KANAL KOTA – Kebakaran lahan mulai marak terjadi di Kota Pekalongan seiring memasuki periode cuaca panas. Dalam satu bulan terakhir, petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) mencatat delapan kejadian, sekaligus menjadi angka tertinggi sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Kepala Seksi Pemadaman, Penyelamatan dan Sarana Prasarana Satpol PP Damkarmat Kota Pekalongan, Ikoa Nuska, mengatakan peningkatan kejadian kebakaran mulai terlihat ketika kondisi cuaca memasuki musim kemarau.
“Kalau puncaknya dari Januari sampai Juli kemarin, bulan Juli ada delapan kali kejadian,” kata Ikoa saat dihubungi kanalplus.id, Minggu (9/8/2026).
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode Januari hingga Juni yang masih didominasi musim hujan. Dalam periode tersebut, rata-rata kejadian kebakaran hanya sekitar satu hingga dua kasus setiap bulan.
Menurut Ikoa, sebagian besar kebakaran yang terjadi bukan dipicu faktor alam, melainkan kelalaian manusia. Salah satu kebiasaan yang paling berisiko adalah membakar sampah, daun kering maupun ranting di lahan terbuka kemudian meninggalkannya sebelum api benar-benar padam.
“Selama ini banyak karena kelalaian. Biasanya bakar sampah atau ranting dan daun pohon, kemudian ditinggalkan,” ujarnya.
Persoalan tersebut menjadi semakin berbahaya ketika pembakaran dilakukan di tengah cuaca panas dan kondisi angin yang cukup kencang. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat menjalar ke vegetasi kering di sekitarnya.
“Ditambah cuaca yang terik dan angin, api bisa menyebar semakin meluas,” jelas Ikoa.
Salah satu kawasan yang disebut cukup sering mengalami kejadian serupa berada di wilayah Kuripan, termasuk kawasan Bong Cino. Kebakaran di kawasan tersebut umumnya berkaitan dengan aktivitas pembakaran material kering.
Kondisi ini membuat Damkar meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika cuaca panas dan lingkungan mulai dipenuhi daun atau rumput kering.
Ikoa mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah maupun daun kering secara sembarangan. Jika pembakaran tidak dapat dihindari, api harus dipastikan benar-benar padam sebelum ditinggalkan. Namun, dalam kondisi cuaca yang sangat panas, ia menyarankan masyarakat menghindari aktivitas pembakaran sama sekali.
Imbauan tersebut dinilai penting karena kebakaran lahan tidak hanya mengancam lingkungan sekitar, tetapi juga dapat memaksa petugas mengerahkan armada dan personel untuk menangani api yang sebenarnya berawal dari aktivitas sederhana di lingkungan warga.
“Usahakan jangan membakar sampah atau daun-daun kering, apalagi ditinggalkan dalam keadaan api atau bara masih menyala,” tegasnya.
Dengan meningkatnya kejadian kebakaran pada Juli, Damkar mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh api kecil di lahan kosong. Terlebih, kondisi panas, material kering dan angin dapat menjadi kombinasi yang membuat api berkembang dalam waktu singkat.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













