Dari Spons Bekas hingga Batik Dua Wajah, Perjuangan Mahmudi Menjaga Api di Balik Pranggok yang Kian Sepi

- Jurnalis

Jumat, 17 Juli 2026 - 16:07 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Mahmudi menyebut pranggok sebagai ruang menulis perjalanan hidup puluhan tahun.

Mahmudi menyebut pranggok sebagai ruang menulis perjalanan hidup puluhan tahun.

PEKALONGAN, KANALPLUS.ID -Di sudut Gang Masjid, Desa Waru Lor, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, sebuah pranggok sederhana berdiri nyaris tanpa tanda kemewahan. Dindingnya dipenuhi bercak malam yang menghitam, lantainya kusam, sementara aroma lilin panas bercampur pewarna batik memenuhi setiap sudut ruangan.

Bagi sebagian orang, tempat itu mungkin hanya bengkel batik yang telah menua. Namun bagi Mahmudi (51) dan istrinya, Eni (47), pranggok itu adalah ruang tempat mereka menulis perjalanan hidup selama puluhan tahun.

Di sanalah tiga anak mereka dibesarkan. Di sanalah pula mereka belajar bahwa bertahan sebagai pembatik tak cukup hanya menguasai canting dan malam. Mereka juga harus terus menemukan cara agar batik tetap bernilai di tengah pasar yang terus berubah.

Pagi itu, Mahmudi membentangkan selembar kain mori putih di atas meja cap. Tangannya lincah mengangkat canting cap bermotif bunga dari wajan berisi malam panas, lalu menekannya perlahan ke permukaan kain.

Namun di tengah deretan canting tembaga yang tersusun di dinding, ada benda yang justru paling sering ia genggam. Bukan alat mahal, melainkan sepotong spons bekas sofa.

Spons itu dicelupkan ke malam panas, lalu digoreskan di sela-sela motif bunga hingga membentuk garis-garis abstrak yang menjadi ciri khas batiknya.

“Motif goresan ini saya buat pakai spons bekas. Dulu waktu pandemi saya tidak punya uang untuk membeli canting cap baru. Akhirnya saya coba pakai spons, ternyata malah banyak yang suka,” katanya membuka obrolan, Jumat (17/7/2026).

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, keterbatasan modal justru melahirkan inovasi. Saat harga satu canting cap tembaga bisa mencapai sekitar Rp700 ribu, membeli motif baru bukan pilihan yang mudah. Mahmudi akhirnya memanfaatkan apa yang tersedia di rumah. Spons bekas yang biasanya dibuang justru berubah menjadi alat untuk menciptakan karakter baru pada batiknya.

Hasilnya kini menjadi produk kombinasi batik cap dan tulis yang dijual sekitar Rp70 ribu per lembar. Namun kreativitas Mahmudi tidak berhenti di situ. Eni, istrinya, kemudian membawa selembar kain merah dari dalam rumah.

Sekilas batik itu tampak biasa, dipenuhi bunga-bunga dengan perpaduan warna cokelat dan kuning. Tetapi ketika kain dibalik, wajahnya berubah total. Di sisi belakang muncul motif wayang, gunungan dan ornamen khas Jawa yang jauh lebih maskulin. Satu kain, dua karakter.

Baca Juga :  Terbongkar! Rumah Kosong di Pemalang Diduga Jadi Pabrik Cairan Ganja Sintetis, Pasok Enam Daerah Pantura

Bukan sekadar motif pagi-sore yang berbeda di kanan dan kiri, melainkan dua desain berbeda di dua sisi kain.

“Saya pernah mendengar ada batik seperti ini harganya mahal. Akhirnya saya belajar sendiri sampai bisa membuatnya. Pernah ada pembeli yang membawa batik ini ke pameran. Saya jual Rp1,2 juta per lembar,” ujar Mahmudi.

Menurutnya, membuat batik dua wajah bukan pekerjaan singkat. Satu lembar kain membutuhkan waktu hampir lima kali lebih lama dibanding batik biasa. Namun justru karya itulah yang kini paling jarang diproduksi. Bukan karena sulit membuatnya. Melainkan karena Mahmudi tak lagi tahu harus menjualnya kepada siapa.

Ia mengungkapkan, perantara yang dulu rutin membawa batiknya ke berbagai pameran kini sudah sakit-sakitan dan berhenti berjualan. Sejak saat itu, karya terbaik Mahmudi lebih sering tersimpan dibanding dipasarkan.

“Saya sebenarnya ingin terus membuat batik seperti ini. Tapi kalau tidak ada pasarnya, modalnya terlalu besar untuk diputar,” ujarnya pelan.

Persoalan yang dihadapi pasangan ini ternyata bukan hanya soal penjualan. Setiap pekan, harga bahan baku terus merangkak naik.

Mahmudi menyebut parafin yang sebulan lalu masih sekitar Rp28 ribu per kilogram kini sudah menyentuh Rp33 ribu. Belum lagi kain mori, pewarna hingga kebutuhan produksi lain yang ikut naik mengikuti nilai tukar dolar.

Di tengah kondisi tersebut, membeli bahan baku dalam jumlah besar justru menjadi kemewahan.

Sementara Eni mengaku memilih membeli kebutuhan produksi sedikit demi sedikit sesuai uang yang tersedia.

“Kalau punya modal besar tentu kami ingin stok untuk sebulan. Tapi kami tidak berani berutang,” katanya.

Keputusan itu, lanjutnya, membuat setiap hasil penjualan harus segera berubah menjadi bahan baku baru. Tak ada ruang bagi uang untuk mengendap terlalu lama.

Masalahnya, pola pemasaran batik tradisional sering kali membuat pembayaran baru diterima setelah tiga hingga enam bulan karena barang hanya dititipkan di toko.

Baca Juga :  Pembunuh Perangkat Desa Kalipancur Ngaku Sakit Hati Kerap Disuruh-suruh

Ia menuturkan, bagi usaha rumahan, menunggu selama itu sama artinya menghentikan putaran produksi. Jalan keluar akhirnya datang melalui Koperasi Bangun Bersama (KBB) binaan PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG).

Berbeda dengan koperasi simpan pinjam, koperasi ini bertindak sebagai penyerap hasil produksi.Perajin memperoleh modal kerja sesuai kapasitas produksi, lalu batik yang selesai dikerjakan langsung dibeli koperasi melalui mekanisme bagi hasil.

“Begitu batik selesai langsung dibeli. Jadi uangnya bisa langsung dipakai lagi untuk produksi. Tidak perlu menunggu berbulan-bulan seperti titip di toko,” tukas Eni.

Saat ini sekitar empat lembar batik tulis hasil karyanya dapat terserap koperasi setiap bulan. Jumlah itu memang belum besar, tetapi cukup menjaga dapur produksi tetap menyala.

Di sisi lain, Ketua Koperasi Bangun Bersama TBIG, Nanang Tri Purwanto, mengatakan koperasi yang menaungi lebih dari 20 perajin batik Pekalongan tersebut memang dibangun untuk menjawab persoalan klasik yang selama ini dihadapi para pembatik, yakni perputaran modal dan akses pasar.

Sebelum bergabung, setiap karya perajin melalui proses kurasi agar kualitasnya sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Kami bukan memberikan pinjaman yang harus dicicil. Perajin tetap fokus memproduksi batik, sementara koperasi membeli hasil produksinya sehingga modal mereka terus berputar,” jelas Nanang.

Tak berhenti sebagai offtaker, koperasi juga membuka jalur pemasaran ke butik-butik di Yogyakarta, Surabaya hingga berbagai kanal penjualan daring.

Harapannya sederhana, para pembatik bisa lebih tenang menciptakan karya tanpa dihantui pertanyaan yang selalu muncul setelah batik selesai dibuat, yakni setelah ini akan dijual ke mana?

Bagi Mahmudi dan Eni, pertanyaan itu masih terus menemani setiap hari. Mereka percaya kreativitas akan selalu lahir dari pranggok sederhana. Tetapi kreativitas saja tidak cukup. Tanpa pasar yang terus bergerak, tanpa kepastian pembeli, bahkan batik terbaik pun bisa berakhir hanya tergantung di dinding rumah.

Di balik noda malam yang menghitam di pranggok kecil itu, sesungguhnya tersimpan kisah tentang ketekunan, inovasi dan perjuangan menjaga agar warisan batik Pekalongan tetap hidup, bukan hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai sumber penghidupan bagi mereka yang setia menciptakannya.

Penulis : Achmad Udin

Editor : MAD

Follow WhatsApp Channel kanalplus.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mahasiswi Pekalongan Ciptakan Motif Batik Karhutla Kalimantan sebagai Media Kritik dan Pesan Moral
Suku-Suku yang Masih Memilih Terisolasi dari Peradaban
Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren
Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum
Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan
Angkat Jadi Anak Asuh, Kapolres Ungkap Kronologi Temuan Bayi di Pinggir Jalan Terminal Pekalongan
Ribuan Warga Bantarbolang Pemalang Padati Jalan Provinsi Antar Kepala Desa ke Makam, Sosok Sukandar Tinggalkan Jejak di Hati Masyarakat
Hampir 35 Tahun Menghidupkan Koperasi, Prof Ahmad Subagyo Akhirnya Dipilih Jadi Tokoh Perkoperasian Jawa Tengah

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 06:35 WIB

Mahasiswi Pekalongan Ciptakan Motif Batik Karhutla Kalimantan sebagai Media Kritik dan Pesan Moral

Minggu, 18 Oktober 2026 - 06:10 WIB

Suku-Suku yang Masih Memilih Terisolasi dari Peradaban

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 09:53 WIB

Kisah Zaenal Mutaqin, Gen Z Kota Pekalongan yang Pilih Jadi Petani Karena Keren

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Lima Tahun Sawah Mati Diterjang Rob, Ahmad Sinang Kembali Bertani dan Kini Bisa Tersenyum

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Cerita Panjang Kain Merah Putih di Kayugeritan Pekalongan Menyusut tapi Semangat Pemuda Tak Ikut Surut Meramaikan Hari Kemerdekaan

Berita Terbaru