SEMARANG, KANALPLUS.ID – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan membuka ruang kritik seluas-luasnya kepada ratusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari seluruh Indonesia. Dalam Rapat Koordinasi Nasional BEM SI di Semarang, ia bahkan mempersilakan mahasiswa menyampaikan protes dan mempertanyakan seluruh kebijakan pemerintah secara langsung.
Alih-alih menyampaikan pidato panjang, Zulkifli Hasan memilih mengawali forum dengan dialog terbuka.
“Pembukaan sudah banyak yang pidato, sekarang kita dialog saja. Waktu kita satu jam. Kritik boleh, protes boleh,” ujar Zulkifli di hadapan 178 perwakilan BEM dari berbagai daerah, Senin (27/7/2026).
Ajakan tersebut langsung dimanfaatkan peserta untuk mengajukan pertanyaan kritis, mulai dari implementasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), tata kelola sektor pangan, kesejahteraan petani dan nelayan, hingga arah kebijakan pembangunan nasional.
Menurut Zulkifli, kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi. Namun, ia menilai penyampaian aspirasi tidak cukup hanya dilakukan melalui aksi demonstrasi, melainkan perlu dilanjutkan dengan dialog agar pemerintah dapat memberikan penjelasan sekaligus menerima masukan.
“Demonstrasi adalah hak setiap warga negara. Setelah aspirasi disampaikan, pemerintah berkewajiban membuka ruang diskusi. Mahasiswa berhak mempertanyakan seluruh kebijakan pemerintah, dan menjadi tugas kami menjelaskan secara terbuka,” tegasnya.
Dalam forum tersebut, Menko Pangan juga menyoroti tantangan ketahanan pangan global. Mengacu pada laporan State of Food Security and Nutrition yang dirilis FAO pada Juli 2026, ia menyebut persoalan pangan dunia kini bukan hanya menyangkut ketersediaan, tetapi juga akses masyarakat terhadap pangan bergizi.
Karena itu, pemerintah disebut terus memperkuat keberpihakan kepada petani dan nelayan melalui berbagai program, termasuk penguatan kelembagaan ekonomi seperti Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
“Tidak mungkin petani dan nelayan mampu bersaing sendiri tanpa keberpihakan negara. Karena itu pemerintah terus memperkuat akses terhadap permodalan, pasar, teknologi, dan kelembagaan ekonomi,” katanya.
Zulkifli menegaskan, upaya mewujudkan swasembada pangan bukan sekadar meningkatkan produksi, melainkan menjaga kedaulatan bangsa agar sektor pangan tidak sepenuhnya bergantung pada mekanisme pasar bebas yang dinilai berpotensi semakin meminggirkan petani kecil.
Di akhir dialog, ia mengajak mahasiswa tetap kritis sekaligus ikut menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa.
“Kritik tetap diperlukan, tetapi dialog dan gotong royong adalah jalan agar kritik itu benar-benar melahirkan perubahan,” pungkasnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













