KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Di balik penemuan jasad seorang pria di aliran Kali Banger, Kelurahan Setono, Kota Pekalongan, tersimpan kisah pilu yang mengiris hati. Halimah (77), seorang perempuan lanjut usia yang setiap hari mendorong gerobak tua berisi pisang dari kampung ke kampung, harus menghadapi kenyataan kehilangan anaknya dengan cara yang tragis.
Saat jenazah putra keduanya ditemukan dan hendak dimakamkan, perempuan renta itu bahkan disebut tidak memiliki uang untuk membiayai proses pemakaman.
Kondisi tersebut membuat Dinas Sosial bersama pemerintah kelurahan turun tangan membantu seluruh kebutuhan pemakaman hingga korban akhirnya dimakamkan di TPU Setono, berdampingan dengan makam ayahnya.
Kapolsek Pekalongan Timur, Kompol Tri Handayani, mengungkapkan dari hasil keterangan yang diperoleh, korban dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan sulit bergaul dengan lingkungan sekitar.
“Korban memang dikenal pendiam, tertutup dan tidak banyak berinteraksi dengan tetangga. Dari informasi yang kami dapat, beberapa hari sebelum kejadian korban juga sempat berkeliling menemui sejumlah kerabat seperti berpamitan,” ujarnya kepada kanalplus.id, Selasa (16/6/2026) malam.
Menurutnya, polisi juga memperoleh informasi bahwa korban diduga mengalami tekanan psikologis. Namun hingga kini belum ada kesimpulan mengenai penyebab pasti yang melatarbelakanginya.
Korban sehari-hari bekerja serabutan dan terkadang menganggur. Warga sekitar juga mengenalnya sebagai sosok yang hidup sederhana dan lebih banyak menyendiri.
Di rumah sederhana yang ditempati di wilayah Setono, Halimah menjalani hidup dengan penghasilan yang tidak menentu. Setiap pagi, ia mendorong gerobak tua berisi pisang dagangan untuk berkeliling kampung demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ironisnya, penghasilan dari berdagang keliling itu bahkan tidak cukup untuk menyiapkan biaya pemakaman anaknya sendiri.
“Tadi orang tuanya menangis karena tidak punya uang untuk biaya pemakaman. Akhirnya kami berkoordinasi dengan lurah dan Dinas Sosial sehingga seluruh kebutuhan pemakaman bisa dibantu,” kata Kompol Tri Handayani.
Sementara itu, Lurah Klego, Abdul Ghoni, membenarkan keluarga tersebut selama ini merupakan penerima bantuan sosial pemerintah. Menurutnya, Halimah hidup hanya bersama anaknya dan mengandalkan bantuan serta hasil berjualan pisang keliling.
“Ibunya memang menerima bantuan sosial dan bantuan beras. Untuk pemakaman tadi langsung ditangani Dinas Sosial melalui TKSK sehingga seluruh biayanya dapat ditanggung,” jelas Abdul Ghoni.
Ia menambahkan, keluarga tersebut masih mempertahankan administrasi kependudukan di Kelurahan Klego karena khawatir kehilangan akses terhadap bantuan sosial, meski almarhum anaknya sudah dua tahu tinggal di Setono.
“Jadi keluarga korban ini masuk Desil 3 dan termasuk warga miskin yang berhak menerima bantuan. NIK keduanya masih warga Klego,” ungkapnya.
Penulis : Acmad Udin
Editor : MAD









