AI Mulai Saling Berkomunikasi, Apakah Manusia Masih Memegang Kendali?

- Jurnalis

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:11 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ilustrasi sejumlah agen kecerdasan buatan (AI) yang saling terhubung dan bertukar informasi melalui jaringan digital. Perkembangan teknologi multi-agent AI memungkinkan sejumlah sistem kecerdasan buatan bekerja sama, bahkan berkomunikasi menggunakan pesan yang tidak selalu mudah dipahami manusia. (foto: ilistrasi AI)

Ilustrasi sejumlah agen kecerdasan buatan (AI) yang saling terhubung dan bertukar informasi melalui jaringan digital. Perkembangan teknologi multi-agent AI memungkinkan sejumlah sistem kecerdasan buatan bekerja sama, bahkan berkomunikasi menggunakan pesan yang tidak selalu mudah dipahami manusia. (foto: ilistrasi AI)

KANAL TEKNOLOGI – Penelitian terbaru mengungkap kemungkinan agen kecerdasan buatan menyisipkan pesan tersembunyi dalam percakapan yang tampak normal. Di tengah perkembangan AI yang semakin mandiri, dunia mulai menghadapi tantangan baru, yakni mengawasi komunikasi dan tindakan mesin yang semakin kompleks.

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memasuki babak baru. Jika sebelumnya AI dikenal sebagai teknologi yang mampu menjawab pertanyaan, membuat gambar, menulis artikel, hingga menganalisis data, kini kemampuannya berkembang menuju sistem yang dapat bekerja sama dengan AI lain, membagi tugas, bertukar informasi, bahkan mengambil serangkaian keputusan tanpa harus menunggu instruksi manusia pada setiap tahap.

Perubahan ini memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan teknologi seperti apakah suatu saat AI bisa membangun jaringan komunikasi sendiri, menciptakan bahasa yang tidak dipahami manusia, dan melakukan koordinasi tanpa diketahui oleh pihak yang mengembangkan atau mengawasinya?

Pertanyaan tersebut bukan lagi sepenuhnya bagian dari cerita fiksi ilmiah. Sejumlah penelitian terbaru mulai menunjukkan bahwa komunikasi antarsistem AI memiliki potensi yang jauh lebih kompleks daripada yang selama ini dibayangkan.

Salah satu penelitian yang menarik perhatian dipublikasikan Carnegie Mellon University melalui CyLab Security and Privacy Institute pada 8 Oktober 2026. Peneliti dari universitas tersebut mengembangkan kerangka bernama CODETTA (High-Capacity, Keyless, and Undetectable Multi-Agent Collusion), yang menunjukkan bagaimana agen AI dapat menggunakan teknik kriptografi dan steganografi untuk menyampaikan pesan tersembunyi kepada agen lain.

Teknik steganografi memungkinkan sebuah pesan disembunyikan di dalam informasi yang terlihat biasa. Berbeda dengan enkripsi yang mengubah pesan menjadi kode sehingga keberadaan komunikasi rahasia masih dapat dikenali, steganografi berusaha menyamarkan keberadaan pesan itu sendiri.

Dalam eksperimen CODETTA, informasi dapat disisipkan melalui proses pemilihan token saat model bahasa menghasilkan teks. Hasilnya tetap terlihat seperti percakapan normal yang dihasilkan AI.

Artinya, meskipun percakapan antargenangan AI diawasi dan dibaca manusia, belum tentu seluruh informasi yang dipertukarkan dapat diketahui melalui pemeriksaan teks biasa.

Peneliti Carnegie Mellon mengingatkan bahwa kemampuan tersebut berpotensi menimbulkan persoalan keamanan, terutama ketika agen AI diberi akses terhadap informasi sensitif seperti data pasien, dokumen keuangan, atau informasi perusahaan.

Meski demikian, penelitian tersebut merupakan demonstrasi teknis mengenai kemungkinan komunikasi tersembunyi, bukan bukti bahwa seluruh AI saat ini sudah melakukan komunikasi rahasia secara diam-diam.

AI Mulai Bekerja Seperti Sebuah Tim

Untuk memahami perkembangan ini, manusia perlu mengenal teknologi yang disebut multi-agent AI system.

Sederhananya, teknologi ini memungkinkan beberapa agen AI bekerja dalam satu sistem dengan tugas berbeda.

Satu agen dapat bertugas mencari informasi, agen lainnya menganalisis data, sementara agen berikutnya memeriksa hasil analisis dan menyusun laporan. Seluruh proses dapat berlangsung secara otomatis melalui pertukaran informasi antarsistem.

Dengan pendekatan tersebut, AI tidak lagi sekadar menjadi alat untuk menjawab pertanyaan, tetapi mulai berperan sebagai pekerja digital yang mampu menjalankan rangkaian pekerjaan.

Baca Juga :  Tanah Jarang Bukan Tanah, Tapi Mineral Langka yang Menguasai Teknologi Dunia

Perusahaan teknologi Anthropic bahkan melakukan eksperimen dengan melibatkan 45 agen AI yang diberi mesin virtual dan forum bersama. Mereka ditugaskan mencari celah keamanan pada sejumlah proyek perangkat lunak sumber terbuka.

Hasil penelitian yang dipublikasikan pada Agustus 2026 menunjukkan bahwa kelompok agen yang saling berkoordinasi berhasil menemukan 266 celah keamanan menggunakan salah satu model yang diuji. Sebagai perbandingan, pendekatan agen independen menemukan 21 celah dalam pengujian yang berbeda.

Eksperimen tersebut memperlihatkan bahwa kerja sama antargenangan AI dapat menghasilkan kemampuan yang lebih besar dibandingkan menjalankan sejumlah agen secara terpisah.

Namun, kerja sama tersebut juga tidak selalu berjalan sempurna. Agen AI masih dapat mengalami konflik, menghasilkan informasi keliru atau kesulitan menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan koordinasi kompleks.

Benarkah AI Bisa Menciptakan Bahasa Sendiri?

Salah satu hal yang paling menarik dari perkembangan kecerdasan buatan adalah kemungkinan munculnya pola komunikasi yang tidak menggunakan bahasa manusia.

Dalam penelitian AI, fenomena ini dikenal sebagai emergent communication atau komunikasi yang muncul melalui proses pembelajaran.

Ketika beberapa agen diberikan tugas bersama, mereka dapat mengembangkan simbol, kode atau pola pertukaran informasi yang dianggap paling efektif untuk menyelesaikan pekerjaan.

Bentuk komunikasi tersebut tidak selalu berupa kalimat bahasa Inggris, Indonesia, atau bahasa manusia lainnya. Informasi juga dapat disampaikan melalui representasi matematis atau data internal yang hanya dapat diproses oleh sistem tertentu.

Penelitian mengenai komunikasi antargenangan AI bahkan menjadi salah satu pembahasan ilmiah dalam publikasi Findings of EMNLP 2026.

Namun, kemampuan menggunakan pola komunikasi yang tidak langsung dipahami manusia tidak otomatis berarti AI mempunyai kesadaran, kehendak, atau keinginan untuk merahasiakan percakapan.

Hal yang perlu diperhatikan justru kemampuan manusia untuk memahami, memeriksa, dan mengendalikan pertukaran informasi tersebut.

Perkembangan AI Melaju Lebih Cepat

Pesatnya perkembangan AI juga terlihat dari laporan Stanford University melalui Stanford AI Index Report 2026.

Laporan tersebut mencatat adopsi AI di organisasi telah mencapai 88 persen. Sementara itu, penggunaan AI generatif mencapai sekitar 53 persen populasi dalam kurun tiga tahun sejak teknologi tersebut berkembang luas.

Kemampuan agen AI juga mengalami peningkatan signifikan. Dalam pengujian OSWorld, yang mengukur kemampuan AI menyelesaikan tugas menggunakan komputer, tingkat keberhasilannya meningkat dari sekitar 12 persen menjadi 66,3 persen.

Meski demikian, kemampuan tersebut belum sempurna. AI masih gagal dalam sekitar sepertiga percobaan pada pengujian terstruktur.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa AI mulai bergerak dari teknologi yang hanya menghasilkan jawaban menjadi sistem yang mampu menyelesaikan pekerjaan nyata.

Dalam dunia pendidikan, AI membantu proses pembelajaran. Di bidang kesehatan, teknologi ini digunakan untuk mendukung analisis medis dan penelitian obat. Sementara di sektor industri, AI membantu otomatisasi produksi, pengelolaan data, hingga pengambilan keputusan bisnis.

Kemajuan tersebut sekaligus membuat persaingan pengembangan AI semakin ketat, terutama antara Amerika Serikat dan China.

Baca Juga :  Antimateri Kini Bisa Dipindahkan, Mengapa Ilmuwan Membawa Antiproton Keluar dari CERN?

Ancaman Baru: Ketika Pengawasan Manusia Tertinggal

Di balik manfaatnya, perkembangan AI juga menghadirkan persoalan baru.

International AI Safety Report 2026, laporan yang disusun dengan melibatkan lebih dari 100 pakar dari berbagai negara dan organisasi internasional, mengingatkan bahwa agen AI memiliki risiko lebih besar ketika diberikan kemampuan bertindak secara mandiri.

Kesalahan yang dilakukan satu agen dapat memengaruhi agen lainnya. Informasi keliru bisa diteruskan, keputusan yang salah dapat berkembang menjadi tindakan berikutnya, dan manusia mungkin kesulitan melakukan intervensi jika sistem sudah menjalankan banyak tahapan pekerjaan secara otomatis.

Laporan tersebut juga menjelaskan bahwa kemampuan AI saat ini masih memiliki banyak keterbatasan. Sistem dapat menghasilkan informasi palsu, membuat kesalahan pemrograman, hingga memberikan saran yang menyesatkan.

Skenario hilangnya kendali manusia atas AI masih belum menjadi kemampuan yang terbukti dimiliki sistem saat ini. Namun, peningkatan kemampuan perencanaan, operasi mandiri, dan penghindaran evaluasi membuat risiko tersebut perlu diteliti lebih serius.

Persoalannya bukan hanya bagaimana manusia mengawasi apa yang dikatakan AI, tetapi juga bagaimana memastikan tindakan yang dilakukan AI tetap berada dalam batas kewenangan yang diberikan.

Karena itu, pengawasan tidak cukup hanya dengan membaca percakapan antargenangan AI. Pembatasan akses terhadap data, kontrol terhadap tindakan, serta sistem pemeriksaan independen menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan teknologi tersebut.

Apakah AI Suatu Saat Bisa Lebih Berkuasa daripada Manusia?

Dalam 10 hingga 20 tahun mendatang, AI diperkirakan semakin banyak mengambil peran dalam aktivitas manusia.

Agen AI berpotensi mengelola pekerjaan administratif, menganalisis kondisi ekonomi, membantu penelitian ilmiah, mengatur sistem transportasi, hingga mendukung pengelolaan infrastruktur.

Bukan tidak mungkin berbagai sistem AI dari perusahaan dan negara berbeda akan saling terhubung untuk menjalankan pekerjaan dalam skala global.

Namun, perkembangan tersebut tidak otomatis berarti AI akan memiliki kesadaran atau membentuk masyarakat sendiri seperti manusia.

Sampai sekarang belum ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa model AI populer memiliki kesadaran subjektif, perasaan, atau kehendak mandiri seperti manusia.

Yang sudah terlihat adalah peningkatan kemampuan mesin untuk memproses informasi, berkomunikasi, merencanakan pekerjaan, dan menjalankan tindakan berdasarkan tujuan yang diberikan.

Di sinilah tantangan terbesar muncul. Ketika kemampuan AI semakin besar, manusia harus memastikan teknologi tersebut tetap bekerja sesuai kepentingan dan keselamatan manusia.

Revolusi industri pernah mengubah tenaga manusia menjadi tenaga mesin. Internet menghubungkan manusia dari berbagai belahan dunia. Kini, AI berpotensi mengubah cara manusia berpikir, bekerja, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Mungkin masa depan AI tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar satu mesin, melainkan oleh seberapa besar kemampuan jutaan sistem kecerdasan buatan untuk bekerja sama.

Pertanyaan yang kemudian harus dijawab bukan lagi sekadar apakah AI bisa menjadi lebih pintar daripada manusia, tetapi apakah manusia mampu memahami dan mengendalikan teknologi yang terus berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan pengawasannya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perkembangan Teknologi Maritim Listrik, Dari Prototipe Menuju Komersialisasi
Senjata yang Mengubah Peradaban Manusia, Dari Tombak Batu hingga Meriam
10 Kota dengan Jaringan Lampu Lalu Lintas Terbanyak di Dunia
Tanah Jarang Bukan Tanah, Tapi Mineral Langka yang Menguasai Teknologi Dunia
Antimateri Kini Bisa Dipindahkan, Mengapa Ilmuwan Membawa Antiproton Keluar dari CERN?
CUDA, Teknologi Tak Kasatmata yang Mengubah NVIDIA Menjadi Raja AI Dunia
AI Pernah Kalah Debat. Lawannya Bukan Orang Biasa, tapi Pemegang Rekor Dunia
10 Teknologi yang Seharusnya Sudah Ditemukan Manusia, tetapi Belum Terwujud pada 2026

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:11 WIB

AI Mulai Saling Berkomunikasi, Apakah Manusia Masih Memegang Kendali?

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Perkembangan Teknologi Maritim Listrik, Dari Prototipe Menuju Komersialisasi

Minggu, 11 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Senjata yang Mengubah Peradaban Manusia, Dari Tombak Batu hingga Meriam

Rabu, 30 September 2026 - 06:10 WIB

10 Kota dengan Jaringan Lampu Lalu Lintas Terbanyak di Dunia

Selasa, 8 September 2026 - 06:10 WIB

Tanah Jarang Bukan Tanah, Tapi Mineral Langka yang Menguasai Teknologi Dunia

Berita Terbaru

Alat CT Scan 64 Slice di ruang pemeriksaan radiologi RSUD Bendan Kota Pekalongan untuk mendukung diagnosis stroke dan berbagai kondisi medis yang membutuhkan pemeriksaan cepat. Layanan ini ditargetkan dapat melayani pasien BPJS Kesehatan mulai 1 November 2026 setelah persetujuan BPJS selesai. (foto: dok istimewa/AI)

Kota Pekalongan

RSUD Bendan Pekalongan Target Layani CT Scan Pakai BPJS Mulai 1 November

Jumat, 30 Okt 2026 - 16:02 WIB