Kisah Pilu Ibu Penjual Pisang Keliling di Kota Pekalongan Tangisi Jasad Anaknya yang Ditemukan Tenggelam oleh Tim SAR di Kali Banger Karena Tak Mampu Biayai Pemakaman

- Penulis

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Duka Halimah (77) penjual pisang keliling yang kehilangan putra keduanya karena tenggelam di Kali Banger, tangisnya makin menjadi-jadi lantaran tak mampu membiayai pemakaman putranya tersebut, Selasa (16/6/26). Foto : Ilustrasi AI

Duka Halimah (77) penjual pisang keliling yang kehilangan putra keduanya karena tenggelam di Kali Banger, tangisnya makin menjadi-jadi lantaran tak mampu membiayai pemakaman putranya tersebut, Selasa (16/6/26). Foto : Ilustrasi AI

KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Di balik penemuan jasad seorang pria di aliran Kali Banger, Kelurahan Setono, Kota Pekalongan, tersimpan kisah pilu yang mengiris hati. Halimah (77), seorang perempuan lanjut usia yang setiap hari mendorong gerobak tua berisi pisang dari kampung ke kampung, harus menghadapi kenyataan kehilangan anaknya dengan cara yang tragis.

Saat jenazah putra keduanya ditemukan dan hendak dimakamkan, perempuan renta itu bahkan disebut tidak memiliki uang untuk membiayai proses pemakaman.

Kondisi tersebut membuat Dinas Sosial bersama pemerintah kelurahan turun tangan membantu seluruh kebutuhan pemakaman hingga korban akhirnya dimakamkan di TPU Setono, berdampingan dengan makam ayahnya.

Kapolsek Pekalongan Timur, Kompol Tri Handayani, mengungkapkan dari hasil keterangan yang diperoleh, korban dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan sulit bergaul dengan lingkungan sekitar.

“Korban memang dikenal pendiam, tertutup dan tidak banyak berinteraksi dengan tetangga. Dari informasi yang kami dapat, beberapa hari sebelum kejadian korban juga sempat berkeliling menemui sejumlah kerabat seperti berpamitan,” ujarnya kepada kanalplus.id, Selasa (16/6/2026) malam.

Baca Juga :  Kawan Lama Group Buka Tiga Toko Sekaligus di Pekalongan, Serap Potensi Pasar dan Gairahkan Ekonomi Lokal

Menurutnya, polisi juga memperoleh informasi bahwa korban diduga mengalami tekanan psikologis. Namun hingga kini belum ada kesimpulan mengenai penyebab pasti yang melatarbelakanginya.

Korban sehari-hari bekerja serabutan dan terkadang menganggur. Warga sekitar juga mengenalnya sebagai sosok yang hidup sederhana dan lebih banyak menyendiri.

Di rumah sederhana yang ditempati di wilayah Setono, Halimah menjalani hidup dengan penghasilan yang tidak menentu. Setiap pagi, ia mendorong gerobak tua berisi pisang dagangan untuk berkeliling kampung demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ironisnya, penghasilan dari berdagang keliling itu bahkan tidak cukup untuk menyiapkan biaya pemakaman anaknya sendiri.

“Tadi orang tuanya menangis karena tidak punya uang untuk biaya pemakaman. Akhirnya kami berkoordinasi dengan lurah dan Dinas Sosial sehingga seluruh kebutuhan pemakaman bisa dibantu,” kata Kompol Tri Handayani.

Baca Juga :  Psikolog Soroti Dugaan Gangguan Mental di Balik Kasus Anak Bunuh Ibu di Kota Pekalongan, Tekankan Pentingnya Pendampingan dan Dukungan Lingkungan

Sementara itu, Lurah Klego, Abdul Ghoni, membenarkan keluarga tersebut selama ini merupakan penerima bantuan sosial pemerintah. Menurutnya, Halimah hidup hanya bersama anaknya dan mengandalkan bantuan serta hasil berjualan pisang keliling.

“Ibunya memang menerima bantuan sosial dan bantuan beras. Untuk pemakaman tadi langsung ditangani Dinas Sosial melalui TKSK sehingga seluruh biayanya dapat ditanggung,” jelas Abdul Ghoni.

Ia menambahkan, keluarga tersebut masih mempertahankan administrasi kependudukan di Kelurahan Klego karena khawatir kehilangan akses terhadap bantuan sosial, meski almarhum anaknya sudah dua tahu  tinggal di Setono.

“Jadi keluarga korban ini masuk Desil 3 dan termasuk warga miskin yang berhak menerima bantuan. NIK keduanya masih warga Klego,” ungkapnya.

Penulis : Acmad Udin

Editor : MAD

Berita Terkait

Diadang Aparat Gabungan, 150 Mahasiswa AMPERA Pilih Gelar ‘Parlemen Jalanan’, Berujung Kesepakatan dengan Wali Kota dan DPRD
Food Bank Pekalongan Bersiap Gandeng BAZNAS dan Pemkot, Skema Kolaborasi Mulai Dimatangkan
Warga Setono Patungan Biayai Pemakaman Korban Tenggelam, Luruskan Bukan Bantuan Pemerintah
Korban Tenggelam di Kali Banger Ditemukan Mengapung, Tim SAR Gabungan Akhiri Pencarian Hari Kedua
KPK Kembali Bidik ASN dan Swasta di Pekalongan, 23 Saksi Dijadwalkan Diperiksa di Mapolres Pekalongan Kota
Hari Kedua Operasi SAR Korban Tenggelam di Kali Banger Kota Pekalongan, Radius Pencarian Diperluas hingga 1 Kilometer
Libur Panjang Berakhir, Lebih dari 17 Ribu Penumpang Padati Stasiun Pekalongan
Pria Misterius Tenggelam di Kali Banger Pekalongan, Saksi Mata Ungkap Kronologi Kejadian

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 18:35 WIB

Diadang Aparat Gabungan, 150 Mahasiswa AMPERA Pilih Gelar ‘Parlemen Jalanan’, Berujung Kesepakatan dengan Wali Kota dan DPRD

Kamis, 18 Juni 2026 - 05:21 WIB

Warga Setono Patungan Biayai Pemakaman Korban Tenggelam, Luruskan Bukan Bantuan Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:38 WIB

Kisah Pilu Ibu Penjual Pisang Keliling di Kota Pekalongan Tangisi Jasad Anaknya yang Ditemukan Tenggelam oleh Tim SAR di Kali Banger Karena Tak Mampu Biayai Pemakaman

Selasa, 16 Juni 2026 - 14:33 WIB

Korban Tenggelam di Kali Banger Ditemukan Mengapung, Tim SAR Gabungan Akhiri Pencarian Hari Kedua

Selasa, 16 Juni 2026 - 13:29 WIB

KPK Kembali Bidik ASN dan Swasta di Pekalongan, 23 Saksi Dijadwalkan Diperiksa di Mapolres Pekalongan Kota

Berita Terbaru