KANAL BATANG — Perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang tidak hanya membutuhkan kesiapan infrastruktur dan investasi, tetapi juga pasokan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.
Kebutuhan tersebut mendorong KEK Industropolis Batang memperkuat hubungan dengan dunia pendidikan, khususnya sekolah menengah kejuruan (SMK), untuk menyiapkan calon tenaga kerja yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga memahami karakter dan budaya kerja industri.
Upaya itu diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara KEK Industropolis Batang dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dalam kegiatan Diseminasi Program NGOPENI SMK di KEK Industropolis Batang, Kamis (20/8/2026).
Direktur Keuangan & Manajemen Risiko KEK Industropolis Batang, Angga Arie Saputra, mengatakan keberadaan sumber daya manusia yang kompeten menjadi bagian penting dari keberlanjutan ekosistem industri di kawasan.
Menurutnya, pembangunan KEK tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur seperti listrik, air, teknologi, maupun fasilitas industri. Ketika kawasan berkembang dan semakin banyak aktivitas industri berjalan, kebutuhan terhadap tenaga kerja yang mampu mengoperasikan, memelihara, sekaligus mengembangkan ekosistem tersebut juga semakin besar.
“KEK Industropolis Batang tidak hanya dibangun dengan infrastruktur, listrik, air, dan teknologi, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten untuk mengoperasikan, memelihara, dan mengembangkan seluruh ekosistem industri di dalamnya,” ujar Angga dalam siaran persnya, Jumat (21/8/2026).
Karena itu, SMK dinilai memiliki posisi strategis sebagai salah satu sumber talenta bagi perusahaan-perusahaan yang berada maupun akan masuk ke kawasan.
Melalui Program NGOPENI SMK, KEK Industropolis Batang ingin memperpendek jarak antara kompetensi yang diperoleh siswa di sekolah dengan kebutuhan nyata perusahaan.
Kerja sama tersebut membuka ruang bagi keterlibatan langsung dunia industri dalam proses pendidikan, mulai dari pembekalan, pelatihan hingga pengembangan kompetensi.
“Melalui Program NGOPENI SMK, kami ingin memperkuat jembatan antara dunia pendidikan dan industri agar peserta didik dapat lebih mengenal kebutuhan dunia kerja sejak di bangku sekolah,” katanya.
Tak hanya kemampuan teknis, calon tenaga kerja juga akan diarahkan memiliki karakter yang dibutuhkan perusahaan, seperti disiplin, tanggung jawab, integritas, komunikasi, kemampuan bekerja sama, kepatuhan terhadap prosedur hingga kepedulian terhadap keselamatan kerja.
Dalam kerja sama tersebut, keterlibatan industri tidak berhenti pada perekrutan lulusan.
Ruang lingkup kerja sama mencakup penyelarasan materi pembekalan dan pelatihan kesiapan kerja, kunjungan ke pabrik dan industri, serta pelibatan praktisi industri sebagai narasumber, instruktur, mentor, penguji maupun pemberi umpan balik.
Peserta didik juga dapat memperoleh akses terhadap pelatihan, asesmen, sertifikasi kompetensi, magang dan praktik kerja lapangan.
Skema tersebut diharapkan membuat siswa SMK memiliki gambaran yang lebih nyata mengenai lingkungan kerja sebelum mereka benar-benar masuk ke industri.
Di sisi lain, perusahaan di kawasan juga mendapatkan calon tenaga kerja yang lebih dekat dengan kebutuhan operasional mereka.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Dr. Sadimin, mengatakan penyiapan lulusan SMK memang harus diarahkan agar mereka mampu memasuki dunia kerja secara langsung.
Menurutnya, penguatan kompetensi harus berjalan bersamaan dengan pembentukan karakter kerja.
Karakter yang ditekankan antara lain integritas, disiplin, tanggung jawab, etos kerja, kemampuan komunikasi, kerja sama, ketahanan kerja, kepatuhan terhadap prosedur, keselamatan kerja, kemampuan beradaptasi serta kemauan untuk terus belajar.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Komisi III DPRD Provinsi Jawa Tengah, DR. Mohammad Saleh. Menurutnya, kompetensi lulusan SMK harus mengikuti perkembangan industri yang terus berubah.
Sementara Bupati Batang M. Faiz Kurniawan menekankan pentingnya membuat pendidikan kejuruan semakin terkoneksi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Kurikulum SMK, kata dia, perlu bersifat adaptif dan dinamis agar kompetensi lulusan tetap relevan dengan standar yang dibutuhkan perusahaan.
Kerja sama KEK Industropolis Batang dan Dinas Pendidikan Jawa Tengah juga diarahkan tidak berhenti pada tahap pelatihan.
Melalui koordinasi dengan SMK dan Bursa Kerja Khusus (BKK), peserta didik maupun lulusan nantinya dapat memperoleh informasi lowongan pekerjaan, bimbingan karier, pemadanan kompetensi, proses seleksi hingga fasilitasi penempatan kerja.
Dengan skema tersebut, kebutuhan tenaga kerja industri di kawasan dapat dipertemukan dengan lulusan SMK yang memiliki kompetensi sesuai.
Proses rekrutmen yang difasilitasi juga diarahkan berlangsung secara objektif, transparan, inklusif dan non-diskriminatif serta tanpa pungutan kepada pelamar.
Bagi KEK Industropolis Batang, langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri yang tidak hanya ditopang investasi dan infrastruktur, tetapi juga sumber daya manusia lokal yang siap bekerja dan berkembang bersama pertumbuhan kawasan.
Dengan demikian, keberadaan SMK di Jawa Tengah diharapkan tidak hanya menjadi pemasok lulusan, tetapi menjadi bagian dari rantai pasok talenta yang mendukung perkembangan industri di KEK Industropolis Batang.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













