Tantrum Bukan Tanda Anak Nakal, Pakar Sebut Memarahi Justru Bisa Memperparah Ledakan Emosi

- Jurnalis

Senin, 27 Juli 2026 - 12:17 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Dosen Program Studi PIAUD UM Bandung, Dr. Esty Fatinisna mengingatkan orang tua agar lebih waspada terkait anak tantrum berulang dengan intensitas tinggi yang dijelaskan dalam Seminar Hari Anak Nasional di Bandung, Senin (27/7/26). Foto : Istimewa

Dosen Program Studi PIAUD UM Bandung, Dr. Esty Fatinisna mengingatkan orang tua agar lebih waspada terkait anak tantrum berulang dengan intensitas tinggi yang dijelaskan dalam Seminar Hari Anak Nasional di Bandung, Senin (27/7/26). Foto : Istimewa

BANDUNG, KANALPLUS.IDTantrum pada anak usia dini masih sering disalahartikan sebagai perilaku nakal atau akibat kurang disiplin. Padahal, menurut pakar pendidikan anak usia dini, ledakan emosi tersebut merupakan bagian dari proses perkembangan otak sehingga tidak tepat jika direspons dengan bentakan maupun hukuman.

Dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Dr. Esty Fatinisna, menjelaskan bahwa tantrum umumnya dialami anak berusia dua hingga tiga tahun. Pada fase tersebut, kemampuan anak dalam mengendalikan emosi dan mengungkapkan keinginan melalui kata-kata masih berkembang.

Tantrum masih tergolong wajar pada usia tersebut karena anak belum memiliki kemampuan mengelola emosi maupun berkomunikasi secara matang,” ujarnya dalam acara seminar Hari Anak Nasional, Senin (27/7/2026).

Namun demikian, ia mengingatkan orang tua untuk mulai waspada apabila tantrum terjadi secara berulang dengan intensitas tinggi, berlangsung hingga usia yang lebih besar, atau sampai melukai diri sendiri maupun orang lain.

Esty menjelaskan, dari sisi neurosains, saat anak mengalami tantrum, bagian otak yang mengatur emosi atau amigdala bekerja lebih dominan dibandingkan korteks prefrontal yang berfungsi mengendalikan logika dan pengambilan keputusan.

Baca Juga :  KAI Tambah Kapasitas, 11.545 Penumpang Dilayani Stasiun Pekalongan di Tengah Dampak Erupsi Krakatau

Akibatnya, anak belum mampu berpikir rasional ketika emosinya sedang memuncak. Karena itu, memarahi atau menghukum anak saat tantrum dinilai tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan berpotensi memperburuk kondisi emosinya.

Menurutnya, tantangan pengasuhan anak saat ini juga semakin berat karena anak-anak Generasi Alpha tumbuh berdampingan dengan teknologi digital sejak usia dini. Penggunaan gawai secara berlebihan dapat mengurangi kesempatan anak berinteraksi langsung dengan lingkungan, sehingga kemampuan sosial dan pengendalian emosinya kurang terlatih.

“Anak-anak Generasi Alpha memang cepat belajar melalui media visual. Namun tanpa pendampingan, mereka juga berisiko mengalami ketergantungan terhadap gawai, menurunnya empati, hingga muncul perilaku individualistis,” katanya.

Ia menekankan bahwa usia nol hingga enam tahun merupakan masa emas perkembangan otak. Karena itu, kualitas interaksi antara orang tua dan anak jauh lebih penting dibanding sekadar memberikan akses terhadap perangkat digital.

Esty menyarankan orang tua menerapkan pola asuh yang hangat tetapi tetap tegas. Selain menetapkan aturan penggunaan gawai secara konsisten, orang tua juga perlu mendampingi anak saat menggunakan perangkat digital dan menjadi teladan dalam kebiasaan menggunakan teknologi.

Baca Juga :  Posbakum 'Aisyiyah Kejar Akreditasi 2027, Layanan Bantuan Hukum Gratis bagi Warga Miskin Ditargetkan Makin Luas

Ketika anak mengalami tantrum, orang tua sebaiknya tetap tenang, mencari penyebab ledakan emosinya, memvalidasi perasaan anak, kemudian membantu anak menenangkan diri sebelum mengajaknya berdiskusi mencari solusi.

“Pendekatan yang penuh empati akan membantu anak belajar mengelola emosinya secara bertahap,” ujarnya.

Selain itu, aktivitas fisik seperti bermain di luar ruangan, berolahraga, dan berinteraksi langsung dengan keluarga maupun teman sebaya dinilai menjadi cara alami untuk melatih fokus, kemampuan bersosialisasi, serta regulasi emosi anak di tengah derasnya paparan teknologi digital.

Esty menegaskan, keberhasilan mendidik anak di era digital bukan diukur dari seberapa cepat anak menguasai teknologi, melainkan dari kemampuan keluarga menciptakan keseimbangan antara penggunaan teknologi, kedekatan emosional, dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pendampingan yang tepat, teknologi dapat menjadi sarana belajar tanpa menghambat perkembangan sosial dan emosional anak.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Brasil Punya Ratusan Kota Besar, China Dominasi Kota Jutaan Penduduk: Ini Peta Kota Dunia
Muhammadiyah-Malaysia Pererat Hubungan Serumpun, Kerja Sama Pendidikan Jadi Langkah Awal
Sehari Tembus Rp1,18 Miliar, Wastra Pantura Laris di KKI 2026
Haedar Nashir Ingatkan Jangan Sampai Pembangunan Nasional Berganti Arah Setiap Ganti Presiden
Haedar Nashir Dapat Kartu Wartawan Utama Khusus, Dewan Pers Soroti Tantangan Jurnalisme di Era AI
Haedar Nashir Soroti Media Sosial: Dulu Berita Dikurasi, Kini Semua Orang Bisa Merasa Paling Benar
Muktamar XVI Dibuka di Unimus, Tapak Suci Susun Arah Organisasi Menuju Kancah Dunia
Bukan Diserbu Impor, Kemenperin Sebut Turunnya Order Ekspor Jadi Pemicu Ancaman PHK 1.500 Buruh Garmen Jateng

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 06:12 WIB

Brasil Punya Ratusan Kota Besar, China Dominasi Kota Jutaan Penduduk: Ini Peta Kota Dunia

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:30 WIB

Muhammadiyah-Malaysia Pererat Hubungan Serumpun, Kerja Sama Pendidikan Jadi Langkah Awal

Jumat, 21 Agustus 2026 - 16:07 WIB

Sehari Tembus Rp1,18 Miliar, Wastra Pantura Laris di KKI 2026

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:07 WIB

Haedar Nashir Ingatkan Jangan Sampai Pembangunan Nasional Berganti Arah Setiap Ganti Presiden

Kamis, 13 Agustus 2026 - 16:24 WIB

Haedar Nashir Dapat Kartu Wartawan Utama Khusus, Dewan Pers Soroti Tantangan Jurnalisme di Era AI

Berita Terbaru