PEMALANG, KANALPLUS.ID — Sejak pagi buta, Desa Cikendung di Kecamatan Pulosari tak lagi sepi. Jalan-jalan kampung yang sehari-hari dilalui warga menuju ladang berubah menjadi jalur pawai. Padi, jagung, cabai, sayur-mayur hingga buah-buahan menjulang dalam puluhan gunungan yang siap diarak.
Di antara iring-iringan itu, ratusan warga mengenakan pakaian adat Jawa. Ada yang memakai kebaya, lurik, beskap, hingga kostum tokoh dongeng. Salah satunya Safira Dea Lestari, warga yang tampil dengan balutan kostum bernuansa Nyi Roro Kidul.
“Kostumnya ala dongeng, kayak Nyi Roro Kidul. Persiapannya dari jam empat subuh,” ujar Safira saat mengikuti pawai Ruwat Bumi Desa Cikendung, Rabu (1/7/2026).
Namun, kemeriahan pawai itu bukan sekadar parade kostum. Di balik 38 gunungan yang diarak sejauh sekitar tiga kilometer dari balai desa lama menuju lapangan desa, ada kerja bersama yang telah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya.
Warga di tiap RT patungan hasil kebun dan ladang. Ada yang membawa terong, daun bawang, jagung, padi, cabai hingga sayuran lain. Seluruh hasil bumi itu kemudian dirangkai bersama menjadi gunungan, sebagai penanda bahwa kehidupan warga Cikendung masih bertumpu pada tanah pertanian.
Uliana, warga RT 16, menyebut proses membuat satu gunungan tidak bisa dikerjakan dalam waktu singkat. Warga di lingkungannya mulai menyiapkan bahan sejak tiga hari sebelum acara puncak.
“Persiapannya dari kemarin, sudah tiga hari. Ini hasil bumi sendiri, warga patungan lalu disusun jadi gunungan,” katanya.
Ruwat Bumi di Cikendung digelar setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Tradisi itu telah berlangsung turun-temurun selama puluhan tahun dan menjadi ruang warga untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen, keselamatan, serta keberlangsungan hidup mereka.
Bagi masyarakat setempat, ruwat dimaknai sebagai upaya melepaskan diri dari marabahaya, sementara bumi adalah sumber kehidupan yang harus dijaga. Makna itu terasa dekat dengan kehidupan warga Cikendung, karena sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Sekitar 38 persen warga berprofesi sebagai petani, sedangkan 60 persen lainnya bekerja sebagai buruh tani.
Setelah pawai tiba di lapangan desa, suasana berubah semakin riuh. Pertunjukan Jaran Kepang mengiringi puluhan gunungan yang berjajar di tengah lapangan. Ribuan warga telah menunggu dari berbagai sisi, sebagian membawa tas belanja, sebagian lagi hanya mengandalkan tangan kosong.
Usai doa bersama, penantian itu pecah menjadi rebutan hasil bumi.
Dalam hitungan menit, gunungan yang sebelumnya menjulang tinggi mulai terkikis. Sayur, buah, dan hasil pertanian berpindah ke tangan warga. Tidak ada yang benar-benar memperhitungkan nilai barang yang didapat. Yang dibawa pulang justru dianggap sebagai bagian dari berkah tradisi.
Uliana menjadi salah satu warga yang ikut masuk ke kerumunan. Hasilnya tidak banyak, hanya terong dan daun bawang. Namun, ia tetap tertawa saat menunjukkan hasil rebutannya.
“Dapatnya cuma terong sama daun bawang. Rencananya mau dibuat dimasak sambal,” ujarnya.
Ia menegaskan, rebutan gunungan bukanlah soal keyakinan tertentu, melainkan bagian dari kebersamaan warga dalam merawat tradisi yang diwariskan para leluhur.
“Kalau keyakinan tertentu tidak ada, ini cuma tradisi saja. Ini bentuk kesyukuran kita atas rahmat-Nya Gusti Allah,” katanya.
Kepala Desa Cikendung, Slamet, menilai Ruwat Bumi menjadi pengingat bahwa hasil pertanian tidak lahir dari kerja manusia semata. Ada alam yang harus dijaga dan ada doa yang terus dipanjatkan agar tanah tetap memberi kehidupan.
“Filosofi syukur itu kita sebagai petani. Alhamdulillah rida Allah itu bisa setiap tahun kita melaksanakan bersyukur adanya Ruwat Bumi. Dengan melaksanakan seperti ini, penghasilan bumi bisa bertambah dan berkualitas,” tutur Slamet.
Bagi Slamet, gelaran tahun ini juga memiliki arti tersendiri. Setelah memimpin Desa Cikendung selama tiga periode atau sekitar 20 tahun, ia berharap tradisi itu tetap dijaga oleh generasi berikutnya, termasuk oleh kepala desa yang kelak menggantikannya.
Pelestarian yang dilakukan warga Cikendung tidak berhenti pada pawai, kesenian, dan gunungan. Desa ini juga mulai mengaitkan tradisi dengan upaya menjaga lingkungan, terutama sumber-sumber air yang menopang pertanian.
Camat Pulosari Arif Senoaji menyebut, Pemerintah Desa Cikendung bersama komunitas Dharmawana telah melakukan penanaman lebih dari 300 bibit karet kebo di sekitar sumber mata air Gintung dan Naya.
“Pelestarian alam juga pelestarian budaya memang dilaksanakan oleh Desa Cikendung. Melalui komunitas Dharmawana binaan Pak Kades, kemarin juga dilaksanakan penanaman massal 300 lebih bibit karet kebo di sumber mata air Gintung dan sumber mata air Naya,” kata Arif.
Di Cikendung, gunungan yang habis diperebutkan mungkin hanya menyisakan bambu dan tali pengikat. Namun, kerja bersama yang membuatnya berdiri sejak tiga hari sebelumnya, serta harapan agar bumi tetap subur, masih tinggal jauh lebih lama di ingatan warga.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












