Usai Padepokan Padang Ati Ditutup, Pemkab Pekalongan Pastikan Ratusan Santri Tetap Sekolah dan Dapat Pendampingan Psikologis

- Jurnalis

Selasa, 2 Juni 2026 - 19:11 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ponpes Padepokan Pasang Ati ditutup dan seluruh santri dipindahkan atau ditampung ke sekolah maupun pondok lain agar tetap bisa menyelesaikan pendidikannya, Selasa (2/6/26).

Ponpes Padepokan Pasang Ati ditutup dan seluruh santri dipindahkan atau ditampung ke sekolah maupun pondok lain agar tetap bisa menyelesaikan pendidikannya, Selasa (2/6/26).

PEKALONGAN, KANALPLUSI.ID – Penutupan Pondok Pesantren Padepokan Padang Ati di Kelurahan Simbangkulon, Kecamatan Buaran, tidak membuat nasib para santri terabaikan. Pemerintah Kabupaten Pekalongan memastikan hak pendidikan ratusan santri tetap terpenuhi, termasuk memberikan pendampingan psikologis menyusul kasus yang kini masih ditangani aparat penegak hukum.

Komitmen tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi lintas instansi yang digelar di Kantor Setda Kabupaten Pekalongan, Selasa (2/6/2026). Pertemuan itu melibatkan Kementerian Agama, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP), sejumlah organisasi perangkat daerah, hingga perwakilan pengurus pondok.

Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan, M. Yulian Akbar, mengatakan fokus utama pemerintah saat ini bukan hanya soal penertiban lembaga, melainkan memastikan para santri tidak kehilangan akses pendidikan di tengah situasi yang terjadi.

“Fokus jangka pendek kami adalah memastikan para santri mendapatkan haknya, proses pembelajaran tetap berjalan, dan terakomodasi dengan baik. Termasuk juga pemulihan psikologis para santri,” kata Yulian.

Baca Juga :  Pilu Ibu Hamil 4 Bulan di Pekalongan Gantung Diri, Dugaan Aksi Nekat Korban Dipicu Tagih Utang Tak Kembali

Menurutnya, kegiatan pendidikan formal yang berada di bawah yayasan, yakni Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA), tetap berjalan seperti biasa. Para siswa yang tercatat di lembaga tersebut masih mengikuti proses belajar mengajar dan pelaksanaan ujian.

Pihak yayasan bersama pengelola sekolah juga telah berkomunikasi dengan para wali murid untuk memastikan keberlanjutan pendidikan para siswa.

“Untuk pendidikan formal sudah tidak ada masalah dan sudah berjalan. Para siswa juga sudah menjalani proses yang diperlukan, termasuk pelaksanaan ujian,” ujarnya.

Sementara itu, perhatian khusus diberikan kepada santri yang mengikuti pendidikan non formal seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin). Pemkab Pekalongan meminta agar sementara waktu mereka mengikuti kegiatan belajar di lembaga keagamaan lain yang berada di sekitar wilayah Simbangkulon.

Langkah tersebut diambil agar para santri tetap memperoleh pendidikan keagamaan meskipun aktivitas pondok dihentikan sementara.

Selain pendidikan, kondisi psikologis santri juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Pemkab mengaku telah berkoordinasi dengan kepolisian dan dinas terkait untuk menyiapkan langkah-langkah pendampingan pasca munculnya kasus yang mengguncang lingkungan pondok tersebut.

Baca Juga :  Kapolres Ungkap Panitia Karnaval di Pekalongan Mengaku Banyak Diteror Usai Aksi Teatrikal Mirip Ritual Satanic Viral

Di sisi lain, Yulian menegaskan bahwa keputusan penutupan pondok merupakan hasil koordinasi bersama sejumlah pihak dan bukan semata-mata berkaitan dengan proses hukum yang sedang berjalan.

Menurutnya, langkah penertiban dilakukan karena lembaga tersebut tidak memiliki izin operasional sebagaimana ketentuan yang berlaku.

“Penutupan dilakukan karena memang tidak ada izin. Pada dasarnya kami melakukan penertiban,” tegasnya.

Adapun proses hukum terkait kasus yang mencuat di lingkungan padepokan sepenuhnya menjadi kewenangan aparat kepolisian dan saat ini masih berlangsung.

Pemkab Pekalongan berharap langkah-langkah yang telah disiapkan dapat memastikan para santri tidak menjadi pihak yang dirugikan akibat persoalan yang terjadi. Pemerintah menegaskan bahwa pendidikan, keamanan, dan pemulihan kondisi mental para santri tetap menjadi prioritas utama selama proses penanganan kasus berlangsung.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Perumdam Tirta Kajen Wacanakan Sistem Genap Ganjil untuk Atasi Krisis Debit Air
PDAM Pekalongan Atasi Gangguan Air Valve di Lima Titik, Debit Air ke Pelanggan Meningkat
Dindik Pekalongan Sebut Lima Anak Terlibat Dugaan Perundungan SDN Langkap 2 Diminta Tanggung Biaya Pengobatan Korban
Siswa SD di Pekalongan Diduga Alami Perundungan, Keluarga Ungkap Kondisi Anak Memburuk
Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih
Bantuan Air Bersih ke Wilayah Terdampak Kekeringan di Kabupaten Pekalongan Tembus Jutaan Liter
Tiap Tahun Kekeringan, Warga Kesesi Lega Dibantu 18 Ribu Liter Air Bersih
Donasi Gempa NTT dari Pekalongan Tembus Rp127 Juta, Rp60 Juta Sudah Disalurkan

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Perumdam Tirta Kajen Wacanakan Sistem Genap Ganjil untuk Atasi Krisis Debit Air

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:03 WIB

PDAM Pekalongan Atasi Gangguan Air Valve di Lima Titik, Debit Air ke Pelanggan Meningkat

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:12 WIB

Dindik Pekalongan Sebut Lima Anak Terlibat Dugaan Perundungan SDN Langkap 2 Diminta Tanggung Biaya Pengobatan Korban

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:08 WIB

Siswa SD di Pekalongan Diduga Alami Perundungan, Keluarga Ungkap Kondisi Anak Memburuk

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:55 WIB

Debit Air Baku di Pekalongan Turun hingga 50 Persen, Perumdam Tirta Kajen Terapkan Penggiliran demi Jaga Air Bersih

Berita Terbaru