KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Di tengah menjamurnya kedai kopi dengan beragam konsep, sebuah rumah tua di Jalan Merdeka, gang 8 Keraton Kidul, Kota Pekalongan memilih mempertahankan wajah lamanya. Dinding kusam, ornamen kayu, pintu-pintu lawas hingga struktur bangunan yang diperkirakan berasal dari awal 1900-an tidak banyak diubah.
Rumah itu kini dikenal sebagai Bumi Suja, sebuah kedai kopi yang memadukan usaha roastery, menu rumahan, ruang baca serta tempat berkumpul bagi komunitas.
Pemilik Bumi Suja, Rizky Robbani (33) mengatakan usaha tersebut berawal dari kegiatannya mengolah kopi pada 2016. Saat itu, ia belum membuka coffee shop, melainkan menjalankan roastery dan menjual kopi bubuk maupun biji kopi kepada teman-teman yang berjualan kopi jalanan.
“Jadi awalnya bukan coffee shop, tetapi roastery kopi. Kami jual kopi bubuk dan menawarkan biji kopi kepada teman-teman yang jualan kopi street,” kata Rizky saat disambangi kanalplus.id, Sabtu (4/7/2026) malam.
Bumi Suja mulai membuka kedai kopi pada 2021, setelah pandemi Covid-19. Lokasi pertamanya berada di kawasan Kauman dan menempati bangunan sewa hingga 2024.
Pada akhir 2023, Rizky mendapatkan bangunan rumah tua yang kini ditempati Bumi Suja. Setelah melakukan renovasi ringan, kedai tersebut mulai beroperasi di lokasi baru pada 2024.
Alih-alih mengubah total bangunan, Rizky dan tim memilih mempertahankan karakter rumah lama tersebut. Mereka hanya membersihkan cat lama dan melapisi dinding dengan pernis agar tidak berdebu.
“Semua masih kami pertahankan. Kami hanya mengerok cat-cat lama. Biar kesan kunonya tetap dapat,” ujarnya.
Menurut Rizky, rumah tersebut telah berpindah tangan hingga generasi keenam atau ketujuh dalam keluarga pemilik sebelumnya. Ia memperkirakan bangunan itu berasal dari awal abad ke-20.
Konsep Bumi Suja sendiri lahir dari fungsi awal bangunan yang memang disiapkan sebagai tempat produksi kopi. Namun, ruang yang cukup luas dan suasana rumah yang nyaman membuat tempat itu akhirnya dikembangkan menjadi kedai kopi.
“Awalnya tempat ini untuk produksi dan roastery. Tetapi kami melihat tempatnya juga nyaman untuk ngopi dan bersantai. Akhirnya kami buka kafe, menyediakan makanan dan minuman, lalu berkembang seperti sekarang,” jelasnya.
Nama Bumi Suja memiliki arti tersendiri. ‘Bumi’ dimaknai sebagai rumah, sementara ‘Suja’ merupakan singkatan dari Sunda-Jawa. Rizky yang berasal dari Jawa membangun usaha itu bersama rekannya yang berlatar belakang Sunda.
“Kami ingin tempat ini menjadi rumah yang nyaman, terutama untuk teman-teman komunitas yang ingin belajar, berbagi, dan berproses bersama,” tutur Rizky.
Tidak hanya menyajikan kopi, Bumi Suja juga menawarkan menu makanan rumahan. Pilihannya mulai dari telur dadar, telur ceplok sambal matah, omelet, aneka olahan ayam, hingga ayam panggang dan garang asem ayam.
Rizky menyebut seluruh menu diolah dengan bumbu rumahan dan diupayakan tanpa bahan pengawet maupun bahan tambahan berisiko.
“Konsep makanannya seperti masakan rumah. Kami ingin orang yang datang merasa seperti makan masakan orang tua di rumah,” ujarnya.
Untuk minuman, Bumi Suja menyediakan kopi hasil produksi sendiri, selain minuman non kopi seperti milkshake dan jus. Bahan kopi diperoleh langsung dari petani, mulai dari kopi grade satu hingga specialty coffee.
Meski menawarkan kopi hasil olahan sendiri, harga menu di Bumi Suja dibuat terjangkau. Harga makanan dan minuman berada pada kisaran Rp10 ribu hingga Rp35 ribu.
“Kami tidak menjual menu di atas Rp35 ribu. Karena kopi kami produksi sendiri, kami bisa menjaga harga tetap lebih terjangkau,” terang Rizky.
Sambutan pengunjung, menurut dia, cukup positif. Promosi Bumi Suja banyak berkembang secara organik melalui unggahan pelanggan di media sosial, terutama TikTok dan Instagram.
“Dulu istilahnya getok tular dari mulut ke mulut. Sekarang getok tularnya lewat media sosial. Ada yang datang, membuat video, mengunggah, lalu orang lain melihat dan ikut datang,” tukasnya.
Bagi sebagian pengunjung, Bumi Suja menjadi pilihan karena letaknya berada di dalam gang dan jauh dari kebisingan lalu lintas jalan utama. Suasana yang tenang membuat tempat tersebut kerap dipilih untuk berbincang santai, mengerjakan tugas, membaca maupun berkumpul bersama komunitas.
“Kami memang ingin suasananya seperti bertamu ke rumah teman atau rumah nenek. Tidak ramai, lebih intim dan orang bisa ngobrol tanpa banyak gangguan,” papar Rizky.
Kedai itu juga menyediakan koleksi buku yang sebagian berasal dari koleksi pribadi dan sumbangan komunitas. Sejumlah mahasiswa kerap memanfaatkan buku-buku tersebut sebagai bahan bacaan maupun referensi saat mengerjakan tugas.
Selain ruang baca, fasilitas yang tersedia meliputi Wi-Fi, banyak titik colokan listrik, musala, dua toilet serta area parkir. Bangunan tersebut juga memiliki beberapa ruang yang dimanfaatkan sebagai area roastery, ruang duduk, hingga tempat pertemuan kecil.
Dalam kondisi reguler, Bumi Suja dapat menampung sekitar 100 pengunjung. Sementara saat menggelar acara tanpa banyak kursi, seperti nonton bareng film, kapasitasnya bisa mencapai sekitar 150 orang.
“Kalau reguler sekitar 100 orang. Kalau acara seperti nobar dan ruangannya dibuat lebih lega, bisa sampai 150 orang,” jelasnya.
Bumi Suja buka setiap hari mulai sekitar pukul 07.30 atau 08.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB. Pemesanan makanan berat ditutup pukul 23.00 WIB, sedangkan pemesanan minuman kopi ditutup menjelang tengah malam.
Meski ruang utama ditutup pada pukul 00.00 WIB, area luar ruangan masih dapat digunakan pengunjung yang ingin melanjutkan obrolan. Bagi Rizky, Bumi Suja bukan sekadar tempat menjual kopi, tetapi rumah yang diharapkan terus hidup sebagai ruang pertemuan banyak orang.
“Rumah itu bisa menjadi tempat belajar, sharing dan tempat pulang. Itu yang ingin kami bangun di Bumi Suja,” pungkasnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













