KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Pekalongan mengusulkan penerapan early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini cuaca berbasis digital yang terintegrasi dengan data BMKG. Sistem tersebut diharapkan dapat menggantikan metode manual berupa pengibaran bendera yang selama ini digunakan sebagai penanda kondisi cuaca di laut.
Ketua KNTI Kota Pekalongan, Ilyas Jambari, mengatakan perubahan cuaca yang semakin cepat akibat perubahan iklim membuat nelayan membutuhkan informasi yang lebih spesifik dan dapat diperbarui secara real time sebelum berangkat melaut.
“Kami mengusulkan kepada BMKG agar informasi cuaca laut bisa ditampilkan melalui videotron di pintu keluar muara. Dengan begitu, nelayan bisa mengetahui wilayah mana yang aman dan mana yang berbahaya sebelum berangkat melaut,” kata Ilyas saat dihubungi kanalplus.id, Minggu (19/7/2026).
Menurutnya, sistem bendera merah dan hijau yang digunakan saat ini masih membantu sebagai penanda umum. Namun, metode tersebut memiliki keterbatasan karena tidak mampu menunjukkan lokasi atau koordinat wilayah yang terdampak cuaca buruk.
“Kalau sekarang hanya ada bendera merah berarti bahaya, hijau berarti aman. Padahal kondisi di laut tidak selalu sama. Bisa jadi satu titik berbahaya, tetapi di lokasi lain masih aman untuk mencari ikan,” ujarnya.
Ilyas menjelaskan, informasi berbasis koordinat akan membantu nelayan menentukan jalur pelayaran sekaligus menghindari area yang berpotensi mengalami gelombang tinggi atau cuaca ekstrem.
“Kalau ada videotron yang terhubung dengan BMKG, kami bisa melihat titik-titik yang berbahaya dan memilih lokasi lain yang lebih aman. Itu jauh lebih membantu dibanding hanya melihat bendera,” katanya.
Ia mengungkapkan, informasi cuaca dari BMKG sebenarnya sudah tersedia melalui grup WhatsApp maupun situs resmi. Namun, penyampaian informasi tersebut dinilai belum sepenuhnya efektif bagi nelayan.
“Informasi dari BMKG memang sudah ada di grup WhatsApp, tetapi saat itu kami biasanya masih sibuk menyiapkan kapal, menjual ikan atau mempersiapkan keberangkatan sehingga tidak selalu sempat memantau. Selain itu, tidak semua nelayan memiliki atau terbiasa menggunakan telepon pintar,” jelasnya.
Menurut Ilyas, videotron yang ditempatkan di pintu keluar pelabuhan akan lebih mudah diakses karena dapat dilihat langsung oleh seluruh awak kapal sebelum berangkat.
Selain meningkatkan keselamatan, sistem tersebut juga dinilai dapat membantu nelayan menentukan lokasi penangkapan ikan yang lebih efektif.
“Tujuan kami bukan hanya mengetahui cuaca, tetapi juga menentukan jalur yang aman menuju daerah penangkapan ikan. Kalau tujuan pertama tidak ada ikan, kami bisa bergeser ke lokasi lain tanpa harus masuk ke wilayah yang berbahaya,” terangnya.
Ilyas mengakui, selama ini sebagian nelayan tetap melaut meski bendera merah telah dikibarkan. Menurutnya, keputusan itu diambil karena nelayan mengandalkan pengalaman membaca kondisi alam, sementara bendera tidak memberikan informasi wilayah mana yang sebenarnya terdampak.
“Sering kali meski bendera merah dikibarkan, kami tetap melaut karena berdasarkan pengalaman kondisi tidak semuanya berbahaya. Yang kami butuhkan adalah informasi lokasi secara rinci, bukan hanya tanda umum,” jelasnya.
Ia menambahkan, mayoritas nelayan saat ini telah terbiasa membaca koordinat pelayaran melalui perangkat navigasi sederhana atau peta digital offline. Namun, perangkat tersebut hanya menunjukkan posisi kapal, bukan kondisi cuaca di lokasi tujuan.
“Koordinat bukan persoalan bagi nelayan. Yang belum ada adalah informasi cuacanya secara langsung di titik-titik tersebut,” ucapnya.
Usulan pembangunan videotron itu telah disampaikan KNTI dalam forum diskusi bersama BMKG, Bappeda, Kominfo serta sejumlah pemangku kepentingan di Kota Pekalongan pada 15 Juni 2026. Hingga kini, usulan tersebut masih menunggu tindak lanjut.
Di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim, Ilyas menilai keberadaan sistem peringatan dini menjadi kebutuhan mendesak bagi nelayan, terutama saat musim penghujan ketika perubahan cuaca terjadi sangat cepat.
“Nelayan bekerja pada malam hari di tengah laut. Tanpa informasi cuaca yang memadai, risikonya sangat besar. Ibarat berjalan di malam hari tanpa mengetahui kondisi di depan,” ujarnya.
Ia juga menilai perubahan iklim mulai dirasakan nelayan melalui perubahan suhu air laut yang berdampak pada pergeseran daerah penangkapan ikan.
“Kami merasakan ikan semakin sulit ditemukan karena suhu air berubah. Perubahan iklim memang nyata dirasakan nelayan, sehingga informasi cuaca yang cepat dan akurat menjadi bagian penting dari upaya mitigasi,” katanya.
KNTI berharap pemerintah bersama BMKG dapat merealisasikan sistem peringatan dini berbasis videotron sebagai pelengkap layanan informasi cuaca yang sudah ada. Dengan sistem tersebut, nelayan diharapkan dapat mengambil keputusan lebih cepat, mengurangi risiko kecelakaan di laut, sekaligus beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













