Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering

- Jurnalis

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:33 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Bakmi Jowo Pak Tasjadi yang berlokasi di lontrong atau mulut gang Jalan Hayam Wuruk Kota Pekalongan jadi tujuan pecinta kuliner selama 42 tahun, Jumat (4/8/26).

Bakmi Jowo Pak Tasjadi yang berlokasi di lontrong atau mulut gang Jalan Hayam Wuruk Kota Pekalongan jadi tujuan pecinta kuliner selama 42 tahun, Jumat (4/8/26).

PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Di tengah menjamurnya kedai bakmi modern, sebuah gerobak sederhana di Jalan Hayam Wuruk, tepat di sebelah barat Toko Idjo, Kota Pekalongan, masih menjadi tujuan pecinta kuliner. Bakmi Jowo Pak Tasjadi atau yang lebih dikenal warga sebagai Bakmi Jowo Lontrong tetap mempertahankan cita rasa khas yang telah menemani pelanggan sejak 1984.

Keistimewaan bakmi ini bukan hanya terletak pada racikan bumbunya yang gurih manis khas lidah masyarakat Pekalongan, tetapi juga penggunaan ayam kampung yang disuwir sebagai topping serta tambahan kulit ayam kering yang memberikan tekstur renyah dan rasa gurih di setiap suapan.

Kini usaha tersebut diteruskan generasi kedua, Sri Towiyah (46), setelah sang ayah, Tasjadi, meninggal dunia pada Januari 2026.

Sri menceritakan, usaha bakmi itu bermula dari berjualan keliling pada 1984. Setelah sempat mangkal selama sembilan tahun di kawasan Hotel Saridewi, keluarga akhirnya menetap di lokasi saat ini di Jalan Hayam Wuruk sejak akhir 1990-an.

Baca Juga :  Kisah Anastasia Guru Senior di SMPN 1 Pekalongan, 34 Tahun Jadi Saksi Murid Berubah dari Era Hormat Guru hingga Ketergantungan AI

“Dulu bapak keliling dulu, kemudian di Saridewi sekitar sembilan tahun. Tahun 1995 mulai di sini, lalu sempat berpindah-pindah sampai akhirnya menetap di lokasi ini,” katanya kepada kanalplus.id, Senin (3/8/2026).

Ia mulai membantu orang tuanya sejak 1996, tepat setelah menikah. Ketika sang ayah wafat, usaha sempat berhenti sejenak. Namun tujuh hari kemudian, ia memutuskan kembali membuka warung demi mempertahankan warisan keluarga.

“Saya berusaha mempertahankan semua resep bapak. Mulai bumbu, jumlah topping, sampai rasanya saya usahakan tetap sama,” ujarnya.

Menurut Sri, menu yang paling banyak diburu pelanggan adalah bakmi nyemek, disusul bakmi goreng. Seluruh menu dibanderol mulai Rp18 ribu hingga Rp22 ribu.

Dalam sehari, warung tersebut menghabiskan sekitar 4,5 kilogram mi dan 4 kilogram beras. Dari penjualan itu, omzet harian berkisar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta, tergantung ramainya pembeli.

Kemudian komentar pujian dari pelanggan yang paling sering didengarnya pun hampir selalu sama.

Baca Juga :  Sop Iga Pondok Makan Mas Pri, Andalan Kuliner Pagi hingga Siang di Jalan Veteran Pekalongan

“Banyak yang bilang ayamnya gurih, terus bakminya gurih manis, pas dengan selera orang Pekalongan,” katanya.

Tak hanya warga Kota Pekalongan, pelanggan juga datang dari Kajen, Comal, Pemalang hingga Bandar.

Salah satunya adalah Sugeng (51), warga Karangmalang, Pekalongan Timur. Ia mengaku sudah lama menjadi pelanggan meski tidak rutin datang karena bekerja di luar kota.

“Sudah lebih dari tiga tahun saya tidak ke sini karena di luar kota. Begitu pulang dan lagi ingin makan bakmi, ya mampir ke sini,” ujarnya.

Sugeng mengatakan, menu favoritnya adalah bakmi goreng yang biasanya ditambah telur dadar.

“Saya paling suka bakmi goreng. Kalau dimakan masih panas, ditambah telur dadar, rasanya nikmat sekali,” katanya.

Menurutnya, warung Bakmi Jowo Pak Tasjadi menjadi salah satu tujuan ketika ingin menikmati bakmi dengan cita rasa lawas. Ia kadang datang sendiri, namun tak jarang mengajak istri, anak atau teman ketika sedang ingin makan di luar rumah.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu
Mengenal Pecel Bu Murni di Alun-alun Kota Pekalongan, Bertahan Hampir Setengah Abad dengan Pelanggan Setianya
Sempat Dikira Tutup, Lontong Tahu ‘Dunia Lain’ Pekalongan Ternyata Pindah ke Gang Sempit, Pelanggan Lama Banyak yang Kecele
Bertahan 40 Tahun, Leker Bara Api di Pekalongan Masih Laris Meski Terancam Tak Punya Penerus
Punya Pengalaman Mumpuni di Industri F&B, Perempuan Muda di Kota Pekalongan Ini Pilih Jual Kopi Keliling dengan Sepeda Rakitan
Peyek Udang Jumbo Seukuran Piring Makan di Kota Pekalongan Jadi Buruan, Dijual Rp10 Ribu per Lembar
Soto Apang, Warisan Kuliner Sejak 1970-an yang Tetap Bertahan Berkat Soto Tahu Tempe Rp8.000
Baru Sepekan Buka, Seafood Gerobak di Tengah Kampung Bojong Ini Usung Konsep Live Cooking dan Sajikan Cita Rasa Pesisir
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:07 WIB

Ada Gulai Kepala Manyung Warung Mbak Lisa di Ujung Timur Pantai Sigandu, Sudah 35 Tahun Tetap Diburu

Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Bakmi Jowo ‘Lontrong’ Pak Tasjadi, Legenda Kuliner Hayam Wuruk Pekalongan yang Bertahan 42 Tahun Berkat Ayam Kampung dan Kulit Kering

Minggu, 2 Agustus 2026 - 13:22 WIB

Mengenal Pecel Bu Murni di Alun-alun Kota Pekalongan, Bertahan Hampir Setengah Abad dengan Pelanggan Setianya

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 09:14 WIB

Sempat Dikira Tutup, Lontong Tahu ‘Dunia Lain’ Pekalongan Ternyata Pindah ke Gang Sempit, Pelanggan Lama Banyak yang Kecele

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:14 WIB

Bertahan 40 Tahun, Leker Bara Api di Pekalongan Masih Laris Meski Terancam Tak Punya Penerus

Berita Terbaru