BATANG, KANALPLUS.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan ancaman musim kemarau tahun ini. Meski hingga pertengahan Juli belum terjadi krisis air bersih, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak kemarau baru akan terjadi pada Agustus dan berpotensi menjadi awal dari musim kering yang lebih berat pada 2027.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Batang Wawan Nurdiansyah mengatakan istilah ‘Godzilla’ yang digunakan BMKG bukan sekadar istilah populer, melainkan ilustrasi untuk menggambarkan musim kemarau yang diperkirakan lebih panas dan ekstrem dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Hasil paparan BMKG bersama BPBD se-Jawa Tengah menyebut puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Kondisi yang dirasakan masyarakat sekarang ini baru tahap awal,” katanya, Sabtu (11/7/2026).
Menurut Wawan, yang perlu diwaspadai bukan hanya kemarau tahun ini. BMKG juga memprediksi musim kering 2026 akan menjadi transisi menuju kondisi yang lebih berat pada 2027 karena curah hujan diperkirakan lebih rendah sehingga cadangan air tanah ikut berkurang.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar menjaga kawasan hutan, terutama di wilayah selatan Kabupaten Batang yang selama ini berfungsi sebagai daerah resapan air.
“Hutan yang masih terjaga menjadi salah satu alasan Kabupaten Batang sampai sekarang belum mengalami krisis air bersih. Jangan sampai pembukaan lahan pertanian justru mengurangi kawasan hutan yang menjadi penyimpan cadangan air,” ujarnya.
Hingga saat ini, BPBD mencatat belum ada laporan kekeringan maupun krisis air bersih dari seluruh 15 kecamatan di Kabupaten Batang. Namun, kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat pengalaman musim kemarau 2024 yang menyebabkan sejumlah wilayah membutuhkan pasokan air bersih.
Wilayah seperti Limpung, Bandar, Wonotunggal, Subah, Kandeman, Warungasem, Batang hingga Pecalungan saat itu sempat mendapat distribusi air bersih dari BPBD.
Untuk menghadapi potensi kondisi serupa, BPBD telah menyiapkan armada distribusi air bersih dan memperkuat koordinasi dengan Perumda Air Minum (PDAM) serta Palang Merah Indonesia (PMI). Bantuan air bersih akan diberikan secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sementara itu, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan memastikan pemerintah daerah mulai melakukan berbagai langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan.
“Sekarang kami sedang melakukan kajian dan rapat koordinasi. Kami menyiapkan tangki bersama PDAM agar saat ada kekeringan bisa cepat ditangani. Kami juga sedang memetakan jumlah mobil yang siap diterjunkan,” terangnya.
Faiz menambahkan, pembahasan teknis akan dimatangkan dalam rapat lanjutan pekan depan. Meski demikian, hingga kini pemerintah daerah belum menerima laporan adanya wilayah yang mengalami kekeringan.
“Belum ada laporan sampai sekarang,” tegasnya.
Pemkab Batang berharap langkah antisipasi yang dilakukan sejak dini dapat meminimalkan dampak musim kemarau ekstrem apabila prediksi BMKG benar-benar terjadi. Pemerintah juga mengajak masyarakat ikut menjaga lingkungan, terutama kawasan hutan, sebagai upaya mempertahankan ketersediaan sumber air saat musim kemarau.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD













