KANAL TEKNOLOGI – Di balik kecanggihan kecerdasan buatan dan layanan digital, ada infrastruktur raksasa yang bekerja tanpa henti. Data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan sistem pendingin yang dalam kondisi tertentu mengonsumsi jutaan liter air setiap hari. Kekhawatiran terhadap sumber air, lingkungan, dan manfaat ekonomi bagi warga kini memicu penolakan di berbagai negara.
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa dunia memasuki babak baru revolusi teknologi. Berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Pengolahan data, layanan perbankan, komunikasi, industri, hingga aktivitas pemerintahan semakin bergantung pada sistem digital.
Namun, ada satu bagian dari perkembangan teknologi tersebut yang jarang terlihat oleh pengguna, yakni infrastruktur fisik yang membuat seluruh layanan itu dapat beroperasi.
Di balik aplikasi yang digunakan melalui telepon genggam, mesin pencari, layanan penyimpanan awan, hingga chatbot AI, terdapat fasilitas berukuran sangat besar bernama data center atau pusat data.
Bangunan ini menjadi tempat ribuan hingga puluhan ribu server bekerja selama 24 jam untuk memproses, menyimpan, dan mengirimkan informasi. Semakin besar kebutuhan komputasi, semakin besar pula kapasitas infrastruktur yang harus disediakan.
Persoalannya, pertumbuhan data center tidak hanya membutuhkan investasi dan teknologi. Fasilitas tersebut juga membutuhkan listrik dalam jumlah besar, lahan, serta air untuk menjaga temperatur perangkat agar tetap stabil.
Kebutuhan sumber daya inilah yang mulai menimbulkan persoalan baru. Di sejumlah negara, pembangunan data center mendapat penolakan masyarakat karena dikhawatirkan mengganggu ketersediaan air bersih, meningkatkan tekanan terhadap jaringan listrik, dan menimbulkan dampak lingkungan yang tidak sebanding dengan manfaat ekonomi bagi penduduk setempat.
Pertanyaannya, apakah benar data center bisa menguras sumber air hingga menyebabkan kekeringan? Seberapa besar kebutuhan airnya? Dan apakah Indonesia berpotensi menghadapi persoalan serupa seiring ambisi menjadi salah satu pusat industri digital di Asia?
Bukan Sekadar Gedung Komputer, Data Center Bekerja Tanpa Henti
Untuk memahami persoalan ini, perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana data center beroperasi.
Data center merupakan fasilitas yang menampung perangkat komputasi, server, sistem penyimpanan, jaringan komunikasi, serta berbagai perangkat pendukung untuk menjalankan layanan digital.
Ketika seseorang mengakses internet, melakukan transaksi perbankan, menonton video, menyimpan dokumen di cloud, atau menggunakan AI, sebagian proses komputasi tersebut berlangsung melalui server yang berada di data center.
Server bekerja dengan menggunakan energi listrik. Dalam proses tersebut, sebagian energi berubah menjadi panas. Semakin tinggi kemampuan komputasi dan semakin padat perangkat yang ditempatkan dalam satu ruangan, semakin besar pula panas yang harus dikeluarkan.
Pada fasilitas yang menjalankan komputasi AI, persoalan ini semakin kompleks. Proses pelatihan model AI dan pengoperasian sistem yang menggunakan GPU berperforma tinggi membutuhkan daya komputasi besar.
Karena itu, data center tidak cukup hanya dilengkapi pendingin ruangan biasa. Fasilitas tersebut membutuhkan sistem pengendalian temperatur yang dirancang agar server dapat bekerja secara stabil sepanjang waktu.
Jika sistem pendingin gagal bekerja, suhu perangkat bisa meningkat, kinerja menurun, bahkan berpotensi menyebabkan kerusakan dan penghentian layanan. Di sinilah kebutuhan air mulai menjadi perhatian.
Mengapa Data Center Membutuhkan Air dalam Jumlah Besar?
Salah satu metode pendinginan yang digunakan data center adalah evaporative cooling atau pendinginan melalui penguapan air.
Prinsip kerjanya sebenarnya sederhana. Air digunakan untuk menyerap dan membuang panas. Sebagian air kemudian menguap dalam proses pendinginan, sehingga harus diganti dengan pasokan air baru.
Sistem ini dapat bekerja secara terus-menerus selama fasilitas beroperasi, terutama ketika suhu lingkungan tinggi dan beban komputasi meningkat.
Masalah muncul ketika fasilitas tersebut menggunakan sumber air yang sama dengan kebutuhan masyarakat, pertanian, maupun industri lain.
Besarnya konsumsi air tidak bisa disamaratakan. Ada data center yang menggunakan sistem pendinginan dengan kebutuhan air langsung relatif rendah. Sebaliknya, fasilitas yang mengandalkan cooling tower dan pendinginan evaporatif dapat membutuhkan air dalam jumlah besar.
Dalam laporan The Jakarta Post pada 7 April 2026, Ketua Indonesian Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma, menyebut kebutuhan air data center hyperscale secara global dapat berkisar 1 juta hingga 5 juta liter per hari, terutama pada fasilitas yang menggunakan sistem pendinginan evaporatif.
Angka tersebut merupakan gambaran untuk fasilitas tertentu, bukan standar konsumsi seluruh data center.
Jika menggunakan ilustrasi konsumsi 1 juta liter per hari, dalam setahun kebutuhan airnya mencapai 365 juta liter. Jika mencapai 5 juta liter per hari, jumlahnya menjadi 1,825 miliar liter dalam setahun.
Skala tersebut menunjukkan mengapa kebutuhan air data center perlu diperhitungkan secara serius, terutama apabila fasilitas dibangun berdekatan dengan permukiman atau kawasan pertanian yang memiliki keterbatasan pasokan air. Namun, penggunaan air untuk pendinginan bukan satu-satunya persoalan.
Ada Konsumsi Air Tersembunyi di Balik Kebutuhan Listrik
Salah satu hal yang jarang diketahui masyarakat adalah data center juga memiliki jejak penggunaan air tidak langsung.
Untuk menjalankan ribuan server, data center membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah sangat besar. Sementara itu, sebagian pembangkit listrik menggunakan air dalam proses produksinya, baik untuk pendinginan maupun kebutuhan operasional lainnya.
Artinya, meskipun sebuah data center tidak mengambil banyak air secara langsung, listrik yang digunakan tetap dapat memiliki jejak konsumsi air. Persoalan ini dikenal sebagai konsumsi air tidak langsung atau indirect water consumption.
Laporan Ceres berjudul Drained by Data: The Cumulative Impact of Data Centers on Regional Water Stress yang diterbitkan pada 23 September 2025 menyoroti persoalan tersebut.
Laporan itu menjelaskan bahwa penggunaan air untuk menghasilkan listrik yang memasok data center dapat memberikan dampak lebih besar daripada konsumsi air langsung di lokasi fasilitas.
Studi tersebut mengambil contoh kawasan Phoenix, Arizona, Amerika Serikat. Ceres memperkirakan kebutuhan air terkait konsumsi listrik data center di kawasan yang diteliti dapat meningkat dari sekitar 2,9 miliar galon menjadi lebih dari 14,5 miliar galon per tahun. Sementara kebutuhan air untuk pendinginan langsung diproyeksikan meningkat dari sekitar 385 juta galon menjadi lebih dari 3,7 miliar galon per tahun.
Laporan itu juga memperingatkan bahwa pertumbuhan data center dapat meningkatkan tekanan air di daerah aliran sungai yang sudah mengalami tekanan hingga 17 persen per tahun dalam skenario yang dikaji.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa menghitung kebutuhan air sebuah data center tidak cukup hanya dengan melihat air yang masuk ke gedung. Sumber listrik dan lokasi pembangkit yang memasoknya juga perlu diperhitungkan. Dengan kata lain, jejak air industri digital jauh lebih luas daripada yang terlihat dari aktivitas pendinginan server saja.
Benarkah Data Center Bisa Menyebabkan Kekeringan?
Jawabannya perlu dijelaskan secara hati-hati. Data center bukan penyebab langsung kekeringan meteorologis, yakni kondisi ketika suatu wilayah mengalami penurunan curah hujan dalam periode tertentu.
Pembangunan gedung pusat data tidak serta-merta mengubah pola hujan atau menghentikan proses terbentuknya air tanah. Namun, fasilitas tersebut dapat memperburuk tekanan terhadap sumber air apabila mengambil air dalam jumlah besar dari wilayah yang kapasitas pasokannya terbatas.
Untuk memahami persoalan ini, bayangkan sebuah daerah yang memiliki sumber air untuk memenuhi tiga kebutuhan utama, yaitu rumah tangga, pertanian, dan industri.
Selama ini, sumber air tersebut digunakan untuk kebutuhan penduduk, irigasi sawah, serta aktivitas pabrik. Kemudian dibangun sebuah data center yang beroperasi sepanjang hari dan membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar.
Jika pengambilan air dilakukan dari sumber yang sama, kebutuhan baru tersebut akan menambah beban terhadap ketersediaan air. Dalam kondisi normal, sumber air mungkin masih mampu memenuhi seluruh kebutuhan. Namun, ketika musim kemarau tiba dan debit sungai, waduk, atau air tanah menurun, persaingan penggunaan air menjadi semakin berat.
Dampak yang mungkin terjadi antara lain berkurangnya cadangan air tanah, menurunnya debit sumur, meningkatnya tekanan terhadap pasokan air bersih, serta persaingan antara kebutuhan industri dan pertanian.
Karena itu, istilah yang lebih tepat bukan data center otomatis menyebabkan kekeringan, melainkan pembangunan data center yang tidak memperhitungkan daya dukung air dapat memperparah kelangkaan air di suatu wilayah.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Science Technology pada 6 Oktober 2026 memperkuat kekhawatiran tersebut.
Penelitian yang mengkaji 9.347 data center di seluruh dunia menemukan sekitar 25 persen fasilitas yang diidentifikasi berada di wilayah yang mengalami kondisi kesenjangan pasokan air setidaknya satu bulan dalam setahun berdasarkan kondisi hidrologi periode 2001–2010.
Peneliti juga memperkirakan proporsinya dapat mencapai 33 persen berdasarkan proyeksi kondisi hidrologi masa depan.
Angka ini bukan berarti seluruh data center tersebut telah menyebabkan kekeringan. Temuan itu menunjukkan banyak fasilitas berada di wilayah yang sumber airnya sudah menghadapi tekanan dan berpotensi bersaing dengan kebutuhan sektor lain.
Penelitian tersebut juga mencatat adanya tumpang tindih kebutuhan air dengan sektor rumah tangga, irigasi, manufaktur, dan pembangkit listrik. Inilah yang membuat persoalan data center tidak bisa hanya dilihat sebagai urusan perusahaan teknologi. Ada kepentingan masyarakat luas yang ikut dipertaruhkan.
Mengapa Pembangunan Data Center Ditolak di Berbagai Negara?
Penolakan terhadap pembangunan data center semakin terlihat di Amerika Serikat dan sejumlah negara lain. Masyarakat tidak selalu menolak kemajuan teknologi. Persoalan yang lebih sering muncul adalah kekhawatiran mengenai dampak pembangunan terhadap lingkungan dan kehidupan sehari-hari. Salah satu keberatan utama berkaitan dengan air.
Penduduk mempertanyakan mengapa perusahaan teknologi dapat menggunakan air dalam jumlah besar untuk menjalankan fasilitas komersial, sementara masyarakat setempat harus menghadapi pembatasan penggunaan air atau kesulitan mendapatkan pasokan ketika musim kemarau. Persoalan kedua adalah kebutuhan listrik.
Data center berskala besar dapat membutuhkan pasokan listrik setara dengan kebutuhan energi sebuah kawasan industri. Ketika banyak fasilitas dibangun dalam satu wilayah, jaringan listrik harus menanggung tambahan beban yang besar.
Jika kapasitas pembangkit dan jaringan tidak berkembang seimbang, masyarakat khawatir terjadi tekanan terhadap pasokan listrik dan biaya energi. Persoalan berikutnya adalah penggunaan lahan dan dampak lingkungan.
Pembangunan pusat data membutuhkan kawasan luas, jaringan listrik, infrastruktur komunikasi, sistem pendingin, serta generator cadangan. Aktivitas operasionalnya juga menghasilkan kebisingan dari kipas, mesin pendingin, dan generator. Selain itu, ada persoalan mengenai manfaat ekonomi.
Data center memang membutuhkan investasi besar saat pembangunan. Namun, setelah beroperasi, kebutuhan tenaga kerja tetap umumnya lebih kecil dibandingkan pabrik manufaktur dengan nilai investasi sebanding. Akibatnya, sebagian masyarakat mempertanyakan apakah investasi bernilai miliaran dolar benar-benar memberikan manfaat yang cukup besar bagi penduduk di sekitar lokasi.
Persoalan transparansi juga memperburuk situasi. Masyarakat sering kali tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai kebutuhan air, sumber listrik, dampak lingkungan, hingga rencana perusahaan dalam mengatasi risiko kekurangan air.
Gambaran penolakan itu terlihat di Amerika Serikat. Reuters pada 18 Juli 2026 melaporkan adanya 142 aksi protes terhadap pembangunan data center di 42 negara bagian. Aksi tersebut menjadi bagian dari penolakan terhadap ekspansi infrastruktur AI yang dinilai belum cukup memperhatikan kepentingan masyarakat.
Tuntutan para demonstran antara lain perlindungan sumber air, kesehatan lingkungan, keterbukaan informasi, dan jaminan manfaat ekonomi bagi komunitas setempat.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan data center sudah berkembang dari isu teknis industri menjadi perdebatan mengenai keadilan pemanfaatan sumber daya alam.
Teknologi Pendingin Sebenarnya Bisa Dibuat Lebih Hemat Air
Di tengah kekhawatiran tersebut, bukan berarti semua data center harus menggunakan air dalam jumlah besar. Industri teknologi telah mengembangkan berbagai metode pendinginan yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap air.
Salah satunya adalah air cooling, yakni sistem pendinginan yang memanfaatkan udara untuk mengendalikan temperatur perangkat. Pada kondisi tertentu, sistem ini dapat memiliki kebutuhan air langsung yang sangat rendah.
Ada pula closed-loop cooling, yaitu sistem pendinginan cairan tertutup. Cairan berputar dalam rangkaian pipa untuk menyerap dan memindahkan panas tanpa harus terus-menerus dibuang dan diganti.
Teknologi lainnya adalah direct-to-chip cooling. Sistem ini mengalirkan cairan pendingin langsung ke bagian perangkat yang menghasilkan panas, sehingga proses pendinginan menjadi lebih terarah.
Sementara immersion cooling menggunakan cairan khusus yang tidak menghantarkan listrik untuk mendinginkan perangkat elektronik melalui metode perendaman. Masing-masing teknologi memiliki kelebihan, keterbatasan, kebutuhan energi, dan biaya yang berbeda.
Penelitian Lawrence Berkeley National Laboratory yang diterbitkan pada Juni 2025 menunjukkan bahwa penggunaan air untuk setiap beban kerja data center dapat berbeda lebih dari 10.000 kali.
Perbedaan tersebut dipengaruhi efisiensi server, tingkat pemanfaatan perangkat, jenis sistem pendingin, kondisi iklim, infrastruktur listrik, dan sumber energi yang digunakan.
Temuan ini penting karena membuktikan bahwa tidak semua data center memiliki tingkat konsumsi air yang sama. Namun, teknologi hemat air juga tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan lingkungan. Sistem pendinginan tertentu bisa membutuhkan energi lebih besar. Karena itu, pengembangan fasilitas harus mempertimbangkan efisiensi air dan listrik secara bersamaan.
Indonesia Mulai Menghadapi Persoalan Serupa
Pertumbuhan industri digital dan kebutuhan komputasi AI membuat Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik bagi pengembangan data center.
Kawasan Jakarta dan sekitarnya, serta Batam, menjadi beberapa lokasi yang berkembang sebagai pusat infrastruktur digital. Namun, pembangunan fasilitas tersebut juga menghadapi tantangan karena tidak semua wilayah memiliki kondisi air dan energi yang sama.
Indonesia merupakan negara tropis dengan suhu dan kelembapan yang relatif tinggi di sejumlah kawasan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kebutuhan pendinginan mekanis pada data center.
Di sisi lain, ketersediaan air juga tidak merata. Beberapa wilayah memiliki sumber air relatif memadai, sedangkan wilayah lain menghadapi persoalan pasokan ketika musim kemarau.
Karena itu, lokasi pembangunan tidak boleh hanya ditentukan oleh kedekatan dengan jaringan internet, ketersediaan lahan, dan pasokan listrik. Kondisi sumber air harus menjadi salah satu pertimbangan utama.
Persoalan ini menjadi semakin relevan setelah muncul polemik pembangunan pusat data kecerdasan buatan di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Proyek milik BDx Data Centers tersebut menjadi perhatian karena lokasinya berada sekitar lima kilometer dari Waduk Jatiluhur, salah satu sumber penting air baku untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya serta kebutuhan irigasi pertanian di Jawa Barat.
Berdasarkan laporan The Jakarta Post pada 1 Oktober 2026, pembangunan proyek tersebut dihentikan sementara oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat di tengah persoalan perizinan dan kekhawatiran mengenai dampak lingkungan, khususnya kebutuhan air.
Proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas teknologi informasi hingga 640 megawatt (MW). Tahap pertama sebesar 120 MW ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027.
Kekhawatiran mengenai kebutuhan air juga muncul dari perhitungan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Dalam pemberitaan Katadata, WALHI memperkirakan kebutuhan air proyek tersebut dapat mencapai 384 liter per detik atau sekitar 33.000 meter kubik per hari ketika beroperasi pada kapasitas penuh.
Angka itu merupakan estimasi yang disampaikan WALHI, bukan angka konsumsi aktual fasilitas yang sudah beroperasi.
Sementara itu, pemerintah daerah juga menyampaikan penjelasan mengenai ketersediaan pasokan air melalui Perumda Air Minum Gapura Tirta Rahayu. Dalam pembahasan yang diberitakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada Oktober 2026, disebutkan terdapat sisa kapasitas izin pengambilan air yang perlu diperhitungkan sebelum kebutuhan proyek dipenuhi.
Perbedaan perhitungan dan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utamanya bukan sekadar berapa banyak air yang tersedia di waduk, tetapi bagaimana alokasi air dilakukan, siapa saja pengguna yang sudah bergantung pada sumber tersebut, serta bagaimana kebutuhan pada musim kemarau diperhitungkan.
Polemik Jatiluhur menjadi contoh bahwa pembangunan infrastruktur digital membutuhkan kajian lingkungan dan keterbukaan informasi sejak awal, bukan setelah persoalan muncul di tengah masyarakat.
Investasi Besar Belum Tentu Berarti Banyak Lapangan Kerja
Ada persoalan lain yang juga perlu menjadi perhatian pemerintah daerah, yakni manfaat ekonomi data center bagi masyarakat sekitar.
Pembangunan pusat data memang dapat menghadirkan investasi besar, meningkatkan aktivitas konstruksi, mendorong kebutuhan jasa pendukung, serta memperkuat infrastruktur digital. Namun, karakter industri ini berbeda dengan industri manufaktur.
Pabrik sepatu, tekstil, makanan, atau elektronik membutuhkan banyak tenaga kerja untuk menjalankan proses produksi. Sebaliknya, data center sangat bergantung pada mesin, server, sistem otomatisasi, dan teknologi pengawasan.
Setelah fasilitas selesai dibangun, operasionalnya dapat berjalan dengan jumlah pekerja yang relatif terbatas dibandingkan luas kawasan dan nilai investasinya.
Bukan berarti data center tidak menciptakan lapangan kerja. Fasilitas tersebut tetap membutuhkan tenaga ahli teknologi informasi, teknisi listrik, mekanik, keamanan, pengelola jaringan dan berbagai jasa pendukung.
Namun, pemerintah perlu menghitung secara realistis berapa banyak tenaga kerja lokal yang dapat terserap dan apakah masyarakat sekitar memiliki kesempatan untuk mengisi posisi tersebut.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












