KOTA PEKALONGAN, KANALPLUS.ID – Bank Indonesia (BI) Tegal tidak lagi memandang festival budaya sebatas agenda seremonial. Berbagai kegiatan budaya dan komunitas kini diubah menjadi instrumen untuk menggerakkan ekonomi masyarakat, meningkatkan kunjungan wisata, sekaligus memperkenalkan produk unggulan daerah di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.
Kepala Perwakilan BI Tegal mengatakan, strategi tersebut menjadi salah satu cara memperkuat ekonomi daerah di tengah ketidakpastian ekonomi global. Melalui pendekatan berbasis budaya, perputaran uang di daerah diharapkan meningkat karena melibatkan sektor transportasi, kuliner, perdagangan hingga UMKM.
“Kami ingin budaya lokal menjadi daya tarik wisata. Ketika wisatawan datang, mereka menggunakan transportasi, makan, membeli oleh-oleh, dan itu yang menggerakkan ekonomi,” ujarnya.
Salah satu contoh yang dinilai berhasil adalah penyelenggaraan Festival Bubur Suro di Kota Pekalongan. BI Tegal bersama berbagai pihak mengemas festival tersebut lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya sehingga mampu menarik lebih banyak pengunjung.
Tak hanya menghadirkan kirab budaya, festival tersebut juga dipadukan dengan berbagai kegiatan komunitas, termasuk lomba burung berkicau atau Kicau Mania yang hasil biaya pendaftarannya disalurkan sebagai wakaf produktif.
Menurut Kepala BI Tegal, konsep tersebut berhasil menghimpun dana wakaf hingga mencapai Rp71 juta, yang selanjutnya dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya benih salak.
“Yang menarik, biaya pendaftaran komunitas Kicau Mania langsung disalurkan untuk wakaf. Respons komunitas sangat baik dan hasilnya mencapai Rp71 juta,” katanya.
Dana tersebut akan digunakan untuk memperbanyak benih salak yang selama ini masih terbatas sehingga diharapkan mampu meningkatkan produksi dan pendapatan petani.
Selain festival budaya, BI Tegal juga mendorong promosi wisata kuliner melalui program nasional QRIS Jelajah Indonesia yang tahun ini mengangkat tema kuliner.
Melalui program tersebut, berbagai kuliner legendaris dari Kota Pekalongan, Kota Tegal, dan Kabupaten Brebes dipromosikan secara masif melalui media sosial sekaligus mendorong masyarakat menggunakan transaksi digital berbasis QRIS.
“Kami ingin sektor kuliner ikut naik kelas. Harapannya kuliner-kuliner dari wilayah kerja kami bisa masuk final tingkat nasional sehingga mendapatkan pembinaan lebih lanjut,” ujarnya.
Upaya menggerakkan ekonomi kreatif juga dilakukan melalui pembinaan perajin batik. BI Tegal menggandeng maestro batik Dudung Alisyahbana untuk memberikan pelatihan kepada kelompok-kelompok pembatik skala kecil, mulai dari desain motif, teknik pewarnaan hingga pengembangan produk.
Tak hanya itu, BI Tegal juga tengah mencari potensi pembatik artisan di Kabupaten Batang agar batik khas daerah tersebut semakin dikenal dan mampu mendukung sektor pariwisata.
“Kami ingin potensi setiap daerah berkembang. Mulai dari pertanian, kopi, batik, hingga kuliner semuanya memiliki peluang menjadi penggerak ekonomi,” katanya.
Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dan Bank Indonesia. Kolaborasi dengan komunitas, media, pelaku usaha hingga masyarakat menjadi kunci agar potensi lokal semakin dikenal luas.
“Kami mengajak semua pihak ikut mempromosikan potensi daerah. Semakin banyak orang datang dan mengenal daerah ini, maka ekonomi masyarakat juga akan semakin bergerak,” tukasnya.
Penulis : Achmad Udin
Editor : MAD












