KANAL BATANG — Makan gratis dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kabupaten Batang dikemas berbeda tahun ini. Pemerintah Kabupaten Batang tidak sekadar membagikan makanan kepada masyarakat, tetapi menjadikan kegiatan tersebut sebagai ajang memperkenalkan transaksi nontunai sekaligus menggalang donasi untuk pembangunan sumur bor.
Sebanyak 28 booth kuliner UMKM disiapkan di kawasan Jalan Veteran, Batang, Senin (17/8/2026) malam. Para penjual yang terlibat merupakan pedagang di sekitar kawasan alun-alun serta UMKM binaan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM) Kabupaten Batang.
Tidak ada transaksi dengan uang tunai di booth-booth tersebut. Masyarakat yang mendapatkan kupon makanan diarahkan melakukan pembayaran melalui QRIS.
Kepala Disperindagkop UKM Kabupaten Batang Wahyu Budi Santoso mengatakan, setiap booth diisi tiga pelaku UMKM kuliner. Mekanisme penukaran makanan juga dibuat menggunakan kupon dengan tanda atau warna tertentu.
“Warna itu menunjukkan tendanya, berarti jenis kuliner yang bisa ditukar,” kata Wahyu, Senin (17/8/2026) malam.
Kupon tersebut menjadi penanda bagi warga untuk mengetahui booth tempat mereka dapat memperoleh makanan. Namun, kupon bukan berarti menghilangkan proses transaksi digital.
Masyarakat tetap diarahkan melakukan scan QRIS sebelum menukarkan kupon dengan makanan.
Yang menarik, transaksi tersebut bukan sekadar simulasi penggunaan pembayaran digital. Uang yang masuk melalui QRIS dalam kegiatan itu diarahkan untuk wakaf pembangunan sumur bor.
Wahyu mengatakan nominal wakaf tidak ditentukan secara besar. Masyarakat cukup memberikan wakaf minimal Rp1 melalui QRIS.
“Semua transaksi QRIS-nya di sini masuk ke wakaf semua,” terangnya.
Dana tersebut nantinya diakumulasi bersama penggalangan wakaf dari sejumlah kegiatan lain yang telah dilakukan sebelumnya. Tujuannya untuk membantu pembangunan sumur di wilayah Kabupaten Batang yang membutuhkan akses air.
Penerapan transaksi QRIS dalam kegiatan tersebut sekaligus memberikan pengalaman langsung bagi pelaku UMKM yang selama ini terbiasa menerima pembayaran tunai.
Mela, salah satu pedagang tahu campur, mengatakan pembayaran menggunakan QRIS justru membuat transaksi lebih praktis.
Tahu campur dagangannya dibanderol Rp10.000 per porsi. Namun, pembeli tidak perlu mengeluarkan uang tunai untuk membayarnya.
“Lebih mudah. Kalau tunai kan harus sedia uang kembalian, kalau QRIS kan enggak repot,” tutur Mela.
Mela sendiri telah menggunakan QRIS hampir dua tahun. Selain menerima pembayaran dari pembeli, ia juga terbiasa menggunakan QRIS untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Menurutnya, selama ponsel dalam kondisi siap digunakan, transaksi digital tidak banyak menimbulkan persoalan.
“Kalau baterainya low, itu baru kesulitan. Kalau enggak, selama ini masih aman-aman saja,” katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Sulistyowati (18), pelajar SMA Al-Munawwaroh asal Kecamatan Kandeman.
Sulis datang bersama teman-temannya setelah mendapatkan kupon dari kegiatan upacara di kawasan Dracik Kampus. Untuk menukarkan kupon dengan makanan, ia harus melakukan scan QRIS terlebih dahulu.
Menurut Sulis, penggunaan QRIS sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Ia mengaku telah menggunakan QRIS selama hampir satu tahun, terutama saat berbelanja di supermarket maupun pedagang yang menyediakan pembayaran digital.
“Lebih memudahkan. Kalau pakai cash, kalau kembalian Rp1.000 atau Rp2.000 itu kan seperti buang sedikit. Kalau di QRIS tinggal dipencet, transaksinya sesuai dengan yang kita beli,” paparnya.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi Pemkab Batang dengan Bank Indonesia dalam Pekan QRIS Nasional 2026.
Kepala Perwakilan BI Tegal Bimala mengatakan, QRIS dalam kegiatan tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai alat pembayaran, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem transaksi nontunai sekaligus mendukung kegiatan sosial.
Pekan QRIS digelar setiap 11-17 Agustus, bertepatan dengan momentum peluncuran QRIS pada 17 Agustus 2019.
Di Batang, edukasi transaksi digital dilakukan dengan cara yang langsung bersentuhan dengan aktivitas masyarakat. Warga tidak hanya diberi penjelasan tentang QRIS, tetapi menggunakannya secara langsung untuk mendapatkan makanan.
Pada saat yang sama, transaksi tersebut memiliki dampak sosial karena diarahkan menjadi wakaf untuk pembangunan sumur bor.
Skema ini membuat satu transaksi memiliki manfaat berlapis, yakni UMKM mendapatkan ruang berjualan, masyarakat mendapatkan pengalaman menggunakan pembayaran nontunai, dan transaksi yang terkumpul diarahkan untuk membantu penyediaan air bagi warga yang membutuhkan.
Dengan demikian, kegiatan makan gratis dalam resepsi HUT ke-81 RI di Batang tidak berhenti sebagai agenda pembagian konsumsi. Jalan Veteran malam itu berubah menjadi ruang praktik pembayaran digital, tempat UMKM dan masyarakat bertransaksi tanpa uang tunai sekaligus ikut mengumpulkan wakaf untuk pembangunan sumur bor.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













