besok, ketika ada kegiatan itu lagi, saya akan lebih mendetail dengan masalah kegiatannya,” terangnya.

Sebelumnya, aksi teatrikal dalam SKNC viral di media sosial setelah sejumlah warganet menilai penampilannya menyerupai ritual satanic. Kontroversi tersebut kemudian mendapat perhatian berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, kepolisian, MUI, serta panitia penyelenggara.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolres Ungkap Panitia Karnaval di Pekalongan Mengaku Banyak Diteror Usai Aksi Teatrikal Mirip Ritual Satanic Viral
Polisi Evaluasi Karnaval Simbangkulon, Tahun Depan Diminta Angkat Budaya Lokal
RAPBD Kota Pekalongan 2027 Turun, Belanja Modal Anjlok 41 Persen
Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus
2.500 Warga Pekalongan Usulkan Bedah Rumah, Baru 317 yang Terverifikasi
Peserta Lomba Hadroh Al-Banjari Tingkat Kota Pekalongan Menurun, Panitia Siapkan Evaluasi
DLH Pekalongan Siapkan Mitigasi Cegah TPA Degayu Terbakar, 47 Persen Zona Pasif Ditutup Geomembran
Dinsos Kota Pekalongan Ungkap 3.280 Penerima Bansos Dicoret dari Daftar Kemensos

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 14:01 WIB

Kapolres Ungkap Panitia Karnaval di Pekalongan Mengaku Banyak Diteror Usai Aksi Teatrikal Mirip Ritual Satanic Viral

Selasa, 15 September 2026 - 13:36 WIB

Kapolres Pekalongan Kota Tak Sempat Lihat Aksi Teatrikal yang Viral, Pilih Turun Urai Kemacetan

Selasa, 15 September 2026 - 13:06 WIB

Polisi Evaluasi Karnaval Simbangkulon, Tahun Depan Diminta Angkat Budaya Lokal

Selasa, 15 September 2026 - 06:35 WIB

RAPBD Kota Pekalongan 2027 Turun, Belanja Modal Anjlok 41 Persen

Kamis, 10 September 2026 - 13:42 WIB

Universitas Pekalongan Mulai Bangun Green Campus

Berita Terbaru

Lurah Sumbangkulon Agatha Franky Irawan mengungkap kondisi mental panitia karnaval yang terganggu lantaran tekanan dan serangan di media sosial pasca aksi teatrikal yang banyak mendapat hujatan di dunia maya, Selasa (15/9/26).

Pekalongan

Viral Karnaval Simbangkulon, Lurah Akui Mental Panitia Terganggu

Selasa, 15 Sep 2026 - 12:41 WIB