Sumur mengering sejak sebulan terakhir, distribusi air bersih mulai menjadi penyangga kebutuhan hidup ratusan keluarga di Sragi.
PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Musim kemarau 2026 baru memasuki fase awal, namun ratusan warga di Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, sudah kehilangan akses terhadap sumber air bersih. Sumur-sumur warga mengering sejak sekitar satu bulan terakhir, membuat kebutuhan paling mendasar seperti mandi, memasak, hingga mencuci kini bergantung pada kedatangan truk tangki.
Kondisi tersebut terjadi di Kelurahan Sragi, tepatnya di Dukuh Ringinpitu A, Ringinpitu B, Gebyang dan Dukuh Pesantren. Berdasarkan pendataan pemerintah desa, sedikitnya 238 kepala keluarga atau sekitar 816 jiwa terdampak krisis air bersih akibat kemarau.
Situasi itu memaksa Kodim Pekalongan turun langsung melakukan distribusi air bersih. Selama dua hari terakhir, sebanyak tiga mobil tangki dengan total sekitar 13.500 liter air bersih telah disalurkan kepada warga terdampak.
Penyaluran pada hari pertama dilakukan aparat TNI setempat bekerja sama dengan BPBD Kabupaten Pekalongan, sedangkan hari berikutnya dilaksanakan secara mandiri oleh Koramil 11 Sragi.
Danramil Sragi Kapten Inf Riyanto mengatakan distribusi air bersih menjadi aksi cepat tanggap yang merespon kebutuhan dan kesulitan yang sedang mulai dialami masyarakat.
“Kami sudah salurkan tiga mobil tangki air bersih untuk membantu masyarakat terdampak kekeringan,” ungkapnya, Sabtu (5/8/2026).
Pihaknya berharap distribusi air bersih bisa mengurangi kesulitan masyarakat selama mengahadapi musim kekeringan yang panjang ini.
“Harapan kami ini bisa membantu warga Kecamatan Sargi yang sedang terdampak,” tutupnya.
Bagi warga, air bersih kini menjadi barang yang paling dinanti. Wahadi, salah seorang warga terdampak, mengatakan sumur di lingkungannya sudah tidak mampu lagi mengangkat air.
Selama mengalami kekeringan ini warga hanya mengandalkan pasokan air dari musala terdekat sembari menunggu kiriman bantuan dari pihak luar yang datang.
“Jadi kondisi sumur warga sudah tidak lagi mengalir karena airnya tidak bisa terpompa naik. Bantuan air bersih dari Kodim dan BPBD ini jadi satu-satunya harap,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Sragi, Teguh, menambahkan fenomena kekeringan sebenarnya hampir selalu terjadi setiap tahun ketika memasuki puncak musim kemarau, terutama pada periode Juli hingga September.
Meski demikian kebutuhan air bersih tetap menjadi persoalan yang terus terjadi dan berulang sehingga harus segera ditangani agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat.
“Droping air bersih pun menjadi solusi darurat yang setiap tahun harus kembali dilakukan. Selama sumber air warga belum pulih, distribusi menggunakan truk tangki menjadi penopang utama kebutuhan utama,” katanya.
Dengan prakiraan musim kemarau yang masih akan berlangsung beberapa waktu ke depan, kebutuhan distribusi air bersih diperkirakan masih akan terus meningkat, terutama jika wilayah-wilayah lain mulai mengalami penurunan debit air tanah seperti yang telah terjadi di Sragi.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













