KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Dugaan kasus pencabulan terhadap sejumlah santriwati di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mulai mencuat ke publik setelah puluhan anggota organisasi sosial asal Jawa Timur mendatangi lokasi pondok, Rabu (27/5/2026).
Kedatangan massa dari organisasi bernama Yakuza Maneges itu berlangsung di kawasan Pondok Pesantren Padepokan Padang Ati, Jalan KH A Fadlun, Kelurahan Simbangkulon, Kecamatan Buaran. Mereka mengaku datang untuk mengawal dugaan kasus asusila yang disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Pimpinan Yakuza Maneges, Gus Thuba Topo Broto Maneges, mengungkapkan pihaknya menerima banyak laporan dari keluarga korban maupun mantan santriwati yang mengaku mengalami pelecehan fisik di lingkungan pondok tersebut.
“Banyak yang menghubungi pengurus Yakuza dari keluarga korban. Ada juga langsung dari korban untuk minta bantuan membongkar masalah ini,” ujar Gus Thuba saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, laporan yang diterima mayoritas berkaitan dengan dugaan pelecehan fisik. Sementara dugaan intimidasi verbal disebut turut menyertai agar korban tidak berani berbicara ke publik.
“Kalau verbal itu lebih ke ancaman kalau sampai speak up. Ancamannya macam-macam,” katanya.
Gus Thuba juga menyinggung kasus santriwati yang sebelumnya viral karena disebut hamil hingga melahirkan tanpa mengaku memiliki pasangan. Ia menyebut kasus tersebut masih terus didalami sebagai bagian pengembangan dugaan perkara lain yang berkaitan.
“Iya, itu masih kami urus juga untuk pengembangan kasus,” ungkapnya.
Dari data sementara yang diklaim diterima organisasi tersebut, terdapat sekitar 23 hingga 25 orang yang disebut pernah bercerita antar korban mengenai dugaan tindakan serupa. Namun hingga kini baru sekitar enam hingga tujuh orang yang disebut berani berbicara langsung dan siap memberikan keterangan.
“Yang berani maju baru enam. Kalau yang hamil itu berbeda lagi,” jelasnya.
Menurut Gus Thuba, sebagian besar korban yang mulai berani bicara justru merupakan alumni lama pondok. Ia menduga praktik tersebut sudah berlangsung jauh sebelum bangunan pondok berdiri seperti sekarang.
“Dari sebelum ada bangunan pondok ini. Sekitar 13 sampai 15 tahun lalu sudah ada korban,” jelasnya.
Ia menilai kasus tersebut layaknya fenomena gunung es karena masih banyak korban lain yang belum berani muncul ke publik. Faktor rasa takut dan budaya sungkan terhadap lingkungan pesantren disebut menjadi salah satu penyebab minimnya laporan terbuka.
“Jadi masih banyak sebenarnya. Itu baru yang berani bicara,” ujarnya.
Gus Thuba mengaku organisasinya memilih turun langsung karena menilai belum banyak pihak yang berani membuka persoalan tersebut secara terang-terangan. Menurutnya, keberanian korban harus mendapat dukungan agar kasus serupa tidak terus berulang.
“Saya enggak mau korban terus nangis-nangis tapi semua orang sungkan bicara,” tegasnya.
Dari pantauan di lokasi, saat digeruduk massa, aktivitas di Ponpes Padang Ati masih berlangsung dan baru terhenti setelah kedatangan puluhan massa berseragam hitam-hitam.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD









