NVIDIA Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Dunia, tapi Tidak Secara Pendapatan

- Jurnalis

Senin, 24 Agustus 2026 - 06:26 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Per akhir Agustus tahun ini NVIDIA resmi menyandang perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di dunia yang menembus angka US$5,2 triliun, Senin (24/8/27). Foto: Ilistrasi AI

Per akhir Agustus tahun ini NVIDIA resmi menyandang perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di dunia yang menembus angka US$5,2 triliun, Senin (24/8/27). Foto: Ilistrasi AI

KANAL BISNISNVIDIA menjelma menjadi perusahaan paling bernilai di dunia. Raksasa chip asal Amerika Serikat itu kini memiliki kapitalisasi pasar di kisaran US$5 triliun, meninggalkan sederet nama besar seperti Apple, Microsoft, Alphabet hingga Amazon.

Angka tersebut luar biasa besar. Jika menggunakan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS, nilai NVIDIA setara sekitar Rp80.000 triliun.

Namun ada fakta menarik di balik besarnya angka tersebut. NVIDIA ternyata bukan perusahaan dengan pendapatan terbesar di dunia.

Bahkan pendapatan perusahaan yang menjadi salah satu pemain terpenting dalam booming kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tersebut masih jauh di bawah sejumlah perusahaan ritel dan energi dunia.

Amazon dan Walmart Jauh Lebih Besar Soal Pendapatan

Perbedaan itu terjadi karena kapitalisasi pasar dan pendapatan merupakan dua hal berbeda.

Kapitalisasi pasar menggambarkan nilai sebuah perusahaan di pasar saham. Angkanya diperoleh dengan mengalikan harga saham dengan jumlah saham yang beredar.

Sementara pendapatan atau revenue merupakan uang yang diperoleh perusahaan dari kegiatan bisnisnya dalam periode tertentu.

Dalam Fortune Global 500 2026, Amazon menjadi perusahaan dengan pendapatan terbesar di dunia dan menggeser Walmart yang sebelumnya bertahan di posisi puncak selama 12 tahun.

Artinya, perusahaan dengan penjualan terbesar belum tentu menjadi perusahaan yang paling mahal di mata investor.

NVIDIA menjadi contoh paling ekstrem.

Investor bersedia memberikan valuasi jauh lebih tinggi kepada NVIDIA karena pasar tidak hanya melihat berapa banyak uang yang dihasilkan perusahaan saat ini, tetapi juga memperhitungkan seberapa besar bisnis tersebut diperkirakan berkembang pada masa mendatang.

Mengapa NVIDIA Begitu Mahal?

Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari AI. NVIDIA memang dikenal sebagai produsen graphics processing unit (GPU). Dahulu, GPU perusahaan ini identik dengan komputer gaming dan pengolahan grafis.

Situasinya berubah drastis ketika perkembangan AI generatif meledak. GPU ternyata sangat cocok digunakan untuk melakukan komputasi dalam jumlah sangat besar secara paralel. Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan untuk melatih maupun menjalankan model AI.

Perusahaan teknologi kemudian berlomba membangun pusat data AI. Microsoft, Amazon, Alphabet, Meta dan berbagai perusahaan teknologi lainnya menggelontorkan investasi dalam jumlah besar untuk membangun infrastruktur tersebut. Di sinilah NVIDIA berada pada posisi strategis.

Baca Juga :  Belasan Siswi SMKN di Pemalang Jadi Korban Foto Telanjang AI

Perusahaan bukan sekadar menjual chip komputer, tetapi menjadi salah satu pemasok teknologi utama di balik pembangunan infrastruktur AI dunia. Semakin besar investasi perusahaan teknologi terhadap AI, semakin besar pula ekspektasi terhadap bisnis NVIDIA.

Investor Membeli Masa Depan

Fenomena NVIDIA memperlihatkan bagaimana pasar saham bekerja. Bayangkan terdapat dua perusahaan. Perusahaan A menghasilkan pendapatan Rp1.000 triliun per tahun, tetapi bisnisnya diperkirakan hanya tumbuh 2 persen setiap tahun.

Sementara perusahaan B menghasilkan Rp300 triliun, tetapi diperkirakan mampu tumbuh 30 hingga 40 persen setiap tahun. Investor bisa saja memberikan valuasi lebih besar kepada perusahaan B. Sebab yang dibeli investor bukan hanya kondisi bisnis hari ini, melainkan juga kemungkinan keuntungan perusahaan pada lima, sepuluh atau bahkan puluhan tahun mendatang.

Hal serupa terjadi pada NVIDIA.

Ekspektasi bahwa kebutuhan komputasi AI akan terus meningkat membuat pasar memberikan harga yang sangat tinggi terhadap saham perusahaan tersebut.

Teknologi Menggeser Minyak dan Perbankan

Peta perusahaan terbesar dunia juga berubah drastis dibanding beberapa dekade lalu. Pada masa lalu, daftar perusahaan paling bernilai dunia banyak dihuni perusahaan minyak, perbankan dan industri. Sekarang kondisinya berbeda.

NVIDIA, Apple, Alphabet, Microsoft, Amazon, TSMC, Broadcom dan Meta berada di jajaran perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar. Sebagian besar memiliki satu benang merah, yakni teknologi digital, semikonduktor, cloud dan AI.

Saudi Aramco masih menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia. Namun dominasi perusahaan energi tidak lagi sebesar pada masa lalu. Hal tersebut menunjukkan pusat penciptaan nilai ekonomi global perlahan bergeser.

Jika minyak pernah dianggap sebagai komoditas strategis utama dunia industri, pada era digital chip komputer dan kemampuan komputasi mulai memiliki posisi yang semakin penting.

TSMC Ikut Menikmati Ledakan AI

Booming AI juga tidak hanya menguntungkan NVIDIA. Ada TSMC dari Taiwan yang menjadi salah satu produsen semikonduktor paling penting di dunia.

Perusahaan ini memproduksi chip untuk berbagai perusahaan teknologi global, termasuk chip-chip canggih yang digunakan dalam perangkat dan pusat data.

Kapitalisasi pasar TSMC telah berada di kisaran US$2 triliun, menempatkannya dalam kelompok perusahaan terbesar dunia.

Broadcom juga menikmati tingginya kebutuhan semikonduktor dan infrastruktur jaringan untuk pusat data.

Artinya, perlombaan AI menciptakan efek ekonomi jauh lebih luas daripada sekadar perusahaan pembuat chatbot.

Ada produsen GPU, pabrik semikonduktor, perusahaan cloud, penyedia jaringan hingga operator pusat data yang ikut mendapatkan keuntungan.

Baca Juga :  10 Teknologi yang Seharusnya Sudah Ditemukan Manusia, tetapi Belum Terwujud pada 2026

US$5 Triliun Itu Seberapa Besar?

Nilai US$5 triliun sulit dibayangkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika dikonversikan menggunakan kurs Rp16.000 per dolar AS, jumlahnya sekitar,  Rp80.000.000.000.000.000 atau sekitar Rp80 kuadriliun. Nilai tersebut bukan berarti NVIDIA mempunyai uang tunai sebanyak itu.

Market cap menggambarkan nilai seluruh saham perusahaan berdasarkan harga yang diberikan pasar. Harga saham juga dapat naik ataupun turun setiap hari sehingga nilai perusahaan dapat berubah dengan cepat. Namun angka tersebut tetap menggambarkan besarnya kepercayaan investor terhadap prospek NVIDIA.

Valuasi Tinggi Juga Membawa Risiko

Ada sisi lain yang tidak boleh dilewatkan. Semakin tinggi valuasi sebuah perusahaan, semakin tinggi pula ekspektasi investor.

NVIDIA harus terus menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan keuntungan untuk membenarkan harga sahamnya. Jika pertumbuhan bisnis AI melambat, kompetitor semakin kuat atau perusahaan teknologi mengurangi belanja pusat data, persepsi investor terhadap NVIDIA bisa berubah.

Persaingan juga terus berkembang. AMD berusaha memperbesar pangsa pasar chip AI. Google mengembangkan TPU, sementara Amazon memiliki chip AI sendiri melalui AWS. Sejumlah perusahaan teknologi besar juga semakin serius merancang chip khusus untuk kebutuhan mereka.

Karena itu, valuasi US$5 triliun bukan jaminan NVIDIA akan selamanya menjadi perusahaan terbesar dunia.

Siapa Raja Perusahaan Dunia?

Jawabannya akhirnya bergantung pada cara mengukurnya. Jika menggunakan kapitalisasi pasar, NVIDIA berada di puncak perusahaan paling bernilai dunia pada Agustus 2026. Jika menggunakan pendapatan, nama perusahaan di posisi teratas berbeda.

Sementara jika ukurannya diganti menjadi laba, aset, jumlah pekerja atau jumlah pelanggan, rankingnya kembali berubah. Namun pencapaian NVIDIA memberikan satu gambaran penting mengenai perubahan ekonomi global.

Perusahaan yang dahulu dikenal masyarakat sebagai pembuat kartu grafis untuk komputer gaming kini bernilai triliunan dolar karena berada tepat di tengah revolusi AI. Dan mungkin itulah bagian paling menarik dari fenomena NVIDIA.

Perusahaan terbesar dunia hari ini tidak selalu perusahaan yang menjual barang paling banyak, tetapi perusahaan yang dianggap pasar memiliki posisi paling penting dalam teknologi masa depan.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hampir 30 Tahun Jualan Laptop, ELS.ID Perluas Jaringan ke Pekalongan
QRIS Makin Menjamur, Eks Karesidenan Pekalongan Catat 723 Ribu Merchant hingga Mei 2026
Brebes Jadi Andalan Pasokan Bawang Merah, BI Tegal Gandeng Riau
Investasi di Eks Karesidenan Pekalongan Serap Hampir 19 Ribu Tenaga Kerja
Batang Jadi Mesin Investasi Eks Karesidenan Pekalongan, Komitmen Investor Tembus Rp55 Triliun
Empat Hari Dibuka, El Chicken Berbasis Zakat Mulai Diserbu Pembeli di Pekalongan
Sertifikat Diduga Palsu, Impor 24 Ton Kedelai China untuk Bahan Suplemen Diet Disetop di Pelabuhan Tanjung Emas
Investasi Batang Tembus Rp6,19 Triliun Semester I 2026, PMA Mendominasi dan Serap 5.396 Pekerja
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 06:26 WIB

NVIDIA Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Dunia, tapi Tidak Secara Pendapatan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 07:10 WIB

Hampir 30 Tahun Jualan Laptop, ELS.ID Perluas Jaringan ke Pekalongan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 07:16 WIB

QRIS Makin Menjamur, Eks Karesidenan Pekalongan Catat 723 Ribu Merchant hingga Mei 2026

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:41 WIB

Brebes Jadi Andalan Pasokan Bawang Merah, BI Tegal Gandeng Riau

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:16 WIB

Investasi di Eks Karesidenan Pekalongan Serap Hampir 19 Ribu Tenaga Kerja

Berita Terbaru